Hacker Facebook bangsat

Hacker Facebook bangsat. Please pardon my rude language. Tapi gue semarah itu. Tadi malam Facebook gue dihack oleh Hacker bangsat yang hampir aja merugikan teman dan keluarga gue. Go ahead and mess with me, but when you mess with the people I care about…..be careful dude.

Jadi ceritanya begini. Tadi malam, Sabtu, 11 Mei 2013 gue menghabiskan hari di kampus dari pagi buat ngelab sampe siang, terus kelas sampe sore. Gue ambil mata kuliah yang kelasnya Sabtu siang sampe sore, 4 jam berturut-turut. Supposedly, gue kemaren photo shoot buat year book, tapi entah kenapa raga ini menolak. Kecapekan, migraine, dan pengen tidur banget. Gue menduga apa ada hubungan dengan zat kimia yang gue hirup. Alhasil, gue nggak jadi photo shoot kemaren, gue balik kosan, beli makan, dan ketiduran dari jam 7 malem. Tidur gue nggak begitu tenang, dan gue mimpi Facebook gue dihack. Gue kebangun jam 2 pagi dan iseng buka Facebook. DAN BENERAN! FACEBOOK GUE DIHACK! Pas sign in dengan password biasa, ada tulisan bahwa ada yang ngubah Password gue sekitar jam 10 malem. Ketika gue terlelap. HOW RUDE. Gue udah sangat takut soalnya, selain takut aneh-aneh kayak foto mesum, atau tag-tag toko HP, tapi gue cemas ada post aneh-aneh di Page yang gue juga admin-in. Gue buru-buru change Password, dan ternyata email gue juga dibobol. Setelah reset password, akhirnya gue login dan cek Timeline. Kosong, nggak ada apa-apa, clear, aman. Nah tapi kok Facebook chat gue aneh, ngechat orang-orang yang ga gue chat. Percakapan dengan orang-orang yang biasa gue chat juga ga nyambung.

That’s the moment when I found out..hackernya beroperasi via Facebook chat gue!

Si Hacker bangsat ini ngechat 3 orang (at least itu yang ketauan, kalo ada chat lagi, mungkin udah dia hapus): 1 Facebook friend yang gak gitu kenal, 1 sahabat gue yang tinggal di Amerika, dan 1 tante gue yang tinggal di Amerika. Dari pola orang-orang yang dia Chat-in, target dari penipuan ini adalah Facebook friend gue yang tinggal di luar negeri dan diminta transfer uang via Western Union.

Victim 1: Facebook friend yang nggak gitu deket dan tinggal di Eropa

Salah satu rekaman chat yang kesimpen adalah ke 1 Facebook friend gue yang nggak gitu dekat sama gue. Untungnya Victim 1 belum sempet ngetransfer uangnya karena di sananya udah malem.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Victim 2: tante gue yang tinggal di Amerika

Ini rekaman chat si Hacker sama tante gue. The creepy thing is..ini orang manggil tante gue Ambo. Untungnya Tante gue ini nggak gampang ketipu.


hacker Facebook bangsat - 1

ambo2 ambo3 ambo4

Victim 3: sahabat gue yang tinggal di Amerika

Sayangnya, rekaman chat sama sahabat gue dihapus sama si Hacker bangsat. Victim 3, sahabat gue, sudah mentransfer uangnya dengan nominal 625 USD tapi Thank God, berhasil direfund.

hacker facebook bangsat - 01 hacker facebook bangsat - 02 hacker facebook bangsat - 03 hacker facebook bangsat - 04I feel so terrible, the hacker successfully tricked my best friend. Sahabat, gue, Jasmine, adalah sahabat gue sejak gue berumur 6 tahun, pas dulu gue SD di Amerika. Orangnya emang baik banget. Dan kebaikannya dimanfaatkan oleh si Hacker bangsat. Si Hacker ternyata minta dikirimin 5 juta rupiah, si Jasmine takut gue kenapa-napa. Dia udah transfer 625 dolar. 625 dolar. Tapi untungnya gue kebangun jam 2 pagi dan dia masih bisa ngerefund, dan berhasil direfund, jadi transaksinya gagal. Gue super duper nggak enak banget sama sahabat gue. Se-nggak enak itu. I feel so bad for her and I feel so angry at the hacker, karena dia udah merugikan sahabat gue. Kalau dipikir-pikir, untung aja gue kebangun jam 2 pagi. Dan aneh banget gue bisa mimpi Facebook gue dihack. Padahal tadi hampir aja gue tidur lagi. Kalau nggak begitu, uang sahabat gue bisa hangus di tangan Hacker dan ga sempet ke-refund. Thank you, oh Divine Intervention.

