Inside My Bag

monicantik-bag.jpg

What’s inside my bag? Voila, here’s a sneak peek!

Gadgets:

  • 11″ Macbook Air which I believe is one of the best laptops ever.
  • my Blackberry: which I mainly use for work related purposes and because of that the battery life is great (I can go for 2 days without charging!)
  • my other phone which I’ve used to take this picture (Samsung S4 which I mainly use for Whatsapp, which is not installed on my BB, LINE, Path, and browsing)
  • pink Philips earphones
  • chargers (not pictured) both for the Mac and the phones. I should get a power bank soon.

Stationery:

  • A clear holder folder to hold all sorts of documents (banyakan disposisi, maklum, abdi negara hehe)
  • my Snoopy Moleskine monthly agenda. Moleskine agendas are awesome. Great design, light paper.
  • my Paris notebook for taking notes in meetings.
  • a Bic pastel color pen (I color code when I take notes. Black ink is boring.)
  • Stabilo pink lighter. Mandatory to light out documents from le boss!
  • I also usually carry a book everywhere but since I’m currently reading an eBook there aren’t any books in my bag ;)

Cosmetics and Toiletries:

  • MAC pressed powder: it’s great but I have to admit, Bobbi Brown’s luminous compact foundation is still much better.
  • Lancome lipstick.
  • hand sanitizer
  • Benefit They’re Real mascara. Best mascara ever!!
  • Cashmere scent mini bottle of body lotion
  • oil blotting face paper

The Mandatory Stuff

  • my office ID card
  • my Celebrity Fitness gym card
  • my Bally wallet. I like big wallets.
  • my little pink Elephant pocket for change and small cash bills.
  • TicTacs!
  • my red rosary beads. I have this weird habit of bringing rosary beads everywhere in my bag.
  • a hair brush which my friend Vania says looks like a Paramecium organism -__-
  • my brown Dsquared glasses. Had them for 2 years now…
  • a handkerchief: my mother always says a lady must always have a handkerchief at hand
  • my pink Starbucks tumbler. I stashed a bag of Japanese green tea leaves at work so every morning I make myself hot green tea and put it in my tumbler.
  • my black glittery Mango umbrella with studs on the handle (not pictured). I have a thing for black umbrellas.

I guess that’s it. I try my best to keep my bag nice and tidy and make sure each item has a clear function. Toodles!

Memutihkan Badan dengan Sabun Kojie San

I’m back! Kali ini gue kembali menulis review produk kecantikan yah, kali ini sabun batang pemutih keluaran Filipina, Kojie San.

Kojie San

Kojie San di salah satu supermarket di area Bintaro (harga Mei 2014)

Beberapa bulan terakhir sepulang dari tamasya di pantai kulit gue gosooonnnng. Gue termasuk cewek yang suka punya kulit cerah (karena entah kenapa warna kulit gue yang versi gelap itu jatohnya dekil bukan eksotis haha) jadi gue termasuk yang gemar membeli produk pemutih mulai dari sabun, lotion, dan lulur yang ada embel-embel whitening, lightening, white AHA, you name it! Nah pada suatu hari gue lagi killing time melihat-lihat di Guardian, mata gue tertarik pada sabun Kojie San. Waktu itu gue belum pernah denger tentang Kojie San, jadi kontan gue langsung Googling di tempat (terima kasih teknologi) dan menemukan review-review oke tentang sabun ini. Akhirnya gue beli, satu yang biasa (yang kotak putih polos, di foto di atas yang paling kiri) dan satu yang pepaya (yang di kanan).

Bahan aktif Kojie San = Kojic Acid

Seperti yang tertera di deskripsi produknya: Kojic acid ditemukan di Jepang. Kojic acid itu produk sampingan dari Koji atau Malted Rice, yang digunakan dalam produksi rice wine Jepang. Dalam kosmetik, Kojic Acid dikenal dengan khasiatnya dalam memutihkan kulit dan khasiat antioksidannya. Formula kojic acid dalam Kojie San membantu mencerahkan penggelapan di kulit karena jerawat, penuaan, terpapar matahari, atau pigmentasi kulit lainnya.

Hasilnya?

Gue udah sebulan menggunakan sabun Kojie San dengan intensitas pemakaian satu kali sehari (gue pakai untuk mandi sore sepulang kerja).

  • Kulit memang putihan. Apalagi di bagian-bagian yang memang tertutup pakaian dan nggak kena cahaya matahari. (Dengan catatan, gue memang sehari-hari beraktivitas di dalam ruangan dan sering menggunakan pakaian lengan panjang. Layaknya produk kecantikan pada umumnya, untuk hasil maksimal emang harus dikombinasikan dengan produk lain dan perubahan kebiasaan misalnya kombinasi dengan lotion pemutih dan tabir surya, sebisa mungkin jangan kena matahari dengan memakai baju lengan panjang atau ekstrimnya pakai payung haha, ya atur-atur aja lah sob.)
  • Mandi jadi lebih menyenangkan! Ini subjektif sih ya (hahaha). Gue suka mandi kalau busanya banyak dan wangi. Kojie San pepaya wanginya enaaakkk banget. Gue jadi super semangat gitu kalau mau mandi haha.
  • Gue nggak ngerti apa emang karena sabun ini rada keras jadinya abis mandi kulit memang rada kering (gue baca di review lain ini menjadi pengalaman umum orang-orang). Jadi abis mandi langsung aja pakai lotion atau body butter. Lagian enak juga kan sob, abis mandi udah bersih, wangi, langsung lotion-an…beudeuh siap tidur deh. Haha.
  • Gue memang nggak pakai Kojie San di muka sih (karena untuk muka gue udah sangat cocok pake sabun batang Acne Aid) jadi silahkan coba sendiri ya. Kalau dari beberapa review orang yang makenya emang double: buat muke dan badan, katanya di awal emang jerawatan di beberapa minggu pertama tapi abis itu mulus lagi. Try at your own risk folks!

