Ospek: masih relevankah?

Hari ini memasuki hari kedua OSKM (Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa), yaitu kegiatan orientasi untuk mahasiswa baru di ITB, yaitu untuk tahun ini diadakan untuk angkatan 2012. Timeline sosial media ramai dengan live tweet, opini, dan blog mengenai #ospek. Kebanyakan sih yang saya baca itu bernada negatif: gak guna, udah gak jaman, gak efektif, dan lain sebagainya. Sejujurnya saya sih merasakan manfaat dari ospek tersebut (ospek di sini saya fokuskan pada agitasi yaitu ditekan oleh senior) tapi memang masih ada ruang perbaikan untuk kegiatan kaderisasi ini.

Saya sudah merasakan kegiatan kaderisasi tiga kali sebagai yang diospek yaitu:

  1. Pro-KM (OSKM jaman saya tahun 2009) secara terpusat rame-rame dengan ribuan mahasiswa baru lain (durasi: seminggu)
  2. Osjur = sebutan di ITB untuk ospek jurusan yaitu proses penerimaan anggota baru himpunan jurusan (durasi: berminggu-minggu)
  3. PPAB UKSU = proses penerimaan anggota baru Unit Kesenian Sumatera Utara ITB (sekitar 2 bulan lebih kalau gak salah inget yak)

Sedangkan untuk meng-ospek saya sudah merasakan dua kali (tapi keterlibatan saya tidak dalam) yaitu di Osjur untuk angkatan 2010 dan PPAB UKSU untuk angkatan 2010. Dulu sempet ikut diklat buat jadi panitia OSKM buat angkatan 2010 pengen jadi keamanan tapi entah kenapa gue bosen setelah beberapa hari ikut diklat..padahal waktu itu udah sampe tes lari (tes lari jadi salah satu penentu masuk divisi apa, waktu itu sih katanya begitu) dan udah tinggal penentuan divisi di lapangan basket malem harinya tapi yah gue bosen dan setelah gue timang-timang mending balik jakarta buat urus paspor dan segala urusan yang bisa diurus mumpung libur seperti perawatan kulit, quality time dengan keluarga, jadinya ciao deh. Kalau ditinjau dari ke-’berat’-annya, kaderisasi yang paling berat sampai yang ringan menurut saya adalah PPAB UKSU, Osjur HIMATEK, dan Pro-KM. Gue bakal cerita tentang kaderisasi uksu aja deh ya soalnya itu yang paling berkesan dan mewakili kehidupan per-ospek-an gue :)

PPAB UKSU bisa dibilang terkenal akan standar yang tinggi. Dibentak-bentaknya banyak, seniornya bisa men-treatment (istilah untuk menghampiri anak secara individual), diadakan pada malam hari, prosesnya panjang, ada panggilan malam….pokoknya menekan deh. Tapi setelah duduk sebagai panitia yang mengadakan saya mengerti..oh itu semua ada maksudnya. Ospek itu tidak sembarangan loh teriak-teriak begitu aja. Kalau di UKSU itu pengonsepan OSPEK itu lamaaaa sekali dan mengikuti algoritma yang sudah turun temurun. Intinya begini: ada input, proses, dan output. Panitia harus menganalisis kondisi input (anak baru yang akan diospek) dan kondisi status quo unit; merumuskan output yang diharapkan –> lalu merancang proses untuk mem-’produksi’ output tersebut. Contoh:

* Saat ini kondisi unit dinilai kekurangan sumber daya yang punya kemampuan (dan kemauan) memimpin. Anak yang akan masuk banyak yang tidak kenal akan budaya Sumatera Utara.

