Aku Di Sini Karena Inspirasi Mereka

Saya yang sekarang ini adalah produk dari proses yang didukung oleh pendidik-pendidik semasa hidup saya, entah yang mendidik secara profesional (guru) maupun nonprofesional (orang tua, saudara, teman). Berikut kilas balik singkat dari apa yang tertanam dari pendidik-pendidik yang berkesan semasa hidup saya selama 20 tahun.

Bagian 1. Pendidik dari masa lalu dan nilai yang tertanam hingga sekarang

Mrs. Tetrault (Guru kelas 2 SD): creativity and confidence

Mrs. Tetrault adalah sosok guru yang cantik, masih muda, dan bersemangat tinggi. Dia ramah dan hangat pada kami muridnya. Yang saya ingat betul dari beliau adalah pelajaran cursive atau menulis sambung dengan metode yang out of the box. Aku masih ingat rasa excited ketika menginjak kelas 2 karena itu adalah saatnya belajar menulis dengan huruf yang terlihat cantik dan mewah: tulisan sambung! Berbeda dengan metode belajar menulis sambung yang konvensional yaitu di kertas khusus menulis halus dan menulis huruf atau kata yang sama berulang-ulang, Mrs. Tetrault menggunakan metode yang out of the box. Pada suatu hari beliau bangkit dari kursinya dengan sesuatu yang aneh di tangannya. Sebuah kaleng dengan semprotan kecil. Ternyata kaleng itu berisi shaving cream alias krim bercukur untuk pria. Kami bingung, untuk apa itu? “Today we’ll be learning cursive,” ucapnya. Tidak lama kemudian beliau menghampiri setiap meja kami dan menyemprotkan shaving cream itu ke setiap meja. Bermodal jari kami menuliskan setiap huruf sambung di meja kami. Umur kami yaaaa…sekitar 7 tahun, jadi kegiatan kotor-kotor seperti itu sudah jelas menyenangkan. Transisi dari huruf balok menjadi huruf sambung saat itu dimudahkan dengan metode Mrs. Tetrault. Metode yang unik tersebut

Mrs. McKenna (Guru kelas 3 SD): percaya diri ketika dihadapi dengan hal sulit

Mrs. McKenna dikenal sebagai guru yang serius, keibuan, dan tidak ragu memberikan tantangan kepada muridnya. Tantangan tersebut bisa dalam bentuk soal matematika yang sulit, tugas yang berat dengan tenggat waktu yang mepet, PR yang banyak yang membutuhkan campur tangan orang tua, dan lain sebagainya. Rasanya kontras setelah setahun bersama guru kelas 2 saya yang muda, riang, dan lebih laid back. Peralihan hari-hari sekolah yang santai di kelas 1 dan kelas 2 menjadi hari-hari serius di kelas 3 menjadi tantangan. Apalagi ditambah kecenderungan Mrs. McKenna menetapkan standar tinggi untuk muridnya. Ketika kami kesulitan menjawab soal matematika, kewalahan dengan tugas, dia menatap kami dengan tegas dan meyakinkan kami bahwa kami bisa.

Ms. Butler (Guru kelas 4 SD): the importance of attitude and making mistakes

Ketika mendapat info bahwa kelas 4 saya mendapat kelas Ms. Butler jantung saya langsung deg-degan. Ms. Butler terkenal atas mulutnya yang pedas ketika memarahi murid yang berulah. Bagi Ms.Butler tak peduli seberapa sempurna nilai ujianmu, tapi kalau anak itu tidak bisa menempatkan diri dan memiliki sikap yang baik…ya bersiaplah untuk dimarahi. Attitude ditegakkan dari hal-hal kecil seperti menyimak orang yang sedang berbicara, mengucapkan ‘please’ dan ‘thank you’, bahasa tubuh, dan menghargai orang lain. Saya sangat segan pada Ms. Butler karena keberaniannya berbicara. Beliau mendidik kami untuk speak up tapi dengan sopan santun dan respect. Pelajaran hidup yang sangat berharga ini saya bawa hingga kini.

