sinetron ekuivalen dengan sampah?

ada hal aneh mengenai sinetron. sekali nonton, kepincut ampe harus ngikutin setiap hari. meskipun isinya cenderung picisan dan bikin gedeg, entah napa selalu bikin penasaran. lately karena orang-orang rumah gw pada tiap malem nongkrongin channel 80 (rcti) buat nonton Alisa dan Sekar.

Sang pembuat sinetron emang pinter banget buat narik penonton, sayang aja efeknya ke penonton tidak positif. below is an evaluation due to my recent activites of watching sinetrons. why?

  • karakter ceweknya kalau ga lemah banget tidak berdaya, antagoniss banget. beneran deh, kenapa sih harus begitu? jadi apa-apa tunduk aja ditindas. kenapa ga ada tokoh cewek yang pinter dan punya pendirian buat dirinya sendiri, contoh saja karakter Juno pada film Juno.
  • yang disorot kok kasta yang atas banget, the high end, contoh pada film Alisa, itu gila ya si Evan, tokoh yang diperankan Christian Sugiono, itu berasal dari keluarga yang AMAT SANGAT berada. Liatlah, mobilnya yellow convertible gitu. Keliatan banget kesenjangan ekonominya. Yang keliatan udah produk jadi, bukan proses menuju kesuksesannya.
  • sering banget ga logis..kayanya ini ga perlu dielaborasi, wong orang nonton sinetron pasti sering bilang ‘boong banget’ jadi udah jelas banget lah ya ga logis.
  • ga ada pluralitas agama dan ras. okay, gue akui ini sangat sangat sensitiffff untuk diomongin open, meski di blog pribadi saya. Tapi jujur aja ya, kita di negara Bhinneka Tunggal Ika, aduh I’m not complaining or anything, but it feels really weird kalau di sinetron cuma mendominasi satu agama saja. Kalau begitu caranya, ya kenapa ga sekalian jangan ada unsur agama. Look, gimana publik mau belajar menghargai perbedaan kalau media belajar publik, televisi, ga mencerminkan perdamaian dalam pluralitas?
  • violence alias kekerasan. aduh ga banget deh men, influence violence di tivi ke kehidupan nyata tuh gedeee banget, lo google aja deh ‘television violence’. Menurut gue, mental rakyat kita belum sampai ke level yang bisa memfilter dan memproses apa yang diterima secara rasional, jadi ya kalau bisa tanpa kekerasan, ya why not.
  • yang disorot cintaaaa melulu bujet deh..kalau ga skandal keluarga. ya seputar-seputar itu…mana lagi kayaknya sekarang makin berani sinetron..kayaknya 10 taun ke depan, sinetron udah ada adegan ciuman..
  • ga natural menn aktingnya, too dramatic.
  • nilai-nilai jelek yang kental ada itu: menimpakan kesalahan sama orang lain, balas dendam, menindas orang lain, kelicikan, and more.

kalau mayoritas orang-orang indonesia berpendidikan rendah, dan setiap malam input ke otak mereka adalah sinetron yang timpang dengan efek negatif, waduh mau jadi apa. belum lagi kalo yang nonton itu anak-anak, yang otaknya kayak spons, bujet deh.. Gue rasa untuk urusan sitkom gue mengacungi jempol untuk sitkom-sitkom Amerika. Sebut saja sitkom jadul Full House, atau Malcolm in the Middle, dan yang sekarang-sekarang ada Monk, dan masih banyak lagi. Ya banyak inspirasilah..tapi sebaiknya dalam aplikasinya jangan ampe ngejiplak yang obvious bangetlah seperti waktu itu jiplakan dari seri-seri film Korea yang sangat obvious… I mean like, potensi seniman-seniman Indonesia kan gede,  belum lagi anak mudanya….pasti bisalah dihasilkan dengan effort, creativity, dan keterbukaan untuk menerima kritik dan mengolahnya, saya rasa bisa ada revolusi sinetron.

C’mon film industry, can’t you bring anything new to the table now? Something fresh and positive at the same time.

~monica rs, feb 2009

related to this:

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080204175908AAiawvk

http://chairulakhmad.wordpress.com/2007/09/06/sinetron-mengepung-kita/

4 thoughts on “sinetron ekuivalen dengan sampah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s