Nah dari kondisi itu berarti output yang diharapkan: anggota yang cakap dalam memimpin dan mengenal budaya Sumatera Utara sehingga proses bakal dirancang untuk mengasah kepemimpinan dan banyak sesi pengenalan budaya Sumatera Utara. Panitia pengonsep (biasanya divisi Materi dan perangkat panitia seperti Ketua dan Ring 1) akan menganalisis: akan pakai metode lapangan atau seminar-seminar lalu mengonsep setiap kegiatan. Mana yang lebih efektif? Gue udah lupa sih flowchart algoritma step by stepnya tapi yang jelas di UKSU itu prosesnya panjang, dipikir mateng-mateng, dan dikonsep secara rinci. Makanya proses menuju kaderisasi biasanya memakan waktu lama untuk berdiskusi, berdebat, dan beropini. Intinya semuanya pasti menginginkan anak kadernya mendapatkan pembelajaran yang berguna untuk dipegang untuk masuk ke unit. Ospek bukan wadah pelampiasan marah-marah dan manifestasi rasa dominan posisi sebagai senior. Ospek bukan main-main, lo pikir kaderisasi geng Nero apa? Semua dipikir dalam-dalam dan dirumuskan hingga sampai ke tetek bengek teknis lapangan, kode etik panitia, kode etik non-panitia, Terms of Reference, surat izin, dan lainnya.

Ketika angkatan saya yang memegang panitia PPAB metode lapangan dipilih. Metode lapangan ini butuh sumber daya yang banyak…dan cakap. Makanya ada TFT (Training for Trainers) untuk panitia non-lapangan dan panitia lapangan. Ada TFT latihan melobi, TFT medik, TFT penyusunan materi, dan lainnya. Untuk jadi panitia lapangan ada syarat minimum kehadiran di TFT, karena orang yang di lapangan gak boleh sembarangan. Dia harus sangat paham akan materi dan seluk beluk esensi dari materi itu biar dia gak asal-asalan…wong kaderisasi itu mau nurunin nilai, kalau yang nurunin aja masih kacau ya ngawur dong.

