Pertama Kali Ambil IELTS

Setelah postingan Cara Dapet Skor TOEFL Tinggi Tanpa Les yang gue tulis 3 tahun lalu, kali ini setelah banyak request, gue mau nulis tentang IELTS! Jadi bulan Juli lalu gue pertama kali ambil IELTS.

Why?

Salah satu sekolah yang mau gue apply untuk S2 mensyaratkan IELTS, bukan TOEFL.

Seperti biasa, gue nggak les. Dalam rangka penghematan (hahaha) dan gue pede untuk IELTS nggak les (lain cerita untuk GRE yang gue les di Pascal). Piece of cake lah ya, dengan sombongnya gue pikirkan dalam benak gue. Gue nanya temen yang pernah IELTS dan TOEFL IBT katanya sih gampangan IELTS. Jadi gue agak ngentengin sih to be honest hahaha, apa karena suasana libur Lebaran juga ya, hmm entahlah. Gue ambil IELTS sengaja abis libur Lebaran biar libur Lebaran bisa gue pake buat belajar. Kerjaan gue cukup demanding, dari pagi jam 7 gue udah nangkring di kantor sampai malam jam 8, dan gak jarang juga pas weekend kerja juga, gak cuma di Jakarta tapi keluar kota/negeri, jadi libur seminggu itu bagai oasis di padang pasir. YES A WHOLE WEEK FOR ME! Berhubung gue gak suka liburan saat public holiday karena pasti rame pisan, what better way to use a week off than to study right?

Jadi kira-kira dua minggu sebelom tes gue daftar IELTS di IDP Pondok Indah karena deket rumah. Bayarnya 2,85 juta (mahal cyin), dan gue dapet tes di Hotel Mercure TB Simatupang. Oh iya, a little note, I wasn’t aware of this when I registered there, ternyata ambil IELTS di sana cukup rempong. Untuk semua section selain Speaking dilakukan di venue Hotel Mercure, sementara untuk Speaking dilakukan di kantor IDP Pondok Indah yang di Margaguna Raya (di ruko-ruko depannya pom bensin deket PIM 1 itu). Jujur gue baru tau itu pas ditelfon petugas sebelum tes dan sempet complain juga. Karena dalam bayangan gue, dalam suasana tes kan, si peserta psychologically harus dalam keadaan tenang. Kalau harus pake pindah tempat, iya gue tau dari segi jarak dekat, tapi dari TB Simatupang itu kan lalu lintasnya padat, ya itu menambah stress juga (tidak disediakan shuttle). Terus giliran Speaking itu baru ketauan pas kita tes, di hari-H. Gue dapet giliran pertama jam 12 siang hahaha ya bagus sih, gak harus digantungin sampe sore. Tapi jadinya kelar tes yang Listening, Reading, Writing jam 11.45-an gue langsung fast and furious ke tempat tes Speaking (yang ternyata sampai sana juga nungguin panitianya tiba dari Mercure ke IDP). I think this is an important thing to consider sih, kalau gue retake, honestly, under these circumstances, akan gue pertimbangkan opsi lain yang semua section sudah secure di bawah satu atap.

Okay let’s move to independent preparation. Sama kayak TOEFL, bagi gue, buku yang cocok itu bobotnya gede banget  untuk menentukan tesnya berhasil atau nggak. Apa buku yang gue pake?

How to Master the IELTS

BUKU INI ENAK BANGET DIPAKE!

Kenapa?

Berhubung gue gak les, ya sumber terpercaya gue yang bisa nge-guide ke jalan yang benar adalah kunci jawaban! Kunci jawaban yang gak sekedar huruf jawaban tapi lengkap dengan penjelasan. This book has that, so that brings me to the conclusion that this book is awesome.

Gue menerapkan trik yang kayak toefl: latian soal terus. Tapi dalam persiapan karena suasana liburan gue sempet mood-moodan juga, jadi belajarnya sebenernya kalo diitung-itung efektifnya cuma 8-10 jam kali ya kalau diakumulasikan. Latian soal reading, latian soal listening, sama nontonin video speaking sambil fitness. Gue gak latian writing sama sekali…………which turned out to have an impact on my results. Pas hari H, esai Writing Task 2 gue gak kelar, karena salah strategi pembagian waktu (padahal di awal pengawasanya udah bilang, porsi Writing Task 2, bikin esai dengan topik, lebih gede dari Writing Task 1, ceritain isi tabel/chart/grafik tapi dalam eksekusi seperti biasa, sisi perfeksionis gue merasa WT 1-nya kurang lengkap dan gue terlalu focused on making the essay sophisticated dengan kalimat beranak pinak dan kata-kata advanced). Alhasil di Writing Task 2, gue udah sampe paragraf kesimpulan, udah memasuki kalimat kedua, eh waktunya abis. Daripada gue kehitung curang dan hasil gue gak keluar karena gue masih nulis padahal waktunya udah abis, yowis… Aku relakan!

Selebihnya untuk reading, listening, dan speaking relatively mudah sih. Kalau udah ngerasain TOEFL IBT, I bet you’ll say the same. Di IELTS gak ada section yang integrated: listening, reading, writing. Most answers are given, paling yang tricky adalah penyamaan persepsi kita dan pembuat soal. That takes practice. Untuk Listening yang tricky adalah mendengarkan logat British/Aussienya. Terus speakernya itu 1 buat rame-rame di ruangan, bukan di headset. Jadi harus fokus ekstra sih.

Speaking sih, cincailah. Banyak nonton YouTube dan santai aja. Gue pas speaking, ya kurang latian juga, jadinya gue inget banyak ‘umm’ dan ‘like’ (yeah that made me sound like a high school teenager). Oh iya, speaking di IELTS itu kan sama orang beneran ya, unlike TOEFL IBT yang kita ngomong di headset. Bagi gue sih enakan sama komputer hahaha, tapi dari segi substansi jauh lebih mudah speaking IELTS. Kayak ngobrol sama temen aja gitu. Gue pas Speaking dapet topik tentang pengalaman di kala orang lain minta maaf sama kita. EAAAAK. Speakingnya curhat. Mosok ceritain mantan, nanti keluar tes mewek-mewek pulak ye kan. Jadi ya gue karang-karang aja cerita yang acceptable untuk konteks tes dan punya ruang untuk improvisasi dan menggunakan kata-kata sophisticated.

Jadi berapa skor tes IELTS gue?

Dengan persiapan satu minggu (yang efektifnya 8-10 jam) tanpa les, gue mendapat overall band score 8.5.

Dengan rincian yang bisa dilihat di gambar di bawah. Gue gengges sama skor Writing yang 7.0 (sementara salah satu sekolah yang gue targetkan minta 7.5 di semua section….so I do have to retake the IELTS, syedih gan). But overall, gue cukup senang dengan hasil gue, cukup senang tapi belum puas.

Skor IELTS Monica

Skor IELTS Monica: Overall band score 8.5 (tapi writingnya bikin gengges, cuma 7 karena esai gue ga kelar)

Jadi sekian sharing pengalaman IELTS perdana gue, jangan malu atau ragu untuk bertanya-tanya (semoga gue bisa jawab juga haha).

7 thoughts on “Pertama Kali Ambil IELTS

  1. Wooow. Keren!
    Lagi2 cerita Monce nginspiratif. Rencana pen nyoba ielts juga & baru tau kalo ternyata IDP ada yg terpisah gitu tempat test nya.
    Sukses Mon!

  2. Hallo monica mau tanya kalau beli buku ielts chris tyremannya dimana ya? Udh cari di gramed dan kinokuniya ga ada soalnya hehe thanks!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s