Kesimpulannya? I’m hooked!

I’m hooked! Sekarang gue menjadi pemakai tetap Kojie San dan untungnya sabun ini nggak terlalu susah dicari, tapi jelilah membandingkan harga karena selisih antara beberapa toko lumayan juga loh! Haha. Semoga dengan pemakaian jangka panjang makin cerah yah (karena dari review gue baca untuk hasil dramatis memang butuh waktu lama sih).

 

God Be With You Bang Firman

I was in a taxi on the way to Grand Indonesia to watch UKSU ITB’s performance in Galeri Indonesia Kaya on Saturday when one of my best friends from college, Elsa, who currently works in Malaysia as an employee at Schlumberger sent me a message via Whatsapp. She said she was still shaking because one of the passengers in the missing Malaysia Airlines (MH370) airplane was Firman Chandra Siregar, a friend I’ve known from my second year in college (2010). The message shocked me and I instantly broke into tears.

nama Bang Firman di artikel di AP.org

nama Bang Firman di artikel ‘Behind Jet’s Passenger List is Rich Human Tapestry’ di Associated Press

Bang Firman ini, isn’t just another kakak kelas or senior. Bang Firman itu senior 2 tahun di atas gue, dia jurusan Teknik Tenaga Listrik angkatan 2007 (atau sebutannya anak Power atau Aroes Koeat is how they also call it) sementara gue angkatan 2009. Kita sama-sama bergabung di unit kegiatan UKSU ITB, pas gue masuk sebagai anak baru, Bang Firman ini posisinya sebagai Swasta (istilah anak ITB yang artinya mahasiswa stres tingkat akhir). We share a mutual friend, Bang Rainhard, temen deket dan sejurusan dia yang udah gue kenal sebelumnya dari organisasi lain, ITB Student Orchestra. I knew Bang Firman from him. Bisa dibilang dari semua senior di UKSU, Bang Firman ini adalah salah satu yang paling dekat. Dari jaman-jaman osjur (ospek jurusan di tingkat 2 kuliah, tahun 2010), we exchanged messages almost on a daily basis. Honestly, I actually looked forward to exchanging messages with him because he had a weird way of responding to things. Meski seiring berjalannya waktu frekuensinya menurun dan sempat vakum pas gue tingkat akhir, it rekindled after I graduated although with less frequency. Nevertheless it felt good to be talking to him again because Bang Firman ini orangnya rada random, suka tiba-tiba out of nowhere nanya udah nonton film apa belom, atau ngasih link video cover lagu di Youtube. Nggak pernah nanya the classic dull question ‘lagi apa’. Our conversations were light, casual. He always brought up something weird: entah film, pertunjukan live seorang artis di Superbowl, cover lagu Boyce Avenue, video clip Marry Your Daughter, link video-video sedih, link artikel ‘Ayah Akhirnya Aku Menikah’, nyapa random, Rhoma Irama jadi presiden atau apalah, macem-macem. (He has a great movie taste. Knowing the unyu-unyu romantic comedy movie fan I am compared to his high-rated IMDB movie taste, he gave me a list of movies I should watch.) Despite the casual nature of the conversations, Bang Firman also had a tendency of adding a hint of wisdom here and there. For instance, pernah gue waktu itu curcol ke dia tentang how timing can be so annoying sometimes. Terus dia randomly out of nowhere nanya kapan gue mau nikah, dan gue sok-sokan jawab 2/3 tahun lagi (padahal pasangan aja kagak punya) dan akhirnya ngasi sedikit wejangan ala-ala Bang Firman gitu deh.

monicantik - 1 - fcs

Waktu masa habis lulus gue sempet galau masa depan saat lagi proses persiapan aplikasi graduate school, dia mendukung dan malah suggest gue jadi dosen, malah pernah juga suatu hari dia cerita ke gue kalau dia pengen jadi dosen. Hah jadi dosen? Bang Firman ini udah pernah kerja di perusahaan oilfield services yang lain, dan sempat juga kerja di Abu Dhabi. That’s why gue sedikit kaget ketika tau dia satu batch dengan teman-teman gue yang juga kerja di Schlumberger dan ditempatin di luar negeri (sebutannya IM), ada yang ke Meksiko, Malaysia, dan ke Norway. Bang Firman ini dapetnya di Cina.

cpns-1

Screen Shot 2014-03-10 at 10.32.46 AM

Screen Shot 2014-03-10 at 10.32.56 AM

Jadi inget, waktu gue lagi proses CPNS, ngapal-ngapal pancasila, dia ngeledek-ledek pas gue lagi belajar dan nanya-nanya hasilnya.

esdmm

Of all the conversations, di bawah ini cuplikan convo yang cukup bermakna buat gue, di mana Bang Firman berpesan gue berdoa dan suggested gue renungan harian setiap pagi.