Gambaran ospek lapangan kayak apa

Di lapangan itu semua di bawah komando kordinator lapangan (Koorlap). Ada masalah apa-apa semua harus sampe ke koorlap dulu biar dia yang ambil keputusan/ngasih izin. Biasanya anak-anak yang mau diospek pertama ngumpulnya di titik agak jauh dari lokasi ospek lalu dijemput oleh panitia pada jam yang sudah ditentukan. Sebelum beranjak ke lokasi diospek, panitia melakukan check spek. Ya, untuk setiap ospek pasti ada spec dong alias barang-barang yang harus dibawa. Kalau pas jaman gue sih yang standar: roti, air mineral, ponco, obat pribadi, name tag, alat tulis. Gak ada spek yang nonsense dan buat ngisengin doang. Semuanya ada maknanya: roti ya kalau anaknya laper bisa makan, air bisa diminum pas haus, ponco bisa dipake kalo hujan/alas duduk pas lesehan, obat pribadi ya jelaslah ya. Nah panitia itu udah harus banget pegang data penyakit bawaan anak-anak yang diospek tapi pada hari-H pun ditanya ada yang sakit atau nggak biar ditandai (biasanya pakai pita dipeniti di tangannya supaya gampang dilihat panitia). Selesai check spek dan pendataan baru deh semua beranjak dalam barisan yang rapi, cewek yang di depan. Selama di ITB emang selalu dalam mobilisasi berbaris gitu cewek pasti di depan. Pada saat mobilisasi itu ada panitia yang menjaga perimeter. Mereka diletakkan di titik-titik yang eberarti dengan membentak loh ya, tapi misalnya ada orang lewat yang nerobos gitu aja diminta secara halus buat lewat jalur lain). Begitu tiba di lokasi ospek biasanya sudah ada Danlap (komandan lapangan) yang sudah di depan, disoroti lampu sorot dan berdiri di atas platform sehingga mudah dilihat sampai ke barisan belakang. Danlap itu mulai menghitung dan menyuruh anak-anak berbaris, misalnya 5 sap. Biasanya pada saat itu, anak-anak rada panik dan bingung-bingung. Begitu sudah rapi, ada anak yang teriak ‘Sudah siap’ dan kalau Danlap udah puas dia berhenti menghitung. Setelah itu danlap nanya jumlah kalian berapa, berapa orang yang gak dateng, kenapa gak dateng, kalian mau ngapain di sini. Di pinggir-pinggir biasanya ada panitia namanya Tatib (Tata Tertib) yang ikut ngebebek atau ngebeo (istiliah gue buat teriak-teriak: temennya kemana tau gakayo dijawab tuh danlapnya, gak berani, ceweknya mana cari aman, kasian tuh danlapnya dicuekin, jawab dong jawab!, dll). Biasanya kalau pas interaksi dua arah danlap-anak ospek ya kadang suka lama kan, masih pada takut-takut angkat tangan, jadi yang di pinggir-pinggir itu menstimulasi buat anak-anak untuk speak up. Udah beres interaksi dua arah, baru deh masuk ke sesi interaksi satu arah, si danlap nyampein orasi. Orasinya biasanya ikutin TOR materi. Pada saat orasi itu sesuai teklap, tatib harus keluar dari lapangan dan keadaannya silent, cuma si danlap. Palingan yang keliling-keliling cuma panitia medik, buat ngecek siapa tau ada yang lemes, gak kuat, sakit, dsb. Oya setiap eksekusi ospek itu pasti ada mobil standby untuk nganter anak yang pulang duluan karena sakit atau kondisi ekstrim harus ke RS. Udah beres orasi, lanjut ke sesi materi di spot lain yang suasananya lebih ringan yaitu dengan metode duduk lesehan, ada proyektor buat nyampein materi dengan slide, dan anak-anak duduk lesehan dalam kelompok-kelompok kecil yang didampingi mentor. Di sesi ini udah santai, gak ada yang marah-marah, anak-anak boleh makan dan minum sambil diskusi dan berkenal-kenalan. Biasanya di sesi ini berisi materi tentang organisasi, kesenian, kemahasiswaan yang terkadang mengundang tamu dari luar misalnya orang dari organisasi lain. Beres sesi ini, balik lagi mobilisasi ke spot di hadapan danlap buat interaksi dua arah lagi. Biasanya danlap nanya tadi kalian ngapain aja, dapet apa aja. Baru abis itu danlap nyampein pesan penutup dan ngebubarin anak-anak. Pas bubar, beberapa panitia mengantar ke spot lain dan memastikan semua pulangnya aman. Cewek itu harus diantar pulang (aturan yang udah fix-se-fix fixnya). Panitia yang nganter harus ngedata arah kepulangan. Setiap kategori arah kepulangan (biasanya begini: Cisitu, Tubagus Ismail, Dago, Ciembeluit, Pelesiran, Area lain) harus ngabarin ke anggota panitia itu kalau semua sampai di rumah. Nah beres itu panitia kembali ke sekre untuk evaluasi….yap evaluasi per sesi langsung diadakan setelah acara beres dan anak-anak pulang. Secapek-capeknya peserta ospek udah pasti lebih capek panitia yang ngadain…harus dateng lebih awal, dan pulang lebih lama. Evaluasi dilakukan oleh panitia dan anggota non panitia (disebut massa, yaitu anggota yang angkatannya di atas 2009). Evaluasi dilakukan secara rinci dari awal sampai akhir untuk setiap divisi tanpa terkecuali supaya nggak ada yang miss dan gak ada kesalahan yang terulang di ekekusi berikut. Makanya udah jadi hal biasa sih eval berjalan sampai pagi.

