~ writing the pain away.

~ writing the pain away. 

It gets so painful sometimes ketika orang tua sangat menyebalkan. Tadi malem saya ke pesta ulang tahun kawan saya di Musro, Hotel Borobudur. Saya di sana (cuma) sampai pukul 22.30. Ketika sebagian besar sudah pada balik, sang empunya pesta menyerahkan dua botol wine kepada bartender dan kami minum. Tidak banyak, hanya cukup untuk menghangatkan badan. Tidak ada yang mabuk. Wong orangnya berapa, minumannya seberapa. Jadi pas-pasan lah, tapi enak. Winenya sudah lama jadi terasa nikmat. Anyway, pulangnya saya ke rumah teman saya lalu dijemput di sana. Sampai rumah pukul 23.30 dan ditanya papa dengan nada lelah, udah jam berapa nih. Tidak separah yang saya bayangkan sih. Lalu saya tertidur. Besoknya, hari ini Minggu Palma. Kami bersiap-siap lalu masuk ke dalam mobil. Di situlah momen menyakitkan. Papa nanya kok bensin cepat sekali habis. Terus mama nyeletuk, “ Si monic ini hanya dirinya aja yang dipikirin.” Pokoknya mereka marahin saya. Terus papa bilang waktu mempersiapkan ujian tuh tinggal setaun. Kan sekarang kelas 11, taun dpan udah SPMB dong. Papa maunya dari sekarang udah latian soal. Saya juga mau dong.

Tapi apa salahnya sih sekali-kali having fun? Do I even party every week? No! I have priorities. Nilaiku jeblok? Tidak juga! Bukannya menyombong tapi nilaiku cukup baik. Rata-rata nilai fisika 90, rata-rata nilai matematika 83, rata-rata kimia sekitar 90an, dan biologi rata-ratanya sekitar 90an juga. Saya tidak menelantarkan kewajiban saya. Saya hanya menyelipkan saat-saat saya bisa melampiaskan jiwa muda saya. Sekolah saya memang penuh tekanan stres. Mereka tidak mengerti itu.Rasanya seperti dijerat ular. Saya terjerat kekangan orang tua yang sangat tidak pengertian. Rasanya ingin lari ke negara aneh, dan memulai hidup baru, tapi semua orang juga tau itu mustahil dan saya takut KARMA. Papa bilang, “ Monic ini waktunya habis untuk hal-hal ga penting. Ga ada harapan, ga ada masa depan si Monic ini.”

Hati saya hancur berkeping-keping mendengarnya. Karena tadi lagi otw ke gereja aja, saya tahan tangisan.

 Apa artinya saya belajar sampai pagi demi nilai bagus? 

Apa artinya saya empot-empotan pulang pergi sekolah jarak jauh melalui jalan macet penuh debu, dan bahkan saya harus menempuh jalur angkutan umum? 

Salahkah jika 5-7 jam dalam seminggu saya menjadi anak muda bukan jadi kuli akademik? 

Selama hidup saya saya hanya hidup memenuhi ekspektasi orang tua saya.Ayah saya anak petani yang bisa sampai S3 dengan beasiswa dengan keringat sendiri. Saya bangga akan hal itu, dan sangat termotivasi untuk menggapai bintang lebih tinggi. 

But isn’t it just too painful kalau saya harus didikte untuk seperti demikian? 

Ibu saya dulu anak jaksa bersaudara sepuluh dan sangat obvious tidak menikmati masa mudanya. Ia tidak pergi ke pesta, ia pulang sekolah tidak main-main, dan pacar satu-satunya ya ayah saya itu. Ya tipikal anak baik dambaan setiap ibu di dunia. 

Tapi haruskah saya menjadi fotokopian dari mereka? 

Haruskah saya dijerat oleh harapan dan cita-cita, prinsip, dan cara pikir mereka? 

Di rumah ini, memang tidak ada yang namanya free will. Yang berlaku hanya parent’s will.

Why can’t they take me the way I am?

Why can’t they accept me for being myself?

Aku bukan anak yang bahagia diam di tempat.

I love trying new things, having fun, but I also love challenging myself to be the best of me.

Balance is important.I have fun but before that I do what I have to do.

Because I have to do what I have to do so I can do what I want to do. Rasanya punya orang tua dengan tubuh di tahun 2008 tapi pola pikir 1908.

Bukannya kalau begitu malah memancing saya untuk mencari celah? Berbohong?

Aku sungguh tidak mengerti.  Ketika saya speak up, saya hanya diinjak seperti semut. 

Sakit rasanya. 

Sakit.Sakit.

 BIG GIRLS JUST WANNA HAVE FUN!

But I have my fun and I do my best in my work.

Kapan mereka wake up and see that?

Where is my rainbow after this storm? 

You know what I wanna do?

I am gonna put 100% in everything I do.I will reach beyond stars. 

And when I succeed to do it. 

I’m gonna say this to my mom and dad’s face. 

I TOLD YOU I COULD DO IT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s