2

3

4567

8

This is the second time one of my friends have gone missing, setelah sebelumnya sahabat deket gue, Fanka, hilang 2 tahun lalu dan ironically di masa itu Bang Firman juga sempet ngehibur, dan sekarang kenapa malah Bang Firman yang hilang :”( . As simple as our conversations may seem, the weird friendship I had with Bang Firman is one I actually enjoyed and was a pretty significant part in my college life. His presence, his random hello’s, his random gestures of sending songs and videos, were things I’ve grown to get used to. Acknowledging the bitter reality that he is now a victim in perhaps one of the most saddening tragedies in aircraft history is truly heartbreaking. Pilu banget liat orang tua Bang Firman nangis-nangis tadi disiarin di TV. Bang Firman itu anak bungsu, I can’t imagine how deeply saddened his family must be.

Mamanya Bang Firman di-feature oleh Instagram Time Magazine

Mamanya Bang Firman di-feature oleh Instagram Time Magazine

Bang Firman, wherever you are right now, Tuhan besertamu, God be with you. My prayers are with you and your family. Semoga Roh Kudus menerangi jalan lo Bang, semoga segera ditemukan. Lights will guide you home.

2014 So Far

It’s been a while since I blogged. Well here’s how my life has rolled lately.

Moved Out of Bandung….to the Land of Traffic Jams

I have officially moved out from the comfort of my housing room! It was bittersweet, obviously. It took 3 trips,bolak balik and a lot of containers…it wasn’t as emotional as I thought it would be. Perhaps it was because the city has ran out of people. A huge part of what makes Bandung so…Bandung is the people. So since mostly everybody has done their share of moving out, my move out experience was pretty much an errand. So here I am in Jakarta where a 5 minute departure time difference can result in a 1 hour arrival time difference. Even as an original Jakartan that has been away for the last 4 years, moving back needed an adjustment. Di awal-awal manja sih kemana-mana naik taxi. But after doing some serious calculation on how much I can save by humbly taking buses instead of taxies, I finally toughened up and readapted to using the buses. Phew!

Selfie edisi ibukota: pake masker. Gue super nggak tahan sama bau Transjakarta sama bau asep.

Selfie edisi ibukota: pake masker. Gue super nggak tahan sama bau Transjakarta sama bau asep.

Got a Job..and patiently waiting to start

my big announcement

my big announcement

Never have I planned or even imagined that I would make a bold move to enter the public sector directly after graduating. Like, hello? It’s an anti-mainstream move, considering the popular decision of the majority of my fellow ITB fresh grads to enter the private sector, especially in oil and gas and FMCG companies (I was actually in the selection process of both types of companies). Like, kalau ketemu dosen dan ditanya kerja dimana dan gue jawab seadanya, they respond “Oh, PNS?” with a weird chuckle and a look implying all sorts of stuff. This decision has sparked a variety of reactions from my friends and family. Ada yang bilang, ngapain, sayang orang kayak Monik jadi PNS tapi ada juga, bagus Mon, emang butuh orang-orang kayak lo. One of the sweetest responses came from a good friend of mine, Ilham.

unch

unch

So I guess responses like this are confidence boosters. Along the whole entrance process, the farther I proceeded, the more I wanted the position. I am an intuitive person, and I had a hunch that this is it. Ini ladang lo, Mon. So I hope my gut is right again this time (my gut has never mislead me). Sampai sekarang sih belum masuk kerja (padahal udah lebih dari 1 bulan diumumin). So here I am staying at home and becoming a gym rat and avid movie watcher to kill time. As a 22 year old who hasn’t worked a real, serious 9 to 5 job (kerja praktek dan proyekan di kampus doesn’t cut as a serious job to me) I am anxiously anticipating my first day. :-D

Got a Dog

my wiener doggy

my dog, Cappucino

My family never had a dog. Ever. So Cinno is our 1st dog. He’s a dachshund. Gemes banget. Nambah kerjaan sih, ya jelas lah ya tapi karena sayang, jadi nggak berasa beban. Aww. Apalagi kalau liat muke melasnya. Unch, gemesh. I believe Cinno has made a positive contribution of keeping me sane these past few weeks. Nganggur sucks. And ngurusin Cinno has been a nice activity. And yes, that includes scooping his poop. And wiping his butt after he poops with antiseptic wet tissues. And giving him baths. All is good.

