Hidup dengan adik yang sakit

Health is priceless, don’t ever take it for granted.

Udah sekitar 5-6 tahun terakhir, adek gue sering sakit. Gue gak akan sebut adek yang mana, namanya siapa, atau sakitnya apa..pokoknya sakitnya yang bikin dia ke dokter sana sini, membuat dia terkapar, dan membuat orang tua gue super khawatir. Satu minggu terakhir, dia dibawa ke shinse yang sudah berhasil mengobati tante gue (tante gue kena penyakit berat di beberapa organ tubuhnya). So far shinse mengarahkan pantangan makanan dan saran mengubah gaya hidup seperti gak boleh capek, banyak minum air, dll. Sejak ke shinse itu pilihan makanannya jadi dikit. Hal ini juga jadi berimbas ke isi rumah.

Hidup dengan adik yang sakit berarti udah resiko kalau rencana jalan-jalan tiba batal karena harus ke rumah sakit.

Hidup dengan adik yang sakit berarti udah resiko kalau liburan ya di rumah aja, ya gak jauh-jauhlah biar dia gak terlalu capek.

Hidup dengan adik yang sakit berarti gak bisa liburan yang seru-seru sekeluarga.

Hidup dengan adik yang sakit mengingatkan kita bahwa kesehatan itu priceless.

Hidup dengan adik yang sakit menguji ketegaran, lapang dada, dan kesabaran.

Hidup dengan adik yang sakit menguji kerelaan lihat dia dibeliin mainan mahal-mahal karena dia gak bisa menikmati aktivitas fisik buat anak seusianya.

Hidup dengan adik yang sakit sometimes has to mean you have to cancel your plans and quit your social life for a while to be there for your family, the people who love and need you the most.

Hidup dengan adik yang sakit menguji sampai sejauh mana kita bisa mengasihi tanpa syarat.

Hidup dengan adik yang sakit menguji kekuatan menahan air mata saat mendampinginya buat menjaga semangat dan perasaannya.

Memang susah melihat berkat di kondisi sulit, tapi saya percaya ini semua ada maknanya, yang sudah di-set oleh Tuhan. Selama Allah yang jadi sumber harapan, jadi pegangan, dan kita berserah, everything will fall into place. Pemahaman ini gak instan, in my case, diawali dengan rasa menolak dan bertanya-tanya. Setelah melihat mama yang terus berjuang gak tidur buat mendampingi anaknya, papa yang matanya merah dan suka merenung, dan adek yang terkapar lemas akhirnya perasaan negatif itu luruh, hati tergerak dan kadang air mata mengalir.

Hidup dengan adik yang sakit, apakah sebuah anugerah? Ya, mungkin. Bagi gue anugerah itu gak harus berbentuk sesuatu yang manis. Bisa saja anugerah itu adalah kesempatan untuk mendekatkan kita dengan Tuhan dan dengan orang-orang yang kita kasihi. Tuhan memercayakan adikku di tangan keluarga ini dan semoga Tuhan juga menguatkan kami untuk mengasihinya.

One thought on “Hidup dengan adik yang sakit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s