Cepat sembuh adikku

Sabtu, 4 Agustus 2012 merupakan salah satu hari terkelam dalam hidupku. Sekali lagi, di tahun yang sama, I have to experience another life-death experience yang menimpa orang yang kukasihi, sebelumnya sahabatku, kali ini adikku.

Seperti post sebelumnya adek gue emang udah sering sakit sampe diopname…tiphuslah, DBD-lah. Tapi kemaren jauh lebih parah dari biasanya, kalau istilah shinse ‘dikit lagi nyawa melayang‘ atau istilah tanteku: ‘ bisa kelolosan‘.

Yesterday’s horrific scenes keep replaying in my head. My sibling’s seizures, my father sobbing and panicking, the horrific seizures on our way to the Emergency Room, the fear of losing another loved one, my mother’s tears, seeing my sibling put on a life support machine………….it was too much to bear. Melihat ibuku yang sedih dan ayahku yang menangis histeris, tangisanku kutahan dan aku peluk papa biar tenang. Dalam keadaan gini papa mama harus tenang dan kuat. Melihat mamaku yang tegar made me think: my mother is the strongest woman I know. 

Adikku kini berbaring lemas di ICU, dipasang pada alat life support yang membantunya bernapas. Nonton Grey’s Anatomy aja gue bisa nangis, kemaren rasanya berjuta kali lipat. Taukah kamu, the worst headaches are those from too much crying? Aku baru mengalaminya Februari lalu sekarang harus mengalaminya…lebih sedih lagi aku harus menyaksikan orang tuaku mengalaminya. Momen papa memeluk adikku yang tengah kejang sambil menangis dan berteriak, “Ya Tuhan anakku, anakku, selamatkan anakku,” sampai sekarang membuatku menangis. Seeing your parents sob is unbelievably heartbreaking.

Jadi di ICU itu tidak boleh ada keluarga yang menemani, cuma boleh pas jam besuk aja. Keluarga disediakan ruang tunggu yang bisa jadi tempat gelar kasur buat istirahat gitu-gitu. Tadi malam yang stand by adalah kedua orang tuaku. Aku disuruh pulang buat menjaga adikku yang satu lagi. Lagipula kepalaku sudah sangat sakit karena kebanyakan menangis. Sebelum pulang aku dan mama masuk ke ICU buat menengok keadaan adikku. Biasanya kalau diopname adikku hanya diinfus terus yaudah aja gitu. Kali ini jari-jari tangannya dijepit dan dipasang alat buat mendeteksi denyut jantung (yang layarnya itu garis-garis gelombang, gue gak tau namanya). Di mulutnya juga terhubung dengan alat bantu pernapasan. Dia masih belum sadar. Ketika mama memegang tangannya dia bergerak dan menggenggam tangannya. Sungguh pemandangan yang pilu. Pilu sekali. Kelihatan sekali bahwa adikku kangen sama mama. Dia takut di situ sendirian di tengah orang-orang yang gak dia kenal. Dia takut. Aku berulang kali ngomong, “Halo dek, kakak sama mama di sini. Jangan takut ya, kita gak ninggalin kamu. Mama Papa di sini kok. Jangan takut ya, kamu gak sendirian. Minta pertolongan Tuhan, dek. Jangan takut ya. Kakak percaya kamu bisa. Kakak yakin kamu bisa dek.” Adikku yang tadinya badannya bergerak setelah kami dekati dan aku dan mama bicara dia bereaksi. Dia merespons dengan bergerak. Aku tau dia gak mau ada di situ. Dia ingin pulang ke pelukan keluarganya. Trust me little one, we desperately want that too. Tak lama kemudian suster meminta kami untuk keluar agar adikku dapat istirahat dengan tenang. Mamaku menangis dan tak tega meninggalkannya, tapi demi pemulihan dia menurut. Sungguh pemandangan yang sedih mellihat adikku yang butuh mama harus dipisahkan dengan mamanya. Kami berjalan perlahan sambil melihat ke belakang, dia tampak gelisah tapi akhirnya badannya tenang lagi. Mamaku tak kuat menahan tangisnya dan menangis sambil berkata. “Dia kangen sama mama”. Saat kembali ke ruang tunggu dan menceritakannya ke papa, papa kembali menangis sambil ngomong “Ya Tuhan anakku, anakku”. Aku memeluk mereka berdua. I wish I could stay longer karena papaku butuh ditemani agar tenang. My dad collapsing atau kecapekan karena beban pikiran terus jatuh sakit is the last thing we need now. 

Akhirnya aku pulang. Kasihan melihat adikku 1 lagi seharian di rumah. Setelah seharian menahan tangis, akhirnya begitu menginjak rumah tangisku pecah. I sobbed and sobbed. Untung namboruku ikut menemani kami, nginep di rumah tadi malam. Dia langsung memelukku. Adikku yang satu lagi yang tadinya ceria tau aku pulang terdiam.

Now all there’s left to do is pray. Kemarin aku curhat ke orang-orang terdekatku sambil menebar benih doa. Semoga dengan semakin banyak yang mendoakan, kuasa Tuhan semakin bekerja.

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga  tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. – Fil 4:6-7

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. – Fil 4 : 13

Cepat sembuh adikku. Kami semua sayang banget sama kamu, dek. Padahal pas kakak pulang kerja praktek kakak pengen main, nonton bareng, ngobrol, hang out sama kamu, dek. Sekarang kamu begini :”””( Kakak minta maaf atas semua kesalahan kakak ya dek. Kakak sayang banget sama kamu, cepat sadar dan pulih dong. We all love you so much.

3 thoughts on “Cepat sembuh adikku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s