Ran My First 5K

Jadi di hari-hari terakhir di Bandung, I picked up a new activity: running. Aslinya….I hate running. Like super duper hate running, apalagi di track lari Saraga karena berasa monoton dan capek. I mean, I can handle an hour on a cardio machine/elliptical trainer, but running on a track? Heck no. One day, temen gue ngajakin ke acara Trail Running yang diadain Outlive di Ujung Kulon. Acaranya menawarkan lari Coast to Coast trail running. It was a cheap getaway, dan komitmen waktunya cukup enak, cuma 2 hari di Sabtu Minggu, ke pantai, dan ketemu orang baru. So, why not? It was fun!! Sejak itu gue juga nyoba trail running sama beberapa temen IndoRunners Bandung di perkebunan teh di area Lembang. Ever since, I started to enjoy running. Not because it was a trend, but a huge part of it was defeating myself. Aside from being a physical exercise, to me it was largely a mental exercise. Sayang sih, gue baru mulai aktivitas itu pas udah mau pindahan dari Bandung. Di Bintaro ada juga komunitas lari, gue udah join (baru di Facebook tapi..) and I plan to run with them soon! So far sih baru lari-lari sendiri aja, sama mencoba event lari….Glow Run Jakarta.

So a real bummer to start off 2014 is not getting a ticket for Color Run Indonesia. Kehabisan coy! Lalu, semesta berkonspirasi. Gue melihat di Path temen ada yang komen bakal diadain Glow Run. My fingers immediately typed Glow Run Jakarta in Google dan voila ternyata Yamaha ngadain lomba lari Glow Run di beberapa kota! Tanpa nyari temen dulu, gue langsung daftar (kapok kehabisan). And to my surprise, harganya cukup murah dibandingkan Color Run yang harganya sekitar 200 ribuan, Glow Run cuma 50 ribu uang registrasinya, udah dapet kaos lengan buntung sama glow stick (tapi nggak dapet medali finisher sih semuanya…terbatas huft). Tadinya rencananya mau pergi sama sepupu (soalnya udah ngepost di grup-grup angkatan, nggak ada yang mau karena jauh ke Summarecon, dan emang bener, gue yang dari Bintaro aja merasa itu jauuuuuh banget), but she bailed so I ended up running on my own (good thing I don’t have any ‘harus ditemenin’ issues). Gue yang Glow Run, nyokap gue yang heboh, ikutan sampai starting point dan foto-fotoin. Di saat rombongan lain fefotoan rame-rame, gue sendirian difotoin Mama tercinta. :3 hahahaha, kayak bocah. Yasudahlah. It was fun! Lokasinya di Summarecon Mall Serpong, jadi larinya sekitar situ. Mayoritas yang ikut Glow Run anak-anak muda ABG (yang lari pake hot pants dan eyeliner….mau rave party apa lari, Mbak?). Di beberapa titik jalur lari ada beberapa yang berkostum hantu dan nakut-nakutin. It was fun! Recommended banget sih buat acara bonding, apalagi buat anak kuliahan.

running in Glow Run Jakarta

running in Glow Run Jakarta

Here’s to 2013: the Most Epic Year Yet

HNMUN, CPDC, RFEC, wisuda Juli, kompre camp, kepergian Ambo Ina dan Mama Tua, secret getaway to Bali, enigma, SB, GRE, menang Scoopy, getting a (temporary) tattoo, are just flashbacks that can give a glimpse of how crazy this one hell of a year has been. I can not help wonder, marvel, and shake my head just reminiscing 2013. This year has been a mix of everything: loss, achievements, joy, blessings, travel, heartbreak, flings, low points, high points, celebrations, funerals, and revelation. It is just startling to see how quick time flies! Here’s my personal review of 2013.

Loss

Tahun ini diawali dengan meninggalnya namboru kesayangan gue (dan kesayangan satu keluarga), Ambo Ina dan selang beberapa minggu diikuti dengan meninggalnya Mama Tua Gorat. Kebetulan, mereka ini tinggalnya di dekat rumah, and what I mean by close, is like a 5 minute walk. Ambo dan Mama Tua ini seperti ibu kedua dan ketiga dan kepergian mereka benar-benar meninggalkan luka mendalam, tidak hanya bagi gue tapi juga buat sekeluarga (pihak bokap) bagi keluarga karena merekalah tokoh-tokoh motor penggerak kumpul-kumpul, yang bikin ramai acara, yang baik hati dan dikerubungi anak-anak sampai dengan yang tua, yang ketawanya paling kenceng, dan disayangi semua orang. Personally, kepergian Ambo dan Mama Tua ini sangat membekas pada diri gue karena merekalah yang mendampingi gue dan orang tua saat tragedi 2012, pada saat gue hampir kehilangan adik gue karena stroke. Mereka ada di dalam mobil ketika adik gue sedang dilarikan ke UGD, padahal pada saat itu Ambo lagi menjalani pengobatan untuk penyakit kankernya. Ketika ayah gue histeris, nyokap gue udah agak-agak nggak nyambung karena overwhelmed, dan gue yang bingung antara harus menenangkan Papa atau memegang kendali, Ambo Ina dan Mama Tua ada di situ untuk menenangkan kami, membantu mengurus urusan, memimpin doa, dan memastikan kami makan dan istirahat. Sekian minggu adik gue di ICU RS Dharmais, mereka begitu rajin memastikan kondisi adik dan memastikan keadaan kami semua. Fase itu merupakan fase sulit tahun 2012, ketika orang tua gue bergantian untuk jaga di RS Dharmais, dan gue harus in charge adik gue yang satu lagi yang di rumah. Ambo Ina dan Mama Tua begitu setia doing whatever they could to help. .