Mrs. Jabour (Guru kelas 5 SD): excellence and taking things seriously

Di sekolah saya dulu, kelas 5 merupakan kelas terakhir sekolah dasar. Kelas terakhir berarti level terakhir, seperti di dalam game level terakhir adalah level tersulit. Standar untuk lolos lebih tinggi dan tantangan semakin banyak. Jika Ms. Butler terkenal dengan mulutnya yang pedas, Mrs.Jabour terkenal dengan volume suaranya yang tinggi saat membentak anak-anak. Ya, di balik parasnya yang cantik dengan rambut merah seperti Julianne Moore, Mrs. Jabour sangat seram kalau marah. Suaranya yang tinggi bisa didengar dari kelas lain dengan radius sekian meter. Namun di balik keseramannya itu Mrs. Jabour memberikan apresiasi tinggi pada upaya maksimal. Beliau tidak puas dengan performa standar atau biasa-biasa saja baik itu untuk PR atau proyek tugas besar. Saya ingat waktu itu ada science project. Kami ditugaskan untuk membuat replika sistem organ tubuh manusia. Setiap anak mendapatkan sistem organ yang berbeda. Mrs. Jabour mendorong kami untuk membuat dengan sungguh-sungguh dan dengan kreatif. Mrs. Jabour tidak akan puas dengan cetakan dari komputer di kertas atau digambar saja. Beliau selalu mendorong kita keluar dari zona nyaman dan berkreasi. Saya kedapatan membuat sistem pernapasan. Saya membuat paru-paru dari spons cuci piring berwarna pink dan membuat trakea dengan silinder bekas tisu gulung. Teman-teman saya juga kreatif dengan menggunakan berbagai macam bahan. Saya ingat betapa serunya hari-H ketika karya kami dibawa ke sekolah. Rasanya lucu dan menarik melihat interpretasi setiap anak menjadi karya yang warna-warni dan bermacam-macam bentuk. Melihat karya kami, Mrs. Jabour memberikan apresiasi yang tulus dan ternyata tanpa kami ketahui beliau mengundang adik-adik dari pre school (kebetulan letaknya satu lantai di bawah kelas kami) untuk melihat karya kami. Rasanya bangga sekali saat itu melihat anak-anak kecil dengan mata kagum memandang karya kami. Mrs. Jabour betul-betul paham bagaimana membuat kami merasa kerja keras kami worth it. 

Mr. Reid (Baseball coach): give it your best shot

Salah satu kegiatan saya pada musim panas adalah ikut Little League yaitu liga bisbol untuk anak-anak di bawah usia remaja. Ayah saya mendorong saya untuk aktif dalam kegiatan olahraga (mungkin karena beliau khawatir aku sudah mulai menggendut :D). Saya memang tidak jago, sudah badan saya gendut, lari saya lambat, menangkap bola masih payah tapi Mr. Reid terus meyakinkan saya kalau saya bisa. Bahkan sesudah latihan tim dia menyediakan waktu untuk melatih saya menangkap bola dengan sarung tangan bisbol. Ketika selesai dia selalu bilang, “Good job, Monica!”

Ibu Surti (Wali kelas XI SMA): ketekunan dan fokus

Ibu Surti adalah guru matematika di SMA Santa Ursula yang sudah senior. Beliau sudah mengajar selama puluhan tahun dan banyak kasus di mana beliau mengajar lintas generasi dalam sebuah keluarga. Ibu Surti terkenal dengan ketegasannya dan prestasinya sebagai guru (seingat saya beliau pernah memenangkan penghargaan mengajar). Ibu Surti terkenal dengan slogannya, ‘Belajar 4 jam sehari!’. Pada perjumpaan pertama di awal tahun ajaran, dia menyuruh kami untuk menulis itu dimana-mana, entah di agenda, atau di tempelan dinding, dan di dalam hati dan pikiran kami untuk belajar empat jam sehari. Selain slogan terkenal itu, Ibu Surti juga terkenal dengan aturan tangan kosong saat Bu Surti sedang mengajar. Maksudnya? Ketika Bu Surti sedang menjelaskan sesuatu, semua mata harus ada pada papan dan tangan harus kosong. Tidak boleh ada yang mencatat sambil mendengarkan. Metode Bu Surti mengajarkan kami untuk fokus 100% dan menghargai orang yang sedang meluangkan waktu dan tenaga untuk kita. Hal ini sangat relevan dengan menjamurnya smart phone dan media social yang kini mudah menjadi distraction.

Ayah saya (Pendidik saya seumur hidup): giving your best

Di samping pekerjaannya sebagai pegawai negeri di salah satu badan negara, ayah saya juga seorang dosen dan sering menjadi pembicara seminar. Ayah saya juga gemar menulis dan tidak jarang tulisannya dimuat di media massa. Ayah saya mendidik saya dengan keras ketika saya masih anak-anak. Ketika saya SD ayah saya selalu mendorong saya untuk memberikan yang terbaik. Standar yang ditetapkan ayah saya pun tinggi, nilai ujian saya harus di atas 95. Kata-kata ini selalu saya ingat sejak kecil, “Kamu harus kerja keras! Kalau nggak, nanti jadi pembantu!” Untungnya tuntutan keras itu diimbangi dengan ayah saya yang selalu sigap untuk membantu saya belajar dan mengajarkan saya materi yang saya bingungkan (biasanya matematika). Dari dulu saya heran kenapa ayah saya masih ingat pelajaran yang diterimanya 30 tahun yang lalu. Ayah saya bisa mengajar dengan sistematis dan mudah ditangkap. Biasanya sesi-sesi diajarin Papa diselingi cerita-cerita semasa ayah kecil seperti membuat ringkasan di kertas yang dilipat-lipat yang bisa dipelajari di atas kerbau atau dibaca-baca di gubuk di ladang.  Kegigihan ayah saya, seorang anak petani yang bekerja keras sehingga mendapatkan beasiswa S2 dan S3 di Amerika akan selalu menjadi inspirasi saya untuk bekerja keras.

