Selamat jalan namboruku hasian, Ambo Ina

Sekali lagi, tahun 2013 diawali dengan kehilangan. Namboru gue (istilah Batak untuk bibi/tante dari pihak ayah), Katharina Simarmata, atau kami panggil Ambo Ina, dipanggil Tuhan, pada 16 Januari silam karena sakit kanker ganas. No matter how many times you go through this, it never gets easier. Hari selasa jam 5 pagi gue ditelfon nyokap. Feeling gue gak enak. Ngapain coba nelfon pagi-pagi buta. These are the calls that I always dread.

Mama: Monik. Masih tidur kau?

Monica: Iya, Ma ada apa?

Mama: Kau bisa gak ke Jakarta sekarang? Ambo Ina meninggal.

Monica: Hah?

Mama: Ambo Ina udah pergi.

Monica: Hah? Kapan?

Mama: Tadi pagi.

Monica: Haaa (nahan tangis). Oke-oke, aku pulang sekarang.

Perasaan gue campur aduk antara syok, gak percaya, dan sedih. Padahal baru beberapa hari yang lalu gue ketemu Ambo Ina di rumah sakit. Padahal waktu masang pohon Natal Ambo Ina bantuin gue bikin hiasan Natal buat digantung. Selesai menutup telfon, gue langsung bergegas ke Jakarta dan meninggalkan semua hal yang harus gue kerjakan di Bandung. Why? This is Ambo Ina, we’re talking about. The only aunt I am very close to.

rip ambo ina-1

Ambo Ina adalah anak no.7 di keluarga bokap gue. Dari 4 cewek anak opung gue, Ambo Ina ini bisa dibilang anak cewek yang berhasil. Dia lulusan fakultas ekonomi UKI dan karirnya di PT Indah Kiat (Sinarmas) juga sudah oke. Ambo udah berkarya selama 20 tahun. Ambo Ina stayed single until her death for reasons that until now I do not know. But what I know for sure is, Ambo Ina was very very kind. She was known in our family for her generosity and how selfless she is. Di keluarga gue, masih banyak yang secara ekonomi masih susah dan Ambo Ina ini biasa membantu saudara-saudara gue dengan tulus. Even when she was on her death bed, she was always helping others. Waktu gue nyasar abis interview Visa, Ambo Ina yang jelasin arah jalan via telefon.

Ambo Ina: my roommate during high school

Gue memiliki hubungan yang dekat dengan Ambo Ina karena gue tinggal sekamar dengan Ambo selama 1,5 tahun. Pada waktu itu gue menginjak kelas X (kelas 1 SMA). Rumah gue masih di Sawangan, Depok dan perjalanan pulang-pergi dari rumah ke sekolah setiap pagi dan sore gak feasible. Bisa tuir di jalan apalagi kalau gue udah ikut kegiatan yang bisa sampe sore, pulang ke rumah bisa pas di peak kemacetan. Ya udah waktu diputuskan gue bakal numpang di rumah bapak tua gue di Cipayung. Ambo Ina selama di Jakarta juga tinggal sama keluarga bapak tua gue itu. Kebetulan anak bapak tua gue di Cipayung satu sekolah sama gue (meskipun beda angkatan) dan ada yang sebaya (tapi beda sekolah) jadi gue bisa nebeng ke sekolah setiap pagi. Selama 1,5 tahun itu gue numpang di kamar Ambo Ina karena yang bisa memuat gue di situ. Jadi bisa dibayangkan selama 1,5 tahun gue udah tau kebiasaan hidup Ambo Ina. Karena Ambo Ina juga satu-satunya wanita yang Katolik di rumah bapak tua gue, gue kalau gereja juga bareng Ambo Ina. Waktu luang seperti belanja ke Carrefour, ke salon atau facial di tempat perawatan kulit juga sudah sering kami lakukan bersama. Selama 1 tahunan tinggal pisah sama orang tua, Ambo Ina jadi guardian, roommate, dan teman gue.

Selain tinggal bareng pas SMA kelas X dan beberapa minggu kelas XI, beberapa bulan terakhir Ambo Ina juga tinggal di dekat rumah kami, di Bintaro. Gue inget di bulan Juli, pas masih kerja praktek di Gresik, gue menerima telfon dari nyokap. Pada saat itu gue lagi masak buat makan malem dan nyokap gue telefon dengan nada serius. Nyokap gue cerita, barusan di-SMS Ambo Ina, dia bilang dia di RS Harapan Kita dan kata dokter dia kanker stadium lanjut. I could hear the concern, fear, and confusion in my mother’s voice. Pada saat itu gue langsung khawatir. Ambo Ina? My closest aunt, divonis kena kanker stadium lanjut? Gue langsung SMS Ambo dan ngasih kata-kata penghiburan dan semangat.