Hustle and Bustle

Semester 8 adalah semester ter-GILA selama di ITB, gue memegang tanggung jawab di berbagai tempat dan di penghujung riwayat akademis pula, but thank God I managed to complete everything dan lulus tepat waktu ;) Memegang jabatan Kepala Divisi di Regional Future Energy Challenge 2013, ikut lomba Chemical Product Design Competition, menjadi delegate di Harvard National Model United Nations 2013, belum lagi TA seperti penelitian, rancang pabrik, dan ujian komprehensif………..CRAZY. Tidur larut malam, bangun pagi langsung balas-balas email, rapat, training, nginep di lab, sakit sampe masuk UGD karena muntah pas sibuk ngerun di lab, nginep di kosan temen kelompok rancang pabrik, kumpul di kosan Jekpot buat bikin laporan CPDC, survey venue RFEC, ngurusin alat penelitian ke bengkel, latihan presentasi seminar penelitian lab MP3 (singkatan untuk Laboratorium Metodika Perancangan dan Pengendalian Proses) di kosan Tyas, nginep 2 minggu di kosan Tyas buat belajar untuk ujian komprehensif (ujian penentu lulus/gagal dengan materi 4 tahun kuliah dan bobot 1 SKS), dan pengumuman ujian komprehensif yang hasilnya 100% lulus………..luar biasa banget semester ini. Seneng banget eksekusi hari-H RFEC sukses besar (at least menurut gue dan respons positif orang-orang), penelitian beres tepat waktu dan dapet nilai A, usaha kompre camp di kosan Tyas nggak sia-sia, dan semester ini beres juga!

Achievements

Winning the 5th Chemical Product Design Competition was definitely a highlight of this year. Mendengarkan ‘Institut Teknologi Bandung dengan produk Ocigum’ ketika diumumkan sebagai 1st Winner and being granted the 3M Student Innovator Award was such a blessing! Padahal pas tahap final, gue cukup jiper melihat produk lain yang menjawab tantangan global seperti pencemaran udara, bukan seperti produk gue (sebenarnya menjawab tantangan global juga sih…….) yang menjawab masalah bau badan. Lagi-lagi, tahun ini bucket list ‘Meraih prestasi signifikan dalam ranah keprofesian teknik kimia’ berhasil dicoret, thank God.

menang

hihi :D

Another ‘achievement’ was winning a motorcycle from LINE. At first I thought it was a hoax, but it was impossible LINE Event will send a hoax message. Pada saat gue mendapat LINE tersebut, pas lagi persiapan ujian komprehensif jadi gue cuma nanya ke official Twitter dan Facebook, nggak dapat jawaban terus yaudah gue biarkan saja. The funny thing is, pengumuman resmi daftar pemenang itu pada hari pengumuman gelar Sarjana, dan gue taunya dari Path, ada kakak kelas gue yang ngescreenshot list pemenang motor Scoopy. Reaksi gue: ketawa. Kok bisa pas banget (jadi berasa hadiah kelulusan S1) dan kenapa random banget hahaha. It was funny and I am really happy, thank you LINE, awesome timing, btw! Pengirimannya pun cepat dan gak ribet, so bravo LINE Indonesia!

Secara random memenangkan motor Scoopy dari LINE Indonesia.

Secara random memenangkan motor Scoopy dari LINE Indonesia.


Graduation

Tahun ini adalah tahun gue dapet gelar S.T. After almost 4 bloody years in engineering school, I freaking graduated baby! Graduation Day was so tiring! The hair and make up, parade, attending graduation parties, throwing dinner parties, but it was all worth it!

Syukuran Wisuda Juli 2013 HIMATEK ITB, temanya Espanola :3

syukwis (syukuran wisuda) Juli, temanya latin-latin gitu (syukwis Himatek emang selalu dress up, terutama wisudawannya). Dari semua syukwis di Himatek, ini syukwis favorit, terlepas dari ini syukwis wisudaan gue, karena emang syukwis didesain dengan apik dan dibuat sangat personal untuk wisudawan.

graduation :)

Dikasih mahkota princess sama sahabat-sahabat unyuk aku, Siska dan Melati :)

I LOVE FLOWERS!

Ketika gue menjadi adik kelas yang menjadi kroco-kroco kakak-kakak wisudawan pas wisudaan, temen gue nyeletuk ‘Kepopuleran seseorang itu bisa dilihat pas wisuda dia dapet banyak bunga/hadiah’. Haha, entah deh itu benar atau tidak. Honestly, I didn’t anticipate getting a lot of flowers (apalah aku ini, remah-remah). And yet I did and I am grateful for everyone’s thoughtfulness. Oh, a little clue. I love flowers.