Top 3 Things I Learned

1. Sigap

Yap ini sih yang paling nempel karena ospek gaya lapangan. Kesigapan pada saat ditekan itu gak semudah itu loh. Tetap fokus, tetap terjaga, tetap aware sama kegiatan sekitar meski under pressure. Bisa mikir cepet tapi tetep tajam. Cepat tanggap dan responsif. Gue juga pernah ngomongin hal ini dengan bokap (alumni TI ’78 yang sudah merasakan ospek di zamannya) dan beliau berkata ospek itu melatih untuk tough under pressure, gak manja, gak layu atau pundung pas ditekan. Manfaat ini gue rasakan di tekim, di tingkat 3. Jadi di jurusan saya pada tingkat 3 itu masa lab, satu semester 4 kali percobaan 2 minggu sekali, 2hari berturut-turut, masing-masing tiap hari 8 jam nonstop. Syarat boleh melakukan percobaan di lab itu adalah lolos pembicaraan dengan dosen yang bertanggung jawab atas modul percobaan. Contoh: gue dapet kombinasi labtek: elektrolisis, aliran fluida, pembakaran, dan sifat fisik multikomponen (setiap orang beda-beda kombinasinya jadi gue bisa gak dapet modul tertentu tapi orang lain dapet).  Jadi minggu pertama gue dapet percobaan elektrolisis di mana pembimbingnya itu Ibu X. Syarat gue boleh percobaan adalah lolos pembicaraan atau ujian lisan dengan dia. Karakter setiap dosen beda-beda ada yang santai, ada yang menekan. Nah pas dapet dosen menekan itu somehow teringat pas osjur diagitasi karena…mirip aja gitu. Suasananya mencekam dan dosen mulai membebek “gimana tau gak jawabannya? masak gitu aja gak bisa jawab?” apalagi kalau dosen udah mulai gak sabar, volume suaranya meninggi dan mulai nunjuk-nunjuk anak-anak buat jawab..pas diteken begitu kita harus sigap bisa mikir cepet, menekan emosi deg-degan untuk tetap fokus dan logika jalan…

2. Berani dan kritis

Berani mengungkapkan pendapat, berani stand up for yourself, berani stand up for what’s right, berani membela teman. Kalau hal ini sih gue inget dari sini. PPAB itu udah wajib hukumnya gak ada hukuman fisik. Nah di PPAB UKSU itu quotesnya ini: ‘Ada pilihan ada konsekuensi.’ Waktu itu angkatan gue melakukan kesalahan gue lupa entah ada yang nggak bawa spek nah waktu itu danlapnya bilang gini “Konsekuensinya mau apa?” entah out of desperation ada yang jawab “Push up bang!” Mampus, ada yang bilang gitu lagi. Dalam keadaan gitu danlap tidak langsung menegasi tapi memberi ruang untuk anak-anak berargumen dan nyadar kalau opsi itu salah. Danlapnya balik nanya, “Yakin kalian mau push up?” dan nanya semuanya setuju atau nggak. Danlap bakal mancing sampai ada yang berani berargumen..biasanya Tatib yang di pinggir-pinggir juga mancing dengan teriak “Yakin dek mau pushup?; gak capek?; ntar ada yang ngadu loh). Ujung-ujungnya ada yang nunjuk tangan dan nyampein opini. Opini tersebut pun masih akan diputer-puter dan ditanay oleh danlapnya buat mancing si peserta melakukan pembelaan dan nyampein opini yang solid. Di ospek itu kita dipancing keluar dari zona nyaman dan tidak bersembunyi di belakang temen yang vokal.. Semua harus ikut angkat bicara dan berani berpendapat.

3. Peka sama temen di dalam keadaan tertekan

Di bawah tekanan gini, gue sih merasa emang lebih cepet nyatunya. Istilahnya during those times, we (anak-anak yang posisinya sedang diospek) had the same enemy. Selain itu pas di lapangan pun kita diliatiih buat peka sama temen. Misalnya pas cek spek di lapangan Cek spek kadang dilakukan di hadapan danlap, Danlap bakal teriak satu-satu spek yang harus dibawa dan semua harus angkat tinggi-tinggi speknya. Yang gak bawa didata dan ditanya kenapa gak bawa. Contoh danlap teriak: Ponco! Semua keluarin ponco dari dalem tas dan di angkat lebar-lebar terus dimasukin ke dalem lagi. Dalam keadaan tertekan begitu cenderung ada rasa every man for himself pas udah masukin ponco ke dalem tas terus udah bengong nungguin teriakan danlap berikutnya..Tatib di samping teriak: ‘dibantu temennya jangan pikirin diri sendiri aja!’ terus inget buat lihat kiri kanan bantu lipetin ponco gitu-gitu.

