Diskusi Ahok dengan Ketua BEM Universitas Jakarta: Double Facepalm

ahok_ketua bem senat

Disclaimer: The short essay below contains my personal views reacting to the content of the Youtube Video: 08 Nov 2012 Wagub Bpk. Basuki T. Purnama Menerima Ketua-BEM-Senat. I have no background what so ever in political science.

Jadi minggu lalu pas lagi belajar bareng buat UAS, temen gue Ete nyeletuk, “Eh gila gue kemaren ga belajar, nonton diskusi Ahok sama ketua BEM universitas. Parah banget.” Karena penasaran, gue sempetin nonton. Mumet juga otak gue pengen meledak diisi nanoteknologi dan menghitung akibat ledakan pabrik kimia. Udah basi kali ya, udah sebulan sebenarnya setelah video ini dipost dan gue baru tau. Haha, tapi yasudahlah, gatal sekali ingin menuliskan kajian singkat ala Monce.

Video ini berdurasi 1 jam. Ahok mengundang para ketua BEM (ekuivalen dengan KM ITB-nya gitu). Basically, rapat akbar ini tujuannya buat mengajak para ketua BEM ini menjadi motor pergerakan pengawasan program kerja DKI seperti pompa buat banjir dan pendataan pelayanan kesehatan. But somehow, the discussion branched out to topics such as Indomaret, Alfamart, Seven Eleven, Circle K and some confusion/misconception tentang makna pasar dan penawaran (penawaran is supply, not haggling)Honestly, I was expecting a more dynamic discussion dengan arah yang positif. Ideas flying here and there. Young spirits stimulated to take action and make a difference. Halooo ini ketua BEM Universitas Jakarta gitu! Aktivis! This is supposed to be like a meet and greet gitu. Diskusi langsung tanpa harus panas-panas teriak-teriak bikin jalanan macet. Gue emang orang yang anti demo sih, lebih suka practical actions. Menurut gue demo nggak efisien dan kurang efektif. Yap betul saya belum pernah berdemo. Sotoy? Maybe. But seriously, that method leaves too much room for the misuse of third party people. Anyway di sini gue gak bermaksud untuk ngejudge siapa-siapa, but honestly it’s pretty hard not to be judgmental seeing something as reactive as this. I do not know any of the students invited, well kita gak tau kan beyond that meeting room siapa tau karya mereka luar biasa. But objectively speaking, the students’ reaction did not meet my expectation, especially when it came down to the one in the picture below.

their_stupidity_will_make_you_facepalm_640_high_30

 Double Facepalm

When the Fail is so strong, one Facepalm is not enough.

Oke gue emang gak punya dasar ilmu politik sih, tapi berikut point-point yang somehow menggelitik dan pengen gue highlight.