Opportunities

Tahun ini adalah tahun gue aktif di Indonesia Mengglobal sebagai Campus Representative ITB yang pertama. IM adalah organisasi non-mahasiswa pertama gue. Salah satu highlight di IM adalah membuat idea video IM. Pada saat di awal kepengurusan, gue mengusulkan pembuatan video karena kebetulan pada saat gue menjabat posisi itu, gue melakukan perjalanan ke AS. Ide gue mendapat sambutan baik (which meant nambah kerjaan juga sih, haha) dan gue dihubungkan dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang akan menjadi guide dan gue fitur dalam video. Universitas-universitas yang gue liput adalah Harvard, MIT, NYU, Columbia. Seru juga sih bisa kenalan dengan orang-orang itu (I admire people who get accepted in top schools, because it’s something very competitive on a global scale) dan janjian, kenalan, dan ngobrol-ngobrol tentang student life mereka dan kehidupan merantau in general. 

membuat video Indonesia Mengglobal di MIT

membuat video Indonesia Mengglobal di MIT dan diapit anak-anak MIT dari Indonesia: Kevin dan Romy

Opportunity lain adalah ikut HNMUN. Memang selama ini, dari awal masuk ITB (karena lihat spanduk-spanduk di Gerbang Ganesha yang memamerkan orang-orang yang mewakili ITB ke luar negeri entah untuk lomba atau ajang internasional lain) salah satu isi bucket list gue adalah ‘Mewakili ITB dalam ajang internasional‘ dan Puji Tuhan berhasil gue coret tahun ini. Sebenarnya ikut ajang seperti HNMUN ini cukup kontroversial (bahkan ada thread Kaskus yang khusus nge-bash kegiatan ikut MUN internasional) karena dianggap buang-buang duit. Ada anggapan tim HNMUN macam tim gue itu sekumpulan anak-anak orang kaya tukang hura-hura yang bisa bacot bahasa Inggris dan berniat licik untuk nyari sponsor guna jalan-jalan ke luar negeri dengan kedok ikut MUN. Reaksi pertama gue agak kecewa sih ada asumsi serendah itu, but then again ya diomongin yang jelek-jelek itu gak bisa dihindari sih ya, everyone is entitled to their own opinon. Well here’s mine, bagi gue MUN was an amazing learning experience, bahkan dari awal seleksi intra ITB untuk jadi tim delegasi sampai selesai konferensi di Boston. Segala pembelajaran di MUN, trik-trik bernegosiasi, menangani kalau ide dicuri, trik-trik kalau di-backstab, cara smooth memanipulasi untuk meyakinkan orang lain, rasanya agak sulit didapatkan dari dalam kelas, apalagi buat anak teknik yang sehari-harinya di lab atau ngitung laju alir dalam pipa. Bekerja dengan orang-orang social sciences, merasa bedanya orang teknik dan orang social sciences, kerja interdisipliner, dan diekspos dengan karakter dari berbagai dunia, orang-orang super ambisius, orang-orang laid back, delegate yang ampun deh apa banget (bermulut manis tapi ternyata berbisa) dalam kondisi kompetitif itu experience that I greatly learned from. So, to me MUN was not merely the trip abroad. Selain dari MUN-nya sendiri, gue bisa dapet sekumpulan temen yang asik-asik (ada juga yang dapet pacar…..) dan keren-keren prestasinya di luar MUN (banyak banget mapres dari anak GMUN). Lewat MUN gue bisa kenal dan berkesempatan ngobrol dengan orang-orang menginspirasi seperti Veronica Colondam, a generous sponsor to our team and a very moving inspiration booster, dan Mbak Sidrotun Naim, our gracious host in Boston yang menjamu kami dengan begitu hangat (sampai 2 kali loh!), mengisi perut dengan masakan Indonesia dan membekali kami dengan cemilan untuk di jalan.

di suatu taman di Boston, pada hari pertama kita jalan-jalan keliling naik bus

di suatu taman di Boston, pada hari pertama kita jalan-jalan keliling naik bus ditemani Om Hanan, sahabat bokap gue yang saat itu menjadi visiting scholar di Harvard Kennedy School


Travel

This year’s Bali and US trip was simply freaking awesome. Travelling abroad rame-rame sama temen kuliah itu once in a lifetime experience and I am thankful I got that this year! Setelah persiapan selama sekitar 8 bulan untuk Harvard National Model United Nations (HNMUN), akhirnya kami pun berangkat naik pesawat Etihad jurusan Jakarta-Abu Dhabi-New York City. Sebenarnya aslinya tripnya hanya sekitar 12 hari, tapi karena gue pengen ngunjungin namboru gue di New Jersey sambil liat-liat sekolah, gue extend jadi total-total gue pergi selama 3 minggu.  Oh, and not to mention travelling with friends was fun and crazy. There was a time where the team just knocked my socks off and I actually took off and had a cup of coffee at Au Bon Pain with tears in my eyes and thinking ‘why did I do this’ but at other times they made me feel awesome. Momen pahit ditolak Megabus dan beli tiket bus di detik-detik terakhir, ketinggalan bus yang mau ke Philadelphia. Momen mengunjungi kota tempat kudibesarkan, Troy, New York. Momen staying at my aunt’s place in New Jersey, dibawa shopping ke outlet yang muraah (gue dapat jeans Levi’s Demi Curve seharga 20 dolar saja) dan dibawa ke sushi buffet yang enak pisaan (trust me 3 minggu pisah dari nasi dan ikan itu…..sesuatu). Momen ketemuan sama sahabat yang nggak gue jumpai selama 10 tahun, sahabat semasa kecil di New York, Jasmine Horton. Mengunjungi museum-museum dan galeri seni yang amazing banget (gue tipe orang yang milih museum ketimbang belanja). Ke Statue of Liberty, Georgetown Cupcakes, Museum of Modern Art, Smithsonian, dan tempat keren lainnya sungguh sesuatu!