Apakah ini Human Error dari gue sendiri?

Seperti kata Bang Napi di sebuah acara kriminal terkenal siang-siang bolong, “Kejahatan tidak hanya terjadi karena niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan!” Let’s see, gue juga introspeksi sih kenapa kejadian ini bisa terjadi. Dan melihat respon orang-orang di berbagai media yang mengandung spekulasi kalau ini ya gara-gara gue juga yang bodor.

Did I use some sort of public computer or borrow someone’s device and I didn’t log out?

Did somebody get a hold of my handheld device and change my password from there?

Well, the answer is no. Gue gak pernah ke warnet sejak di ITB ini, I always log in from my personal devices: smartphone dan laptop, menggunakan wifi di kampus atau kosan. Apakah smartphone gue jatuh ke tangan yang tidak bertanggungjawab ketika ini terjadi? Haha, kecuali ada yang niat banget sampe ngejebol pintu kosan gue pas gue ketiduran dan gue nggak kebangun, atau ada ninja warrior yang bisa make smartphone gue pas gue tidur terus dibalikin lagi ke tempat semula, ya mungkin. But I was asleep di kosan ketika ini terjadi dan pintu dalam keadaan terkunci. Apakah gue ngeklik aplikasi-aplikasi nggak jelas? Nope. Aplikasi yang terkonek dengan Facebook yang gue gunakan adalah: 8tracks, GlassDoor, SoundCloud. Kalau ada yang ngepost link out of nowhere either via message/di wall juga langsung cepet-cepet gue hapus dari muka bumi.

Gue juga bukan tipe pemain game atau aplikasi kirim-kiriman aneh di Facebook (I always thought people who send game requests on Facebook should get a life!). Jadi begini, tahun 2013 ini gue menjadi admin dari page sebuah NGO that I work for dan sebuah event di mana gue memegang posisi di situ. Gue super duper extra hati-hati karena anything that happens when my account gets compromised bisa berefek pada page yang gue pegang itu…which is bahaya banget!

So basically, based on my personal introspection, my recent actions online pretty much gave no room for intruders. Kata temen gue bisa aja karena terkonek dengan koneksi WiFi yang nggak aman. Hmm itu bisa jadi sih, tapi bisa banget ya kayak gitu? Gue juga kurang paham sih. Entahlah, tapi I am confident to say that this situation was not a result of my own carelessness. Kalau dari analisis dan level pengetahuan IT yang awam ini, gue heran sih kenapa hacker ini tau banget gue punya teman dan saudara di luar negeri. Dugaan gue sih dia udah lama mengamati koneksi gue dan profil orang-orang yang terkonek dengan gue. Perhaps he/she thought I fit in the mold of having a bunch of international friends/family that are willing to send me money, even if it was via Facebook. Ya itu sotoy aja sih. Hahaha.

The moral of the story: be extra careful! Tujuan gue menulis ini adalah menyebar info tentang ancaman dunia maya yang berpotensi merugikan kamu dan orang-orang terdekat kamu. Don’t let Hackers ruin your life/relationships!

Kalau kamu menerima Facebook message dari teman, sekalipun itu sahabat/saudara, yang minta uang, jangan gampang ketipu! Check dan recheck melalui media lain (lebih personal lebih baik, seperti SMS/instant message/BBM, you name it). Hacker sekarang udah nggak jaman keliatannya nyebar-nyebarin link doang. Udah lebih personal, lebih smooth, dan memainkan perasaan. Be extra careful!

And to all my Facebook friends yang dirugikan oleh si Hacker ini, I feel bad and I’m so sorry! I would do everything in my power to never let this happen again.