Mungkin hal yang paling bikin gue terenyuh ketika mengingat Ambo Ina adalah because she was there ketika adik gue drop, kejang-kejang, masuk UGD dan tinggal di ICU selama beberapa minggu dipacu alat penopang hidup. I still remember clearly that frantic moment ketika bokap histeris melihat adik gue kejang-kejang dengan mata melotot ke arah belakang, Ambo Ina repeatedly say: tenangkan Bapak, hibur dulu Papa. Padahal pada saat itu Ambo Ina lagi dalam tahap-tahap treatment penyakit kankernya. Cancer treatment is very tiring tapi Ambo di situ. Di momen itu, Ambo menguatkan kami untuk mendoakan adikku agar bertahan hidup. Bahkan dalam minggu-minggu terakhirnya kalau main ke rumah, Ambo Ina mengomentari progress pemulihan adikku dan memotivasinya untuk makan banyak dan makan sehat.

Ambo Ina was loved by many

Ambo Ina memang tipe orang yang emang kesayangan semua orang. Jadi kemarin itu bukan cuma gue aja yang sedih banget. Bokap gue, orang yang berada di samping Ambo pada saat terakhirnya. Selama melayat kemaren bokap gue selalu duduk di samping tempat tidur dan peti matinya. Mata Papa sembap dan rasanya mengiris hati banget tiap Papa nangis tersedu-sedu. Selama seminggu terakhir sebelum Ambo Ina meninggal, Papa memang setia banget nemenin Ambo Ina. Bahkan beberapa hari sebelum masuk RS dan sebelum gue balik ke Bandung, bokap gue out of the blue, randomly di suatu malam kalau gak salah pas tahun baruan, Papa ngajak gue pergi liat Ambo Ina. Mungkin memang firasat kakak-adik kali ya. Pada saat itu Ambo Ina terbaring lemas lagi nangis. Nangis nahan sakit. Aku gak pernah melihat Ambo Ina nangis dan saat itu rasanya sedih banget. Dan ternyata beberapa hari setelah itu, Ambo masuk rumah sakit.

She prayed before leaving

Bokap gue cerita di hari terakhirnya di Bumi, Ambo Ina sudah mengalami kesulitan bernafas. Ambo Ina dioperasi di RS Carolus, rahimnya diangkat. Di hari itu, kata Papa sudah ada tanda-tanda kalau Ambo berjuang bertahan hidup. Di sore sebelum Ambo meninggal, Ambo diberikan sakramen pengurapan orang sakit. Dan di malam itu, entah kenapa mama dan adikku terdorong untuk mengunjungi Ambo Ina. Setelah mama dan adikku pulang, Papa memutuskan untuk tetap disitu bersama beberapa saudara lain. Jam 1 pagi, Ambo Ina terbangung meminta didoakan. Papa membisikkan doa di telinga kanannya, dan Mama Tua membisikkan doa di telinga kirinya. Waktu itu Papa gak ngerti maksud doanya doa perpisahan, bukan doa penyembuhan. Gak lama kemudian Ambo Ina menghembuskan nafas terakhirnya. Aku diceritakan, Ambo Ina pergi dengan tenang. Selama aku tinggal bersama Ambo Ina, Ambo memang orang Katolik yang taat dan rajin berdoa. Terenyuh rasanya ketika tau bahkan sebelum ia pergi, dia sempatkan untuk berdoa bersama. Di tengah sesak nafasnya dan perjuangannya, dia berdoa dan pamit.

Kepergian Ambo Ina menjadi peringatan akan besarnya kuasa Tuhan dan sifat kematian yang seperti pencuri. Kehadiran Ambo Ina semasa hidupnya entah kenapa selalu memancarkan kebahagiaan dan keceriaan. Kini, Ambo telah tiada dan aku gak tau keluarga besarku akan bagaimana setelah ini. I doubt that our family will be as lively, happy, and peaceful as it used to be 6-7 years ago. I’ve witnessed the hard times and her last months on earth though it was just a few times and it feels so heart breaking to let her go. Meeting Ambo Ina, talking to her, having her come over to our house, hanging out with her, are things I always look forward to. Now that she’s gone, there’s something missing. I guess she and Fanka had a lot in common. They were both lovable and so full of spirit and kindness. And now they’re both gone. I do not know if I’ll ever comprehend why God chose to take away the 2 ladies that I am very close to. But until then, the lesson I’ve learned is to never take a moment for granted and cherish the ones you love. Rest in peace, Ambo. God knows and I truly pray, the truth will set us all free. Kasih pasti lemah lembut, kasih pasti memaafkan, kasih pasti murah hati, kasih-Mu, kasih-Mu Tuhan. Semasa hidupnya yang kulihat, Ambo Ina adalah kasih. Selamat jalan Ambo Ina, namboru hasian, namborku tersayang. Until we meet again.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s