  • Transparansi nggak penting? Setiap gue research-research paper tentang development untuk urusan MUN atau bikin paper, masalah transparansi itu selalu deh jadi penghalang untuk perkembangan – dan masalah transparansi di sini udah jadi reputasi level global. Terus ntar kalau ada korupsi siapa lagi yang berkoar-koar di jalanan? Mahasiswa juga bukan? Kontradiktif nggak sih? Transparansi dibilang tidak esensial, tapi kegagalan dalam transparasilah yang akhirnya mendorong orang-orang turun ke jalan. Menurut gue sih, transparansi itu salah satu kunci sustainability, and that’s exactly what we need now. 
  • Tidak ada yang dilakukan dengan kegiatan pengawasan? Haloo di situlah kreativitas kita sebagai anak muda bisa bermain. Inisiatif lah…pas lagi survey/pendataan siapa tau muncul ide-ide brilian dan memberikan impact berarti. Pas dulu ikut MUN gue baca paper tentang bottom up process dan inclusive involvement dalam pembangunan, dan ketika dengar Ahok mengusulkan pelibatan mahasiswa dan pengawasan gue cukup excited karena DKI Jakarta bergerak ke arah situ. Tapi kenapa sampe ada respons menolak yah? Segitu pesimiskah kita, atau rasa sakit hati/kecewa karena masa lalu sebegitu dalam? Ada pepatah, dari pada mengutuk kegelapan lebih baik menyalakan lilin. Contoh yang terpikir oleh gue mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan pengawasan ini bisa kolaborasi dan memanfaatkan media/talenta marketing, atau mahasiswa bisa blend in dengan masyarakat untuk raise awareness entah untuk peningkatan minat baca anak-anak, tidak membuang sampah ke kali, dan lain-lain.
  • Pembangunan manusia. Hmm pembangunan manusia yah. Menurut gue itu abstrak dan complicated. How do you expect, sekian ratus/ribu orang pemerintah daerah DKI memanusiakan sekian belas juta jiwa DKI Jakarta? Ya skala kecil aja deh, gue dan temen-temen gue di himpunan aja tidak semudah itu melakukan ‘memanusiakan manusia’. That’s why upaya ‘memanusiakan manusia’ secara konkrit dilakukan melalui aksi nyata seperti capacity building activities seperti workshop keilmuan/keprofesian dan kegiatan community development seperti yang sekarang sedang berjalan: pengembangan bisnis kecimpring dari masyarakat Ciparay. Kecimpring di Ciparay tadinya dijual ke Tengkulak. Pas kegiatan pengabdian masyarakat angkatan gue muncul ide, gimana kalau kita ngajarin orang Ciparay untuk mengolah kecimpring jadi snack dengan packaging menarik dan rasa-rasa enak supaya jadi sumber pendapatan yang sustain dan meningkatkan produktivitas? Ternyata upaya itu berhasil, sekarang kecimpring Si Ngkong udah dipasok ke toko-toko sekitar Bandung, termasuk toko di ITB, TOKEMA. Atau saat ini, salah satu temen gue, Wira, jadi salah satu aktivis dalam gerakan Ganesha Hijau yang bekerja sama dengan Ridwan Kamil. Gue diceritain intisari gerakan mereka dan tertarik. Gerakan mereka sederhana, beberes kota Bandung tapi dengan kolaborasi antar jurusan dan strategi pembagian SDM yang terarah. Dari hal-hal konkret seperti itu terjadi interaksi, transfer pengetahuan dan pendapat, dan pembelajaran nilai. Kita gak tau ketika mahasiswa terjun untuk pengawasan terjadi ‘pembangunan manusia’. Ketika kita willing untuk terjun, berdialog dengan masyarakat, bertukar pikiran, dan syukur-syukur menginspirasi dan terinspirasi, ya menurut gue sih ada bibit-bibit membangun manusia. Gue gak ngerti juga sih jenis pembangunan manusia apa yang didambakan di dalam video ini, bentuk nyatanya apa, tapi ya dengan kreativitas dan optimisme usulan dari Bapak Ahok ini bisa jadi jawaban atas dambaan itu.

Well bagi penggagas opini transparansi tidak esensial, well bagaimanapun, sebagai warga beradab ya itu pendapat anda dan ya sudah. Entah itu dibangun atas kerangka logika apa, gue gak tau deh. Ya ada api ada asap, ada opini ada kritik lah ya. Sedih sih lihat respons-respons kritik sampai asah parang segala. Kalau kalian memang mengupayakan kemajuan, seharusnya lapang dada lah, kecuali kalau udah terbawa entah ego atau emosi.

Video ini menjadi bukti kalau Ahok ini membawa angin segar. Gue selama ini rada muak sih, kalo nonton politik di tivi ya lagi-lagi kayak begitu, ngomongnya lenje dan wacana-wacana ngawang. Seneng liat pejabat dengan strategi yang siap jalan begitu. Gaya bicaranya yang semangat dan galak ditambah substansi omongan yang mengena, to the point, dan langsung straight to the facts patut dicontoh.

Sebagai generasi muda, dengan energi yang masih tinggi ya kita open minded lah. Gue sebagai mahasiswa, jika duduk di kursi ketua BEM yang diajak diskusi itu sih pasti antusias. Gila coy! That is a huge opportunity yang sayang kalo dilihat semata-mata sebagai kerjaan shift-shiftan mengawas pompa/CCTV. Bisa dilibatkan kayak begitu bisa memberikan manfaat banyak seperti membangun koneksi, membangun soft skill, dan memberikan kesempatan untuk membawa kebaikan buat orang banyak. Pengalaman pahit di awal tahun ini mengajarkan gue kalau hidup itu terlalu gak ketebak panjang/pendeknya untuk menyia-nyiakan kesempatan untuk membawa kebaikan buat orang. Temen-temen gue aja, bela-belain seleksi dan bolak-balik Jakarta Bandung untuk ikut dalam UKP4 (Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan) atau Open Government Indonesia dan dari cerita mereka, banyak manfaat loh. I am in no position untuk memberi statement ‘jangan-jangan dikendarain kepentingan pihak ke-3’ but at least dari kacamata seorang mahasiswa, seriously this is an opportunity. So, I guess it would be good for us to facepalm and carry on. Carry on and take action to bring betterment for the people around us in our own unique and effective ways.

facepalm-and-carry-on

4 thoughts on “Diskusi Ahok dengan Ketua BEM Universitas Jakarta: Double Facepalm

  1. kajian lo menarik banget mon dan gue setuju, semacam akhirnya diberi kesempatan untuk terlibat tapi malah responnya negatif. banyak orang ternyata belum se-open minded itu.

    btw, gara-gara ikut mun pengetahuan lo luas banget sekarang ya mon haha keep it up and keep writing, me love it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s