My notes from the USA Study Talk: Towards a U.S. Higher Education

Seperti yang sudah gue janjikan, di post ini gue akan menulis hasil catatan dari acara yang diadakan oleh Stanford Club di @america Pacific Place, tanggal 12 Agustus silam. Acaranya waktu itu berbentuk presentasi dari orang-orang spesial yang sudah (dan akan) melanjutkan pendidikan pascasarjana (S2, S3, and both) di Amerika Serikat. Ada 4 sesi yaitu sesi pertama dari Bapak Willy (P.hD Chemical Engineering dari Stanford University saat ini bekerja di perusahaan konsultan engineering di Jakarta), sesi kedua dari Kak Danu (S1 Teknik Kimia ITB, S2 chemical engineering dari Birmingham, UK, bekerja di McKinsey dan tahun ini MBA dari Wharton Business School, University of Pennsylvania), sesi ketiga dari Kak Tiza (S1 Fakultas Hukum UI, S2 Hukum dari Harvard Law saat ini bekerja di sebuah law firm di Jakarta), dan sesi keempat dari orang U.S. Embassy tentang peluang beasiswa ke A.S.

here’s an example of my notes…tough to read, eh?

Sesi Pertama: Technical Graduate School

Pembicara: Pak Willy W., Ph.D. (meraih gelar S3 dari Chemical Engineering Stanford University)

Anecdotal information about studying abroad (buat S2 S3)

  1. It’s better to study in UI, ITB, UNTAR, Trisakti than to study in a no name school in the U.S.
  2. Americans are minority in U.S. Graduate Schools
  3. It is harder for international students to be admitted to U.S. schools.
  4. One does not need to pay for his graduate school education.
  5. If a professor wants you in his/her group you will have a good chance to be admitted. à true! Get a professor to like you!

Technical vs. Business

Technical Graduate School

Business Graduate School

Recommended to go straight to Grad School after college Recommended to have work experience (at least 2 years)
One can switch from technical to non-techical any time It’s a one way option: it’s very uncommon to switch from business to technical.
Mostly learn hard core Engineering or Science Learn from case study (experience) and soft skills
Discipline/major: technical area Discipline/concentration: management, marketing, finance

The key differentials between Master and Doctorate studies are:

Master:

–          Harder to get financial support

–          More of the same from what you’ve learned in undergrad school (more of the same stuff tapi lebih susah)

–          Research may/may not be required

–          Thesis may/may not be required

–          1-2 years

–          The class is smaller

Doctorate (P.hD):

–          For the academic path

–          Research is the big thing. Research is a must.

–          A totally whole new experience

–          Thesis and publication is a must.

–          Typically 4-6 years.

The preparation process steps:

  1. Research
  2. Strategize school applications (bagi jadi 3: dream yaitu sekolah impian yang cukup muluk, reality yaitu sekolah yang realistis dan terjangkau, dan backup yaitu sekolah jaga-jaga kalau yang 2 diatas gak tercapai)
  3. Do preparations (TOEFL, GRE, GMAT) Untuk Science dan Engineering TOEFL dan GRE is mostly a must.
  4. Research on fees (tuition, room and board, books).

Typical requirements to apply to graduate school:

–          Undergraduate transcript (GPA)

Yang diliat dari transkrip: credibility of undergraduate institution (aspek ini menguntungkan institusi yang sudah punya nama seperti UI, ITB. Kalau sudah terkenal kredibilitasnya –>more bandwith); GPA (Indeks Prestasi. Enough said.); Major/discipline (jurusan)

–          Personal essay atau Statement of purpose

This is an important element because it’s an opportunity to explain your self. It can be generic (umum).

–          Recommendation letters

Higher credibility if it’s from famous people (but make sure they know you well). Ensure it’s in favour of you (jangan sampai malah menjatuhkan haha).

–          Standardized tests

TOEFL and GRE are examples. Prepare them and do them well.

Thought Process

Pak Willy menganjurkan kita untuk membuat Thought Process. Bentuknya bagan yang isinya opsi-opsi untuk masa depan. Ini gue lampirkan hasil scan catatan gue tentang Thought Process milik Pak Willy sendiri saat beliau di persimpangan jalan. (Yeah silly me, I didn’t take a picture of it with my phone. Sorry for the bad handwriting.)