Selain membantu saya belajar, ayah saya juga sering membantu saya membuat science project. Waktu itu (saya lupa kelas berapa) saya ditugaskan membuat science project tentang pabrik. Ini merupakan area spesial ayah, dengan latar belakang teknik industri dengan fokus di manufaktur. Saat itu saya mati gaya. Gimana membuat replika pipa-pipa yang ribet dan dapat dibuat tepat waktu. Setelah research di internet saya menemukan diagram alir proses pabrik gula. Dari situ ayah saya memberi ide untuk menggunakan botol air mineral bekas sebagai replika bejana dan pipe cleaners (bahan kriya yaitu kawat yang bulunya warna-warni) sebagai pipa aliran. Ayah saya membantu saya membuat lubang di botol aqua dan saya membengkok-bengkokkan pipe cleaners mengikuti aliran di pabrik gula itu. Karya saya mendapat banyak pujian dan dalam hati saya sangat berterima kasih pada ayah saya. Ayah saya mendidik saya untuk melihat ke sekitar dan kreatif memanfaatkan bahan yang sudah tersedia. Ayah saya mendidik saya untuk mengerjakan sesuatu dengan serius tapi juga dinikmati.

Bagian 2. Fitur penting dari semua pendidik tersebut: passion 

Benang merah dari semua pendidik yang meninggalkan kesan dan warisan yang tak ternilai dari hidup saya adalah: passion. Mereka begitu bergelora menjalankan perannya sebagai pendidik. Guru-guru saya tidak semata-mata mentransfer ilmu tapi mereka juga menanamkan nilai dan semangat yang tidak bisa dipelajari dari buku. Berkembangnya persebaran informasi yang pesat dan mudah dijangkau serta teknologi canggih seperti software e-learning, Google, Wikipedia dan Encarta dengan mudah bisa menggeser posisi pengajar. Namun peran penanaman nilai yang melibatkan hati, emosi, nurani, dan impresi yang ada pada seorang pendidik yang memiliki passion tak akan tergantikan. Semangat, gelora, dan passion seorang pendidik terlihat dari antusiasme dalam menjalankan perannya, perhatian pada tiap-tiap anak didiknya, serta upaya kontinyu agar anak didiknya menjadi lebih baik.

“What is a teacher? I’ll tell you: it isn’t someone who teaches something, but someone who inspires the student to give of her best in order to discover what she already knows.” ~Paulo Coelho

Passion seorang guru terasa ketika sang pendidik terlihat menikmati perannya. Passion dari pendidik yang benar-benar memaknai perannya terasa ketika yang terdidik terinspirasi. Pendidik itu bisa dikatakan berhasil ketika yang dididik terangsang untuk mendorong dirinya untuk memberikan usaha yang terbaik untuk menjadi lebih baik. Dan dari pendidik-pendidik dalam masa lalu saya, saya merasakan passion itu sebagai stimulasi. Pendidik-pendidik itu tidak sekadar menyuruh anak-anak untuk mengerjakan PR halaman sekian, atau ulangan harian tanggal sekian, tapi pendidik-pendidik itu menantang kami untuk melampaui zona nyaman, kreatif menjadi diri sendiri, percaya diri dengan hasil usaha sendiri, dan selalu memberikan upaya maksimal. Pendidik itu tidak hanya mengajar, tapi menginspirasi, seperti dalam kutipan oleh penulis terkenal, Paulo Coelho.

Oleh karena itu saya sedih ketika mendengar teman-teman saya mengucapkan, “Guru di sekolah gue sih gabut (gaji buta) banget, jarang masuk, nggak pernah ngajar.” sehingga ujung-ujungnya mereka beralih ke tempat bimbingan belajar atau guru les privat. Hal ini memang tidak digeneralisasi bahwa ini terjadi di semua tempat tapi tidak bisa dipungkiri kalau ini sudah terjadi di banyak tempat. Guru les yang pintar bisa dibeli waktu dan jasanya, tapi penanaman nilai sulit untuk dibeli. Sayang sekali mereka kehilangan waktu dan momen berharga untuk dididik dengan layak. Interaksi antara pendidik dan yang dididik seharusnya menjadi momen berharga untuk menginspirasi dan diinspirasi. Pendidik sepatutnya tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga pelajaran nilai-nilai hidup dan semangat..dan pendidik sepatutunya memaknai perannya dan menyadari setiap hal yang diucapkan, teladan yang diberikan, dan sikap yang ditunjukkan memberikan impact yang besar pada anak didiknya.

Kepada semua pendidik-pendidik saya, saya berterima kasih. Saya harap dapat memantulkan nilai-nilai yang mereka tanamkan ke orang lain. Saya juga berharap kualitas pendidik di negara ini meningkat, tidak hanya dalam hal kecakapan dalam ilmu, tapi juga kesungguhan dan pemaknaan dalam menjalankan peran. Semoga pendidik yang sudah ada memiliki pikiran yang terbuka dan kerendahan hati untuk memperbaharui metode mengajar yang relevan dengan zaman sekarang dan memperlihatkan passion mereka sebagai pendidik. Entah berapa tahun lagi, saya sendiri ingin berkeluarga dan mempunyai anak. Saya ingin memercayakan pendidikan anak-anak saya pada pendidik yang antusias menjalankan perannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s