To the Hacker, I’m gonna let Karma do the dirty work to get even. Until then, well fuck you.

arya wiguna - hacker

I finally feel like a girl again ♥

Bagi mahasiswa tingkat akhir yang ketenangan hidupnya merupakan fungsi dari tingkat selesainya tugas akhir, dan di mana tingkat selesainya tugas akhir merupakan fungsi dari waktu yang digunakan untuk ngelab, tanggal merah seperti hari ini di tengah-tengah minggu sebenernya bikin kesyel. Tapi ya udahlah, daripada kesyel, kesyel, gue memanfaatkan hari ini untuk sejenak me-time setelah berhari-hari terakhir nomaden ke kosan partner-partner kelompok TA Rancang Pabrik buat nyiapin sidang hari Rabu kemarin.

Jadi hari ini, gue beli dress (yes Mama, if you’re reading my blog, yes I bought a dress). Gue jaranggggg banget beli dress. Gue terakhir beli dress tahun lalu, di awal 2012 buat nikahan sepupu. Sebagai anak teknik di mana berpakaian rapi adalah sesuatu hal yang nggak lazim, apalagi dress up, beli dress dan having time and an occasion to wear it is truly a luxury. Well kali ini gue ada occasionnya sih:
1) gue bakal lulus jadi pengen punya dress cantik buat party/acara-acara syukuran setelah lulus
2) buat photoshoot yearbook Teknik Kimia angkatan 2009, di mana temanya adalah Forbes magazine cover!

Gue udah lama sih ngincer dress yang makes me feel good about myself, dan gue lagi suka banget trend baju gelap berbahan mesh gitu. So after hitting the gym today, I bought myself a black dress that I thought would be great for grad parties and for the yearbook photo shoot.   I rarely splurge on clothes, but when I do, I make sure they are 100% worth every penny. It has to look great on my body, looks well with my skin tone, comfy to move around with, and makes a statement. Dan ditambah lagi tips dari tante gue, Ambo Connie yang tinggal di New Jersey, it’s good to buy clothes a size smaller buat jadi motivasi jaga badan (especially akhir-akhir ini gue gendutan lagi karena stress TA dan makannya sembarangan dan nggak teratur).

Kadang short me-time and shopping sessions like this feels so fun and makes me feel like a girl! Terutama setelah berhari-hari kucel dan pindah dari kosan ke kosan orang, ugh berasa nasty banget. Playing dress up setelah akhir-akhir ini terus memakai baju tempur (that’s how my friends and I call it: baju buat nugas dan begadang yang gapapa kalo kotor abis selonjoran di lantai himpunan atau kosan orang)  is so nice! Setelah berhari-hari musingin pompa, tangki, valve, nukangin alat lab (literally, pake obeng dan teman-temannya, seperti Bob the Builder), it’s nice to play dress up for a change. Pake dress and putting a little lipstick on (I actually don’t like wearing lipstick karena ga enak lengket-lengket gitu) reminds me of playing dress up when I was a little kid. :3

haha

wearing Miss Selfridge mesh black dress and Lancome lipstick

Anyway, hari ini setelah ganti profile picture, Uncle Scottie, om gue yang tinggal di New Jersey complimented my new picture dan nyuruh gue senyum pas foto biar keliatan happy. Eh akhirnya berujung gue curhat stress dan kurang tidur. Terus doi ngemessage gue begini:

“Understand but stay positive and you have to say to yourself, I am almost there and you are doing great. The payoff is really big in your life and you will have a fantastic life if you keep in mind why you are doing all this for your future. Then you meet someone on your level and you both financially will not have to worry about anything.” – Uncle Scott Mandel

Kyaaa!!! Jleb banget, those words mean a lot to me. Kadang di saat megap-megap di tengah deadline, you simply need a pat on the back from someone who genuinely cares and that’s what it felt like, a nice warm, puk puk. Anyway, back to work. Sekian bacotan gue in a cold, rainy Bandung night sambil denger cheesy love songs. Over and out ♥

Jangan investasi emosi

I’m currently in a phase when I’m enjoying being single, young, wild, free, legal, and 21. Like in the past few weeks I went out with different guys, terkadan ramean, kadang berdua. It has been quite enjoyable to pass time with different people, without expecting more or being attached. I’m not the guy magnet type that regularly goes out with random people so honestly, this is kind of new to me. But it’s light and casual, nothing sticky with the typical high school stuff. Just to talk and enjoy each other’s company. Or perhaps as simple as nemenin seseorang running an errand or even just makan atau apa gitu. Tapi yaudah, no feelings. Just friends. Friend-zoned? Well yeah I guess. Forever? Well, I guess it depends. That’s a thing guys need to understand. Friend zone is not a dead end. You can always step it up to the next level. But should girls invest feelings prior to that step? Well according to me, and my friends..nope. No way, jose.

