Tentang Kuliah di Bandung

suatu gambar yang gue liat di Path

suatu gambar yang gue liat di Path..dan jleb, ngena pisan euy!

Katanya kuliah itu bisa digambarkan dengan 3 kata: buku, pesta, dan cinta. Setelah lulus bulan Juli lalu barulah gue mengerti kegalauan senior-senior pendahulu saat harus move on dari Bandung. Bandung itu bukan hanya lokasi. I feel that I have an emotional connection with this city, bahkan melebihi emotional connection dengan Jakarta, my hometown. Di Bandung, terutama daerah Dago, Dipati Ukur, Setiabudi, Cihampelas, dan Ciumbeleuit, kalau lewat aja ada aja kenangan. Di cafe itu gue begadang sampe jam 3 buat bikin laporan labtek, cafe itu tempat gue putus, tempat bubur kacang ijo itu kesukaan apalagi kalau pulang malem abis acara himpunan, toko itu tempat beli kado si itu, panti itu tempat acara sosial yang kita organize pas lagi ospek, cafe itu tempat terakhir makan bareng si itu sebelum dia meninggal, studio itu tempat band kita dulu suka latian, spot itu tempat gue manggung pertama kalinya pas di Bandung, and the list goes on and on.

Dare I say, Bandung itu entah kenapa pas banget untuk kuliah! I feel that kuliah di Bandung = one of the best decisions I made. Menurut gue ini alasannya:

1. It’s close enough to Jakarta.

Jakarta, the land of opportunities (dan rumah juga untuk anak Jakarta hehe) cukup mudah dijangkau untuk tek-tok (istilah temen gue untuk pulang pergi dalam 1 hari) apalagi untuk urusan job seeking, datang ke acara seperti education fair atau acara-acara organisasi, atau nyari sponsor.

2. Bandung itu banyak tempat main.

This can be a distraction, tergantung orangnya. Tempat main/kongkownya beragam. Kafe untuk mamacan (makan makan cantik) banyak, tapi tenda buat makan tempur juga banyak. Buat makan cantik bisa ke Hummingbird, Rocca, Le Marly, Verde, apalah you name it. Buat makan tempur, bisa ke Balubur, tempat berlabuhnya perut-perut lapar putra-putri Ganesha pulang kuliah atau kegiatan unit/himpunan. Di situ ada Bungsu, Stalon (btw, nama yang tercetak di spanduk nasi uduknya bukan Stalon loh, ini semacam sebutan inside joke temen gue karena mas-mas yang jualan mirip Sylvester Stallone hahahaha), Nasi Mawut, nasi bistik, nasi ayam bakar padang, bubur kacang ijo, nasi goreng, martabak, apalah you name it.  Gue pernah jam 1 pagi sampai jam 3 pagi di Caniago, tenda roti bakar/indomi sama temen gue ngobrol ngalor ngidul, pernah juga jam 3 pagi ke Sadikin, warung indomi di Cisitu, buat ngobrol-ngobrol aja gitu. Oh dan so pasti Madtari nggak mungkin kelewat dong, tempat di mana kamu bisa makan keju pake roti atau keju pake mi. Atau mau nongkrong yang sedikit di atas makan tempur tapi masih laid back, alias tempatnya outdoor, dapurnya built in di mobil box, bangku-bangku plastik dan duduk-duduk santai, bisa ke Kedai Ling Ling (yang di deket Aloy, bukan yang Setiabudi) buat nyeruput Mango dessert atau ke susu murni DU. Buat yang suka night life juga ada pilihan bar seperti Camden, Beermart, Ergin, Dago 254, Om John, Triangle, atau night club seperti Southbank, Amnes, Mansion, atau Revel. Kalau seleranya mahal dan pengen yang rada high class, mau ke resto-resto atau bahkan ke hotel-hotel seperti di Trans Studio atau ke Padma. Mau makan haram pun banyak pilihan (hahaha) bisa ke Cibadak, Gang Sempit, Mi Kejaksaan, Subur, atau ke lapo-lapo. Kafe untuk produktif juga banyak. Yang harganya nggak begitu mahal, tapi sedia wifi, meja yang pewe, colokan, dan jam buka yang panjang. Misalnya ada Cokotetra, Siete, atau the good old classic Meksim (Mekdi Simpang atau McD Simpang Dago), tempat meet up sejuta umat. The good old classic phone call orang yang nunggu dijemput di Meksim, “Eh gue udah di samping patung Ronald McDonald, lo dimana?” Kalo udah mati gaya, beli eskrim deh. Gapapalah goceng melayang.

