Bedanya masa kecil saya dan mereka

Akhir-akhir ini gue prihatin melihat adik-adik gue. (Gue anak sulung dari 3 bersaudara dengan 1 adik laki-laki yang jaraknya beda 6 tahun dan adik perempuan yang jaraknya beda 12 tahun, iya emang gokil ya haha).

Kenapa prihatin? Masa kecil yang mereka alami sungguh berbeda dengan yang saya alami. Ya mungkin itu karena pengaruh geografis juga kali ya, gue pas kecil di Amrik, mereka kecil di Indonesia. Selain itu menurut gue faktor kondisi finansial, kenyamanan hidup dan teknologi cukup bermain di sini. Masa kecil mereka terjadi pas orang tua gue udah lumayan enaklah, ke mana-mana mereka diantar jemput sopir, di rumah ada beberapa pembantu, internet dan TV cable. Lah gue? Gue besar sih emang di New York tapi kondisinya bokap gue jadi mahasiswa beasiswa sambil kerja dan nyokap kerja di hotel! I’m not gonna deny this, my daddy worked his way up. He didn’t grow up being a rich kid. Nyokap gue pun anak jaksa yang harus menyokong 10 anak dan anggota keluarga lain. The bottom line: pada masa kecil gue, gue udah merasakan kekurangan dan keterbatasan. Menahan keinginan, mengirit, dan memaklumi keadaan merupakan pelajaran berharga dari hal tersebut. Kalau ada keinginan pun harus di-pending dan diusahakan untuk didapat. Dari situ timbul daya juang untuk memperjuangkannya, tidak mendapatkan secara cuma-cuma dengan modal meminta. Oke teknologi juga mempengaruhi. Emang sih pas gue kecil udah ada internet, gue dari kelas 1 SD pun udah punya email buat email-emailan sama saudara di Indonesia, tapi ponsel, social networking, dan blackberry belum se-booming sekarang! Jadi kalau di meja makan, either makan di luar atau di rumah, gak ada yang namanya keheningan dengan masing-masing sibuk dengan blackberrynya.

Wahana belajar dan bermain: minim.

Pas jaman gue kecil di New York dulu, tersedia banyak kegiatan (di luar sekolah) yang terjangkau dan dengan jarak tempuh relatif dekat dari rumah. Misalnya kegiatan olahraga, kesenian, organisasi. Dulu pas musim panas gue daftar baseball Little League. Pernah juga gue daftar semacam camp tentang seni dan budaya. Mungkin hal tersebut ada sih di Indonesia tapi mereka belum tentu punya ciri yang dimiliki kegiatan yang gue ikuti dulu: syaratnya gak ribet dan jaraknya gak jauh dari rumah (dan bisa dibilang deket rumah). Selain itu sarana di lingkungan seperti perpustakaan dan playground atau taman  bermain juga mengasyikkan. Gue inget dulu gue seneng banget kalau diajak bokap ke perpustakaan. Bagian anak-anaknya super cozy, warna-warni, dan bukunya banyak banget. Gue bisa sekali minjem sampai 7 buku dan itu bisa gue baca lama biar tahan lama gitu :p Playground pun menyenangkan dengan mainan yang asik dan suasana adem dengan banyak pohon. Bahkan deket rumah gue dulu ada semacam kids center gitu (gue lupa apa namanya). Isinya banyak ruangan dengan banyak buku, mainan, dan ada planetarium-nya. Ingatan gue samar-samar tapi yang jelas di tempat itu banyak banget aktivitas menarik buat anak-anak.