Habis ospek, hubungan dengan senior gimana?

Santai aja..malah senior yang galak ternyata aslinya baik..yah urusan lapangan cukup sampai di lapangan aja kan..lagipula itu tugas senior yang menempatkan diri dalam kehidupan sehari-hari yah bedalah, seyogyanya berusaha terbuka sama adik anggota yang baru masuk.

Jadi ospek masih relevan? Setujukah dengan metode seperti ini?

Relevan tapi masih bisa diupdate. Ya metode agitasi itu gives room for emotions to take control sehingga bisa hilang arah. Ya di situlah pemimpinnya entah ketua atau koorlap memonitor dan terus mengingatkan untuk stick to the TOR dan menegur langsung kalau ada panitia yang menyalahi TOR.

Setuju atau nggak? Setuju asal panitia sadar betul ospek itu bukan bullying. Menurut gue, bullying itu berangkat dari perasaan lo lebih dominan daripada orang lain sementara ospek berangkat dari semangat menurunkan nilai, mempersiapkan kader itu untuk masuk ke irama hidup organisasi yang bakal dimasukinya. Kalau sistemnya jelas, arahan jelas, dan ada yang memonitor keberjalanan dan ketersampaian pembelajaran gue rasa masih sah-sah aja. Ospek ini masih bisa dimodifikasi desainnya, misalnya jaman dulu lebih condong ke fisik ya sekarang lebih diberatin ke mikir secara kritis dan komunikasi efektif. Metode lapangan itu bukan suatu keharusan kok. Itulah fungsi pengkaji dan pengonsep buat mengkaji kesesuaian dan keefektifannya. We all want what’s best for the organization we live in and work hard to maintain, bukan? I can’t say: oh ospek itu bakal berguna di tempat kerja. Sotoy sih wong gue juga belom kerja. Tapi berguna di kehidupan di organisasinya? Ya bisa dibilang iya. Misalnya PPAB UKSU yang sifatnya begitu ya melatih untuk rapat-rapat UKSU yang memang mengkaji hal-hal secara dalam dan emang gak jarang terjadi perdebatan, opinimu didebat kawan organisasimu, bisa seniormu bisa juniormu. Ya hal itu wajar, welcome to demokrasi coy. Kritis di bawah tekanan ya emang dibutuhkan buat keberjalanan hidup di organisasi tersebut. Well it’s not for everybody, gak semua orang suka dengan gaya seperti itu yaudah, simpel aja gak usah masuk kan? Hehe :D Ada pilihan ada konsekuensi, ;)

Kalau untuk OSKM, ospek kilat yang berlangsung selama kurang lebih seminggu buat anak-anak yang baru lulus SMA dan mau masuk ITB tanpa memberi pilihan mereka mau ikut atau nggak….hmmm. Itu sih butuh pengkajian lebih dalam lagi. Tapi kalau misalnya senior yang cuma beda setahun yang mengkader dan caranya berteriak-teriak soal rakyat lalalala kalau menurut gue sih kurang appropriate. Kalau tujuannya mau ningkatin concern ke rakyat kenapa kelompok OSKMnya gak langsung terjun ke masyarakat aja misalnya pas hari terakhir bisa ngajar di Skhole atau penyuluhan lingkungan di sekitar Bandung/Cimahi..

Senior gue pernah bilang, anggap aja ospek itu seperti obat pahit. Rasanya gak enak, tapi bakal ada manfaatnya setelah ditelen. Emang harus dipahami, efek dari ospek ini emang nggak instan. Lapangan atau bukan, proses ini didesain buat menempa bukan mentransform secara ajaib.

Ya, itu opini gue. Opini lo apa?

About these ads

One thought on “Ospek: masih relevankah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s