Tengah malam ke Empire State Building (anginnya buset!) terus unyunya ada yang lagi di-propose nikah. AWWW.

Tengah malam ke Empire State Building (anginnya buset!) terus unyunya ada yang lagi di-propose nikah. AWWW.

This year also marks my first solo international flight from New York to Jakarta, which was quite a challenge especially on the long transit in Abu Dhabi (thank God ADIA has free Wi-Fi, unlike JFK :P). Pengalaman duduk dalam flight belasan jam di bangku berdua di sebelah om-om yang kerja di oil and gas yang bersikap sangat aneh dan pengalaman duduk bareng rombongan umroh yang aduh………..bau minyak kayu putih, nyampah di mana-mana (malu banget di ruang tunggu sampah kulit jeruk dan botol kosong ada di beberapa tempat). Huft. Anyway, the trip to USA was overall great.

ITB for HNMUN 2013

ITB for HNMUN 2013

Snowing in Boston!

Snowing in Boston!

mengunjungi Harvard dengan sahabat gue, Santi Sijabat

mengunjungi Harvard dengan sahabat gue, Santi Sijabat

Kumpul-kumpul tim HNMUN ITB dengan alumni ITB yang di Boston :D

Kumpul-kumpul tim HNMUN ITB dengan alumni ITB yang di Boston :D (anak mesin sampe bawa jahim dan bendera himpunan loh….)

Another first in 2013 is my first solo Bali trip which was unplanned, impulsive, and pretty much a secret getaway (only my 3 best friends knew I was going to Bali). I had money saved from winning competitions and working in projects so I thought, what the hell. So there I was, jam 7 malam browsing tiket, tengah malam booking, besok siangnya belanja keperluan, dan sorenya I’m on a flight to Bali, tanpa sepengetahuan siapa pun kecuali beberapa sahabat. Lounge hopping, sipping cocktails by the beach, beach exploring, and indulging in a tranquil me-time at The Mulia was exactly what I needed. Staying at The Mulia pun sesuatu yang tidak direncanakan (and thank God I got a room!). Gue dan The Mulia itu seperti love at first sight and I knew I had to go there, tadinya mau iseng aja buat sunset aja gitu di salah satu cafe rooftopnya, tapi ah sekalian aja ;) Dan senangnya, gue datang di saat yang (lumayan) tepat. Pada saat itu lagi bulan puasa, jadi tiket pesawat murah dan Bali tidak terlalu ramai.

Staying at The Mulia Bali was definitely a highlight of 2013.

Staying at The Mulia Bali was definitely a highlight of 2013.


New Friendships

A thing I truly cherish from 2013 is the birth of new friendships. This year I grew close to a number of people. Misalnya, Tiffany. Tiffany ini partner delegate gue di HNMUN (delegate WHO itu double delegate alias berpasangan, bukan delegate tunggal per negara). Alhasil dari penentuan formasi delegate, gue dipasangkan dengan doi. Waktu itu sih diceritainnya karena gue punya sosok ‘kakak’ jadi bisa mengayomi Tiffy so she can shine to her maximum potential. Gue menerima dengan senang hati and it turned out, gue dan Tiffy bukan saja partner in crime di conference room, kita pun jadi akrab main bareng, sleepover, ngegym bareng, nemenin gue bikin tato (temporary loh ya), dan temen curhat-curhat cimpi-cimpi ceria. Selain Tiffy juga ada contoh-contoh lain, pertemanan yang makin deket tahun ini. Orang-orang yang mungkin tahun lalu gue bahkan nggak kenal, tapi eh tahun ini jadi temenan deket dan bisa ngobrol ngalur ngidul berjam-jam dengan sangat nyaman, sekalipun terpaut jarak ribuan kilometer dan zona waktu.

Tiffany

me and tiffy! partner in crime lasted beyond HNMUN <3


Post Graduation

Lulus Juli dan masih ada di kampus sampai Desember itu bittersweet. Setelah lulus, gue stay di Bandung karena proyekan dengan dosen. Rasa galau move on dari kehidupan kuliah dan move on dari Bandung itu perasaan yang sulit dibendung; and at that time sticking around pas lagi rame was great. Tapi ketika para oktopus (wisudawan Oktober) udah mulai cabut dari Bandung, going to campus wasn’t as great as usual. Muka-muka terlihat asing dan didominasi adik-adik kelas. Di himpunan pun banyakan yang nggak dikenal daripada yang dikenal. Nyari temen makan siang mesti ngiter-ngiter ke lab-lab dulu cari anak proyekan lain atau harus cari di Whatsapp. Untungnya di semester terakhir dan di kehidupan post graduation ada momen-momen angkatan TK09 yang mengeratkan: makrab angkatan yang nginep di Punclut (kalau nggak salah seminggu sebelum gue berangkat ke US) dan pas tradisi 3 tahunan dengan angkatan 2012. Makrab itu momen yang okeeeee banget, karena benar-benar quality time. Bukan sekedar hura-hura barbecuean dan karokean lagu 90an, tapi dengan apiknya sang ketua angkatan, Faris membuat acara dimana kita semua lesehan melingkar dan membagikan rencana dan cita-cita ke depan. Berkat momen itu, eh ketauan siapa yang mau jadi presiden, siapa yang mau jadi ketua Kadin, siapa yang mau jadi pastor, siapa yang mau menikah muda, dan lain-lain. Sungguh keputusan yang bijaksana untuk ngadain momen se-intimate itu sebelum hustle and bustle semester akhir.