Kalau lihat adek-adek gue yah paling wahana bermain mereka (yang reguler dikunjungi) adalah ke mall nonton bioskop, beli buku, makan, main ke rumah teman (itu pun ujung-ujungnya main game komputer). Wahana belajar selain sekolah? Tempat les. Mungkin itu kali ya gambaran anak jaman sekarang terutama yang tinggal di kota besar. Gue sangat menyayangkan itu sih. Kalau mau ke perpustakaan bagus, harus ke Diknas di dekat Ratu Plaza. Gimana ya, masalah jarak itu se-berpengaruh itu loh apalagi buat nyokap gue yang gak mau ribet transportasi dan lama di jalan. Perpustakaan sekolah pun belum tentu bagus. Untungnya sih perpustakaan SMA gue dulu oke banget punya, lah tapi gue gak tau sih perpustakaan sekolah adek-adek gue. Toko buku pun menurut gue tidak begitu bagus dan oke koleksinya. Toko buku impor juga bagus tapi ya lagi-lagi terhalang sesuatu yang kuantitatif. Tadi jarak, dan sekarang barangkali harga. Buku anak-anak yang lokal punya menurut gue variasinya sedikit. Udah ada sih beberapa yang bagus tapi sayangnya gak sebanyak itu. Di sekolah pun selain ada perpustakaan dulu suka ada book fair. Penerbit-penerbit buku buka stand dan jualan buku yang pantas buat anak-anak. Ya emang acara dagang sih, tapi kapan lagi penerbit yang mendatangi kita, bukan kita yang mencari ke distributor kayak toko buku atau peminjam kayak perpustakaan. Dulu kalau udah pengumuman bakal ada book fair gue nabung dan bakal main ke book fair tiap ada kesempatan. Sekarang sih yang gue amati book fair baru ada di mall/expo besar, bukan datang ke sekolah-sekolah. Enaknya buku : tanpa membeli atau ribet nyoba di fitting room kita bisa buka-buka dan nyobain apakah buku itu menarik atau nggak. Taman bermain? Sayang sekali dekat rumah gue gak ada taman bermain bermutu. Entah karena lack of interest, lack of sense of belonging, atau lack of proper maintenance, taman bermain atau playground gak terlalu menarik massa (untuk difungsikan semestinya, bukan buat mojok).

Menurut gue sih kalau nunggu pemerintah buat bergerak ya bakal kelamaan. Keburu punya cucu kali baru deh ini dijadikan prioritas. Pendapat gue, pemerintah masih sibuk ngurusin TKI, korupsi, drama politik, kemiskinan, perekonomian, dan syalalala lainnya. Makanya dari dulu hingga kini gue bercita-cita pengen bikin perpustakaan/taman bacaan dan playground di daerah-daerah yang memang membutuhkannya. Selain itu biar sarana yang ada terpakai menurut gue perlu ada penanaman antusiasme membaca (dan mungkin menulis) di generasi muda. Pas SD gue inget banget ada kertas semacam reading report. Jadi tiap hari murid ditugaskan membaca buku/koran (bukan majalah/komik) selama 15-30 menit. Di kertas itu dicatat judulnya, halaman berapa sampai berapa, dan penulisnya, plus harus ditandatangani orang tua. Dari situ kali ya mulai tumbuh kebiasaan membaca, kayak kata Marcell kan, cinta datang karena terbiasa. Antusiasme membaca itu menurut gue motor yang baik pada pendidikan. Makanya gue sangat mendorong adek-adek gue untuk pinjem buku di perpus dan dateng ke book fair di mall. I am proud to say I had a great childhood and I want other kids to have the same too.

I want my kids to have an awesome childhood.

Gue wanita yang pengen menjalankan tugas wanita sejati: melahirkan dan membesarkan anak. Yup, berkeluarga merupakan salah satu top targets gue. Untuk itu gue pengen jadi supermom dan pengen mengondisikan agar anak-anak gue kelak merasakan childhood yang benar-benar berkualitas, di mana mereka bisa betul-betul bergaul dengan banyak orang, menemukan minat mereka, mengasah bakat, punya minat baca dan daya juang tinggi, dan tentunya have fun growing up.🙂

One thought on “Bedanya masa kecil saya dan mereka

  1. so true! i feel that too, anak anak jaman sekarang hidupnya lebih ke teknologi, bahkan ada ponakan gue, she’s only 4yrs old i guess and dia punya ipod touch sendiri dan ipad sendiri. dia jarang ngomong dan suka banget itu main sama barang barang elktroniknya. compare to my another niece, dia baru 2yrs old and dia bawelnya minta ampun setengah mati pinternya krn mama papanya lebih membudidayakan ajaran jaman dulu. well, kids nowadays, i’m so sorry for them, karena mereka engga bener bener merasakan wonderful childhood memories.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s