That’s what I think I learned lately in my years of college…especially in an environment dominated by males. Starting out as a naive and sensitive girl thinking every bit of attention or nice move a guy gives to me means there is a special feeling has taught me the hard way to not get flattered easily. Like my best friend Elsa says, “Jangan investasi emosi…kalau returnnya belum pasti.” Hear hear! Ini efek ngambil mata kuliah SBM (Financial Planning) mungkin, jadi ikut diterapkan dalam kehidupan asmara. Basically investasi adalah menanamkan sesuatu dengan harapan bakal mendapatkan keuntungan yang melampaui apa yang kita tanam. Iya kan? As a girl, we can’t afford to do that kalau belum apa-apa, udah investasi emosi. Masih pdkt, udah investasi emosi. Even bahkan sudah di tahap relationship, tapi kalau hubungannya masih main-main, well be careful with investing your feelings and emotions. Melatih diri buat nggak investasi perasaan, has eliminated the driving force for expectations, and therefore, decreases your chance of getting hurt or disappointed.

Itulah sulitnya jadi cewek. Gue masih konservatif ya, I take a girl’s dignity very seriously…I won’t text first nor call first. As my mother would say, a girl’s dignity is not to be compromised. Sebagai cewek, moving on to the next level is not our call..but a guy’s call. Keputusan di tangan mereka, cewek tinggal approve or reject. My fucked up love life in my college years has taught me buat menahan perasaan.  Going through a bleak break up early in college, being in an on-off blurry limbo (limbo: not knowing the result or next stage of something and powerless to influence it) with someone for a couple of years, and then just stuck in a zero gebetna & zero commitment status until now. Ketertarikan, ya pasti ada, I have hormones gitu, tapi untuk bisa seriously menggebet orang would take more than good looks, great musical skills, or smart conversations. It would take more effort and intention to interact deeply. I could have a crush one day, tapi ya udah sayonara.

Have I grown bitter? No, but I have better control of my flow of feelings. Has my heart turned cold? I don’t think so.

I have decided to invest my emotions on one guy that I know will definitely be a keeper. I don’t know if this mindset is right or wrong, but one thing for sure that it has hindered me from heartbreaks. Heartbreaks from longing for someone dalam ketidakpastian is a waste of time, energy, and emotion. Semakin bertambah umur (asik beut dah), well I feel that my ability to can identify my desires, my needs, my big no-nos has far improved. Knowing that is a start to know what you’re seeking for. I hope someday I find that one person, worth my emotional investment. Until then, I’ll just continue being 21, single, fulfill my responsibilities, nurture existing friendships, and make as many friends as I can ;)

totoro <3 aduh gambar ini emang nggak nyambung sama tulisan gue, but I couldn’t help but post it, I saw it on my Tumblr feed, reblogged it and I just had to put it on my WordPress! Totoro is one of the sweetest memories of my childhood, dulu bokap beliin video kasetnya (jaman-jaman masih puter pake VCR) and I used to watch it over and over again. Nyaaawww. Bisa cuddle-cuddle dan boboci di perutnya looks soo comfy.

Just a random post in the middle of deadlines

collage 1

I don’t take selfies very often…but when I do I make sure I’m 100% up for it :P I’m using Lancome Juicy Tube, D’Squared glasses, and Benefit They’re Real mascara

Minggu depan sidang Rancang Pabrik! Beberapa minggu lagi deadline penelitian, lalu ujian komprehensif! Waktu berlalu begitu cepat ya! Perasaan gue baru landing di Soetta eh kenapa tiba-tiba udah bulan Mei aja? Puji Tuhan, RFEC 2013 sudah selesai dan sukses besar…salah satu karya gue dan teman-teman di ITB. RFEC 2013 membuka mata gue kalo gue punya potensi jadi EO hahaha. Anyway, ini minggu terakhir kuliah ini, yang nggak berasa sama sekali karena gue ngambil kuliahnya dikit dan hari Sabtu jadi…well gue akan kangen kuliah di ITB. Hope this is truly my last. Di hari-hari terakhir bisa bareng anak-anak angkatan TK09, gue menyempatkan diri di tengah-tengah minggu buat hang out, sebelum pada kerja dan susah atur jadwal. Work hard, play hard.