Sesi 2: Business Graduate School

Sesi ini disampaikan oleh kakak kelas di TK ITB, Kak Danu Wicaksana TK 2002 yang sudah meraih gelar S2 di bidang TK juga di Birmingham, bekerja di McKinsey dan tahun ini akan melanjutkan studinya di Wharton Business School UPenn (Univ. of Pennsylvania).

Why MBA?

Skills/knowledge, network (lihat alumni dan persebarannya di region sekitar Anda), Brand, career enhancer (as a stepping stone in your career), it’s necessary for advancement.

Your rivals:

Saat daftar di Business graduate school kamu bersaing dengan orang dari seluruh dunia dari berbagai profesi. Kak Danu cerita orang-orang di sekolah dia ada yang dari konsultan, musisi, pemain sirkus Cirque D’Soleil yang pernah kerja di NASA, pokoknya macem-macem! Sebagai orang Indonesia, kamu gak cuma saingan dengan orang berdarah Indonesia tapi juga orang asing yang bekerja di Indonesia. Pengalaman kerja di Indonesia bagi orang asing itu nilai plus bagi profilnya untuk masuk business graduate school. Dari 7 orang Indonesia di angkatannya, yang berdarah Indonesia 3, sisanya (4 orang) adalah orang asing yang kerja di Indonesia. 3 orang Indonesia itupun, 2 orangnya tinggal di luar negeri jadi Kak Danu jadi satu-satunya orang Indonesia yang emang dari Indonesia. Can you imagine that.

Typical MBA Profile

Kak Danu memberikan gambaran profil tipikal dari mahasiswa MBA.

GMAT Range: 530-790

Work experience: 4 years –> hal ini penting karena di dalam kelas itu dosen bukan sumber informasi tapi moderator diskusi dari mahasiswanya saat studi kasus. Kebayang kan kalau baru lulus dan belum biasa kerja bisa terbengong-bengong pas diskusi berjalan oleh orang-orang berpengalaman begitu.

International students: 37%

Enrollment rate: 11%

Median GMAT: 720

How to apply:

– online application form

– application fee (200 – 300 USD)

– GMAT / GRE dan TOEFL (biaya GMAT: 250 USD)

– essays (4-7 per school; 500-600 characters) Penulisan essay bersifat iterative yaitu bikin, edit, revisi sampai berulang kali. Jadi bukan sekali jadi gitu.

– Transkrip

– Letter of recommendation (2-3 per school)

– Resume (atau CV)

-Interview (bisa dengan pegawai MBA admission atau ada juga yang memercayakan interview ke tangan alumni)

Timeline

Round When? Decision Release
Round 1 Early October Late December
Round 2 Early January Late March
Round 3 March/April May

Daftar di Round 3 gak dianjurkan kecuali kalau CV kamu benar-benar luar biasa.

Tuition Fee + Expenses

Generally: 85.000 USD sampai 100.000 USD (alias 850 juta rupiah sampai 1 miliar rupiah, asumsi 1 USD = 10.000 Rupiah). Di Wharton Business School Tuition Feenya sebesar 55.000 USD.

Tips for the Essay

– bold, high aspiration

– structure, clear story line

– Focus on things that differentiate you

– Make sure it is aligned with the recommendation letter

– Spare 2-3 months before the deadline. Iterations –> painful yet memorable

Tips for the Recommendation Letter

– put someone that knows you well

– give them time

– alumni dari sekolah yang diincar –> sangat bagus, tapi it’s not a must.

Considerations: can I get to where I want without an MBA?

Sesi 3: Law Graduate School

Pembicara: Tiza Mafira FH UI 2002, Harvard Law School 2009-2010

Dari 160 orang mahasiswa, Kak Tiza adalah satu-satunya mahasiswa Indonesia.

How do I get into Law School?

1. Don’t ask me! Google it.

2. Map what they want. Bikin tabel yang terstruktur yang berisi persyaratan dan informasi penting tentang sekolah-sekolah yang menjadi pilihan kamu.