Kalau mau bonding bareng temen-temen bioskop/karaoke dimana-mana deket. Mau ice skating, bisa ke PVJ. Mau bowling, ada di Dago. Atau mau hiburan kere, bisa ke Bukit Bintang bermodal receh untuk duit satpam, lalu bawa gitar, terpal, makan mi kuah dan ngobrol-ngobrol ampe pagi. Atau bisa ke Moko. Atau bisa juga agak jauh ke Ciater berendam air panas. Gue sama temen-temen biasa ke Ciater malem banget (jam 10 masih janjian dan jemput-jemput orang, jam 11.30 nyampe TKP) terus selesai berendam (biasa jam 2 pagi atau jam 3 pagi) ke warung-warung lesehan yang di pinggir jalan buat makan mi kuah dan minum teh anget sambil disuguhin lagu pop sunda. Atau kalau mau pagi-pagi ke Tangkuban Perahu juga bisa. Gue pernah dulu sama temen-temen gue dari jam 9an sampe jam 3 pagi di Bukit Bintang ngobrol-ngobrol. Nggak bawa terpal, akhirnya duduk beralaskan plastik kresek dan keset mobil. Piknik deh kita (sebelom ke Bukit Bintang mampir ke Suryo Bundo beli nasi goreng padang berapa bungkus sama ke PHD beli pizza), dengan langit berbintang dan udara dingin, rame-rame ngobrol-ngobrol dan tak terasa udah jam 3 pagi aja. Abis dari Bukit Bintang, lanjut makan di Baso Semar, lalu secara impulsif tancap gas ke Tangkuban Perahu. Niatnya sih liat sunrise tapi karena gatenya baru buka jam 7, jadinya tidur bentar di warung-warung pinggir sambil pesen teh anget, terus naik ke Tangkuban Perahu buat liat awan dan sarapan pisang goreng. Kagak dapet sunrise, tapi pemandangannya tetep keren loh (dan super dingin dan berangin)! Kalau mau hiburan yang sekaligus bagus untuk kebugaran bisa ke Tahura (Taman Hutan Raya) either buat lari atau jalan atau bisa juga minjem sepeda dari tempat peminjaman sepeda dan sepedahan keliling-keliling. Kalau mau bener-bener getaway juga cukup convenient karena bandaranya cukup dekat dan kecil jadi ya gampang aja gitu, unlike di Jakarta yang harus jauh ke Soetta. Entah Bandung-Bali atau Bandung-Jogja bisa ditempuh dengan mudah😉

3. Kemana-mana deket.

Nggak usah menempuh 1 jam 2 jam, nggak usah masuk tol. Macet sih ada, apalagi akhir-akhir ini, tapi masih tolerable. Jadi nggak banyak energi dan waktu kebuang di jalan. Mau naik transport umum, ataupun kendaraan pribadi pun sama-sama nyaman. Angkotnya masih user friendly, unlike di Jakarta, pantat belom nempel ke kursi udah tancap gas aja deh alhasil mesti minta maaf kiri kanan karena nubruk. Huft.

4. Bandung nggak semahal di Jakarta.

Ini gue maksud untuk makan dan main dan..ngeprint! Hahaha. Untuk kosan nggak tau deh. Kalau meet up di Jakarta rasanya sekali makan yang keluar bisa di atas 150rb, di Bandung di tempat yang bagusan paling ya 80rb. Berkat teknologi bisa ngeprint pake mesin fotokopi, ngeprint murah dan banyak pilihan, bahkan 24 jam juga ada, tinggal jalan dikit ke Dipati Ukur.

5. Bandung sejuk.

Well, at some times Bandung sejuk, not all the time. Banyak pohon dan masih ada angin. Jalan kaki dari kosan ke kampus masih bisa dinikmati tanpa tersedak kentut bus. Kalau gue nggak pulang malam (dan masih punya tenaga), gue suka jalan kaki ke kosan. Mulai dari Labtek X, lewat tengah-tengah lewat kolam intel, Campus Center, Boulevard, lalu Jalan Ganesha, Borromeus, Jalan Hasanudin, lalu Bagusrangin. Jalurnya masih banyak pohon dan yang melewati jalan rame, paling pas nyeberang Jalan Dago. Sisanya masih enak buat jalan kaki. Kalau hujan dan banjir sih…lain cerita ya.

6. Bandung banyak acara.

Bandung itu rumah dari kampus-kampus, sebut saja ITB, Unpad, Unpar, Maranatha, ITENAS, Polban, Unisba, Unikom, ITHB, Enhai…jadi anak mudanya banyak. Ada aja sih acara buat ngisi waktu luang. Ada aja pameran ini, atau expo ini, atau lomba ini, atau festival itu, atau diskusi ini, atau seminar itu, market ini, atau pertunjukan di pusat kebudayaan ini, atau acara volunteering itu. There’s something for everyone. Keep your eyes and ears open for events and opportunities.

Jadi alasan-alasan di atas pretty much menjadi fondasi kuat untuk 4 tahun buku, pesta, dan cinta. Buku: kenangan belajar atau nugas dan memanfaatkan opportunity-opportunity yang ada untuk mengembangkan diri selagi masih mahasiswa. Pesta: main dan bersenang-senang menikmati masa muda. Cinta: ah ini sih tidak perlu gue jelaskan, haha. So, 4 years in Bandung is probably the best 4 years in my life…so far. Buat kamu yang masih kuliah di Bandung, enjoy Bandung to the fullest…and respect it to the fullest juga yaaa😉

3 thoughts on “Tentang Kuliah di Bandung

  1. halo monic! gue suka deh baca blog lo.. gue ikut link di blog gue yaaah
    sila kalo mau mampir ke dianlisa.blogspot.com tapi isinya masih dikiiit😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s