Why you have to watch Before Sunrise and Before Sunset

I just recently watched these 2 epic romantic movies: Before Sunset (2004) and Before Sunrise (1995), thanks to Yodia, anak kosan gue yang menghibur gue di tengah pekan bed rest setelah berhari-hari demam dan pusing banget sampe gue masuk UGD. Doi dateng-dateng nawarin gue film biar gak mati gaya banget lah pas istirahat. Dan karena dia seneng banget film ini. Si Yodia ceritanya begini kira-kira: Mon, gue abis nonton film. Bagus banget. Padahal isinya ngobrol doang, cewek sama cowok ngobrol di kereta sambil jalan-jalan di kota di Eropa. Udah, itu doang. Tapi bagus banget Mon kata-katanya.

Satu, gue heran kenapa bisa melewatkan dua film brilian ini. Dua, gue heran, kenapa film ini penuh dengan quotable dialogs, pemikiran yang selama ini gue pikirkan, dan sederhana tapi mengena.

Celine and Jesse in Before Sunset, ceritanya they’re still in their 20′s here

Film Before Sunset adalah sekuel dari Before Sunrise. Uniknya, film ini merilis sekuel per 9 tahun..which means, tahun 2013 akan dirilis sekuel berikutnya! Before Midnight! Personally, gue lebih suka Before Sunrise dibandingkan dengan Before Sunset, tapi Before Sunset juga banyak quotes-quotes bagus kok. Reasons why I like Before Sunrise daripada Before Sunset:

  • Quotenya sepaham banget dengan pemikiran gue!
  • Adegan ciumannya baguuuuuus. Kenapa bagus? Well, mostly, kissing scenes are like, liat-liatan terus udah. Jeder, lip lock, a little tongue playing caught on camera, terus udah. Trust me, I’m a huge romcom fan, jadi gue bisa bedain kissing scenes haha. The kissing scene on the ferris wheel was very real and natural. It was like, awal-awalnya rada malu-malu dulu, terus ciumannya perlahan. Grafiknya tuh naiknya pelan gitu, nggak datar terus melunjak seperti banyak film. Cara Jesse mencium ceweknya secara spontan juga sangat alluring. Very cute.
  • Aktingnya sangat sangat natural. The flow of the conversation dalam film ini, senatural itu. Gue suka banget percakapan mereka dinamis, cara ngomongnya bagus, pemikirannya dan pengalaman yang sensitif pun terungkapkan, dan ngobrolnya hidup banget. Emang sih, udah dirancang script. Tapi saking naturalnya, it’s as if they really just met  at the train.
  • Di sini mereka masih muda. Kalo kata Yodi, belum kisut. Haha. Celine is so pretty, ngeselin deh. Hahaha. Bahkan dengan rambut aut-autan dan makeup super tipis, she looks like a Boticelli angel. Jesse juga ganteng sekali…ganteng yang menggemaskan.
  • Di Before Sunset mereka ceritanya masih muda, jadinya percakapannya lebih raw dan dreamy aja…energinya masih energi level orang muda dan cara ngomongnya masih dreamy ala anak muda yang jalannya masih panjang. Di Before Sunset, usia mereka udah 30-an jadi udah lebih realistis dan to the point aja gitu soal sex dan pahitnya dunia nyata.
  • Before Sunset settingnya di Vienna dan spot-spotnya bagus-bagus :) Pemeran figurannya juga berkesan seperti peramal di kafe dan pembuat puisi di pinggir sungai.
  • It’s in the 90′s! The good old 90′s! Hahaha. I love the 90′s. Baca buku instead of staring at an iPad, dengernya piringan hitam instead of MP3 files on an iPod. The good old 90′s, people.

Lucu ya, film yang isinya kebanyakan ngobrol doang kok bisa sebagus itu. Well, konten obrolannya yang bikin bagus, chemistry pemain and their connection yang begitu nikmat buat ditonton dan diserap. Well, here are my favorite quotes from Before Sunrise:

  • I kind of see this all love as this, escape for two people who don’t know how to be alone. People always talk about how love is this totally unselfish, giving thing, but if you think about it, there’s nothing more selfish. 