3. Kill the TOEFL. Sering-sering latihan, kerjain soal sebelum tidur, bisa latian online di Testprepractice.net

4. Personalize your statements:

– open with an anecdote

– exaggerate but never lie

– aspire to make an impact (gak harus sosial)

– Target the uni

5. Recommendation letter

– approach your employer or your teacher

– especially those who know you well

– help them with suggestions (don’t make the letter for them though) Send a draft (1 paragraph is enough)

6.  Find funding

Kata Kak Tiza soal funding jangan sampe jadi penghalang sampe kamu gak berani nyoba. Try everything: Universitasnya sendiri, Fulbright, Law firms, other companies, pilihan terakhir: deferral (kamu keterima tapi gak langsung masuk tahun ini karena belum sanggup tapi spot kamu diamankan buat tahun depan. Jadi kamu dikasih 1 tahun buat nyari biaya).

Aim high, aim plenty.

Sesi 4: Graduate Scholarships

Types of Scholarships:

  • Fellowship program
  • Local government sponsor
  • Alumni awards
  • Government sponsored funding
  • Graduate assistance (jadi tenaga pengajar S1, common for S2) -> awarded by graduate school; throughout campus; see listings
  • Research assistance (common for S2) –> by professor; contribute to research; work closely with professor; within office hourse
  • Teaching assistance (common for S2) –> awarded by the department; take teaching classes; demonstrate ability of English; has prior teaching experience

Scholarship facts:

  • highly competitive
  • know what you want to achieve in the next 5 years
  • usually awarded at the beginning of the academic year
  • coverage from 1 semester, 1 year, to 4 years (it varies)
  • some schools let overlapping scholarships.

How you start

Start the research –> Read requirements for eligibility –> Check the deadline –> Prepare –> Submit early –> Do the same for other scholarships

General preparation

  • complete admission application
  • complete scholarship application
  • essay/statement of purpose
  • others: educational and career plan; thesis and dissertation plan; project description (2-5 pages)

Sumber beasiswa:

  • AMINEF
  • USAID
  • Bappenas
  • DIKTI
  • Ford
  • Rotary Club

For more info just click:

Segitu kira-kira hasil coret-coret di buku tulis gue. Sesudah ke-4 sesi ada sesi tanya jawab (yang jawabannya udah gue selipin ke catetan di atas.) Selesai tanya jawab acaranya bubar, tapi pembicara-pembicaranya beberapa masih stand by dan dikerubungin. Gue pun menyempatkan diri buat nanya-nanya dengan pembicara-pembicara tersebut terutama yang sebidang (kebetulan 2 dari 4 bidangnya sama-sama teknik kimia).

It was a great event! Simpel, to the point, gak bertele-tele, enlightening dan definitely fruitful. I found it really relate-able karena bokap gue juga produk dari U.S. Graduate school and I was around during the process. Bokap gue mendapatkan beasiswa dari Bappenas (dan sampai sekarang mengabdi di situ) untuk melanjutkan studi di Rensselaer Polytechnic Institute di NY buat S2 dan S3. Bokap gue cerita sebenernya waktu itu udah dapet tawaran untuk sekolah di negara lain tapi untungnya bokap gue keukeuh untuk membidik Amerika Serikat. Now I guess it’s my turn😀 Terima kasih Indonesia Mengglobal, Stanford Club, @america, dan semua pembicara super oke Semoga acara seperti ini makin sering, berkembang, dan terjangkau bagi semua anak muda. Tambah lagi harapan gue, semoga kelak gue bisa menjadi pembicara di panggung itu hihi :”D

A little note

Maaf banget kalau infonya ada yang miss sana sini, buat yang pengen menyimak ala live on the spot, @america menyediakan hasil rekaman (satu acara penuh loh, bukan potongan-potongan). Ini link video untuk sesi graduate (pendidikan pasca sarjana): http://www.atamerica.or.id/video/detail/319/Presentation_Stanford-Club-Toward-a-U.S.-Higher-Education-Graduate

3 thoughts on “My notes from the USA Study Talk: Towards a U.S. Higher Education

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s