hari terakhir kuliah di ITB

hari terakhir kuliah di ITB! Pas hari terakhir kuliah, gue bawa kamera dan banyak foto-foto bareng orang-orang untuk mengabadikannya (unyu kan). Itu yang ngerangkul gue adalah salah satu bapak menteri di kabinet (bukan Indonesia bersatu) KM ITB (semacam BEMnya).

kumpul-kumpul di rumah Marsha Faradina, sang Ganbest yang saat itu lagi berulang tahun

kumpul-kumpul di rumah Marsha Faradina, sang Ganbest yang saat itu lagi berulang tahun! Di tengah sibuk-sibuknya semester 8, kita sempetin ngumpul untuk makan sebelum pada mencar!

Selain drastisnya perubahan kehidupan Bandung, post graduation meant that everyone was going in separate directions. Elsa ke Malaysia, Rea ke India, Ricky, partner labtek gue, ke UK, Bonjay ke Riau, Rony ke Palembang, dan lainnya. Temen main makin menipis dan Bandung….well in one way berkurang keasyikannya. Ke fasa post graduation emang butuh adaptasi and determining your next step itu penting banget….mengenali diri sendiri, apa yang ingin dikejar dalam hidup, nilai-nilai yang penting bagi hidup.

On Romance, and anything else that’s a tad too personal to share here…

I will elaborate privately (password required and limited to particular people, hehe).

it was a usual Saturday night and I impulsively called this guy who can make temp tattoos.

it was a usual Saturday night and I impulsively called this guy who can make temp tattoos. Lalu, gue mendapat julukan Monta (monci tato). Actually, gue emang udah lama sih pengen bikin tato, tapi karena urusan medical check up dan job seeking (not to mention I intend to enter the public sector where the rules are stricter) getting a tattoo is definitely a no-no. Jalan tengahnya: tato temporer yang ilang abis 2 minggu. Keisengan ini juga salah satu bentuk social experiment, gue pengen liat reaksi orang-orang gimana pada cewek dengan buku di tangan kiri dan tato gede di tangan kanan. The results were quite interesting.

So I guess that sums up 2013. No matter how awesome and mind blowing 2013 was, I do not want to dwell on it. Time to move forward and make this year awesome! God bless this year, amen.

tumblr_mb4rz9xjkH1ru9qdjo1_500

Silent Night

Everyone has their own favorite thing about Christmas. For some it may be presents, Christmas lights, Christmas parties, Christmas decorations, Christmas discounts, Christmas food, or family gatherings. My family and I have always celebrated Christmas simply. No lavish parties/celebrations (I never liked the idea of celebrating Christmas before Christmas or anything too extravagant..I mean that’s a complete deviation from the orginal Christmas itself, right?). No Christmas presents (presents in my family are always merit-based, I remember when I was a kid I only get year-end presents if I was the top of the class). No Christmas shopping. Just mass at church and a  simple family gathering with the whole family where we had a home cooked meal and had a short Christmas service (a couple of readings, prayers, and songs).

grinch - xmas

What’s my favorite thing about Christmas?

It’s when Christmas Eve mass (I’m a Catholic) is about to start, and the church goes completely dark and silent. Candle in hand, my eyes  start looking for a source of light in the dark room and find everyone somehow starting to share their candle light to their left and right. One thing about Christmas is about giving, right? The choir starts singing Silent Night. Tiny yellow flames are everywhere in the church and I see a glimpse of the Pastor and his teammates marching towards the altar.

boston - xmas

In that dark moment of singing Silent Night (acapella, no organ/musical instruments involved) and seeing the candle light slowly spreading in the room is my favorite thing about Christmas.

From darkness turning into light.

The gesture of sharing and spreading candle light to your neighbours.

Silent Night being sung by everyone in unison.

Silent night, holy night, all is calm, all is bright.

I remember a number of times when tears filled my eyes in that moment. Especially after a stressful week of finals, a year of hard work, disappointments, bittersweet moments, sad moments, loss and heartbreak, blessings and achievements, that moment never fails to move me emotionally. Wow, God let me live another year. God let me celebrate another Christmas. This particular Christmas moment effectively represents my very own personal Christmas meaning: Christmas as a source of hope that recharges my soul towards another year of challenges. Christmas is a source of hope that provides the assurance that everything is gonna be OK. 

Who knew a moment that simple (compared to the glitz and glam sides of Christmas) can have so much meaning and be so emotionally moving?

I’m not gonna lie, Christmas decorations are pretty, Christmas songs are heartwarming, watching Christmas movies is always cozy, and Starbucks’ red cups are always a nice touch to the season. Being together with your loved ones is great, after all, pretty much all major holidays bring people together, right? But strip that all away, or maybe even, if you have all the Christmas accessories, food, music, movies and presents you can possibly desire, it’s that one moment of tranquility in complete silence and darkness, and then turning into light that I would always long for every December.

By the way, here’s a really nice acapella of Silent Night by Boyz II Men.