  • I always feel this pressure of being a strong and independent icon of womanhood, and without making it look my whole life is revolving around some guy. But loving someone, and being loved means so much to me. We always make fun of it and stuff. But isn’t everything we do in life a way to be loved a little more?

  • I like to feel his eyes on me when I look away.

  • I don’t know, I think that if I could just accept the fact that my life is supposed to be difficult. You know, that’s what to be expected, then I might not get so pissed-off about it and I’ll just be glad when something nice happens.

  •  I can see me falling through the clouds, and I’m so scared of those few seconds of consciousness before you’re gonna die, you know, when you know for sure you’re gonna die. I can’t stop thinking that way. It‘s exhausting.

  • You know what drives me crazy? It’s all these people talking about how great technology is, and how it saves all this time. But, what good is saved time, if nobody uses it? If it just turns into more busy work. You never hear somebody say, “With the time I’ve saved by using my word processor, I’m gonna go to a Zen monastery and hang out”. I mean, you never hear that.

And here here are my favorite quotes from Before Sunset:

  • You can never replace anyone because everyone is made up of such beautiful specific details.

  • Even being alone it’s better than sitting next to your lover and feeling lonely.

Before Sunrise dan Before Sunset kembali mengingatkan gue bahwa…pendamping gue harus bisa membuat percakapan sedinamis, semengalir, dan sethought provoking seperti Jesse dalam film ini. I mean, gue anaknya suka berpikir dan menganalisis, whether I express it or not, dan  punya really deep conversations with people. I mean, the last guy I can have really really deep conversations and long conversations is my ex. Yup, 4 tahun di ITB and I haven’t been close with a guy to a level that we can talk for hours about pretty much anything. The ability to ignite and maintain deep, fruitful, and fun conversations is a rare thing, or something yang baru muncul ke permukaan setelah suatu jenjang dalam hubungan/pertemanan. It takes effort and time sih untuk bisa sampai ke tahap itu, and it’s rare to have that from the very beginning. I believe conversations like that is an important element to a relationship, well at least to fall in love. Anyone can ask: lagi apa atau lagi sibuk apa, but not everyone can maneuver a conversation to the delicate parts of a person: their views, their ambitions, their painful experiences, their pleasures, their fears, their past, their loved ones, their values that matter most to them, and their dreams of the future.

I personally believe that both movies are must-see movies for 20-somethings. To me, Before Sunrise left a very deep impression. It’s a charming, smart, and thought provoking movie. You know a movie is that good when it leaves you thinking and replaying the scenes, the dialogues, the quotes, over and over again in your head. It leaves you contemplating and reflecting on how similar the quotes are to your own personal thoughts and experiences. Yeah, it’s that good. So, when you have the time to, go ahead and watch it. Watch it alone or with your company, your choice. My suggestion is, pay very close attention to the dialogues, or you’ll miss out on the main essence of the movie. I mean, I didn’t touch my phone throughout the movie, demi nggak miss out on anything. The details of how they are carried out are also beautiful to watch. No wonder both movies are very highly rated on movie rating websites. 

Jesse and Celine in Before Sunset

 

UN aja mandi kembang?

liat ini di Facebook news feed…oh my God, how pathetic

Mau UN mandi kembang?

Double Facepalm

Indonesian Logic: supernatural effort to ask for divine intervention > effort for independent preparation

It’s good to ask for divine intervention..but when the effort, time, and energy to ask for divine intervention exceeds your personal intervention for real effort and preparation…there’s something wrong there. Big time.

I don’t mean to brag, but I got really good grades for my national exam. Tips dan triknya bisa dilihat di sini. Dan sekolah gue bukan tipe yang menghalalkan contek mencontek, apalagi bocoran.

All I can say is kalo untuk UN. Just prepare well. I mean, UN is not that hard! Beda cerita sih ya kalo sekolahnya bobrok dan mendorong contek mencontek jadinya malah ngerusak dan bikin down untuk berupaya sendiri, but if you really prepare, you can actually get the benefit of UN. Such as, well persiapan SNMPTN/UMPTN, ngebiasain tangan gerak cepat dan mikir cepat, dan bikin percaya diri, percaya dengan usaha sendiri dan di saat bersamaan, berserah pada kuasa Ilahi untuk memberikan hasil terbaik pada upaya kita. So, good luck! Ace the UN, juniors! Santa Ursula, grab the 1st national rank again, ya! :D