Menjawab Pertanyaan tentang Menjadi PNS

Beberapa hari terakhir, Whatsapp group gue penuh dengan berita, link, dan bahkan file PDF tentang penerimaan CPNS tahun 2017 di berbagai instansi.

Yes you read that correctly, and no it ain’t no hoax. We’re hiring, people!

Nah, berhubung gue PNS dan menjadi PNS itu adalah the road less traveled apalagi buat anak ITB (bisa dilihat di hasil tracer study alumni ITB kalau karir di sektor publik itu cukup minoritas dibandingkan sektor lainnya), gue banyak banget ditanya orang-orang tentang:

Kakak masuk PNS lewat jalur apa?
Tesnya langsung abis lulus atau gimana?
Kenapa mau jadi PNS?
Suka duka jadi PNS gimana Kak?
Gimana sih rasanya jadi PNS? Uneg-unegnya gimana?
Penghasilannya gimana? Katanya gajinya 18 juta? Ada bonus sama THR gak?
Career path dan development gimana?

Dan akhirnya, ah sudahlah gue tulis aja di blog. Sharing is caring, ya kan?

So, to give you some context, gue sekarang PNS di salah satu kementerian teknis di pusat, yakni Kementerian ESDM.

seragam ESDM: pas gue masuk di ESDM belum ada seragam, tapi kira-kira setahun kemudian, di bawah pimpinan Pak Sudirman Said, ada aturan pake seragam putih krem tiap Senin & Kamis (iye udah kayak puasa)

Gue ikut tes CPNS 2013 (kalau mau baca pengalaman gue tes CPNS bisa klik di sini), dan masuk bulan April 2014. Gue belum pernah kerja di swasta sebelumnya. Masuk ITB bulan Agustus 2009, lulus Juli 2013, proyekan di kampus sambil persiapan TOEFL/GRE (saat itu gue masih galau masa depan ditambah lagi gue belum pengen balik ke Jakarta, alias belom siap move on dari Bandung, jadi selain job seeking gue juga persiapan S2 di Bandung) & tes kerja (selain CPNS di saat yang sama gue tes di beberapa perusahaan swasta, dan akhirnya ketika gue lulus CPNS, yang lain gue drop.)

The big old why

If I had a dollar for every time someone asks me “Kenapa mau jadi PNS?” I bet I could at least buy a pair of Valentino shoes by now. Bahkan belum lama ini, Pak Archandra Tahar alias Pak Wakil Menteri, mengumpulkan pegawai-pegawai unit gue yang termasuk angkatan baru, dan gue kedapetan yang pertama ditanya pertanyaan ini dan gue (bodohnya) ngeblank gitu selama beberapa detik. I ended up answering, “Ceritanya panjang Pak.” (meh lame banget gak sih jawaban gue wkwk).

Soal pertanyaan keramat, the big old why, is something you should ponder on before going through the hassle of applying.  Alasan klasik sih karena dorongan orang tua, mertua, pasangan. Atau bisa juga karena ‘aman’ kan katanya PNS gak bisa dipecat. Atau ya pengen work life balance. Kerjaannya lebih santai karena gak dikejar-kejar target. Atau punya lifelong dream jadi PNS. Lebih gampang kalau mau lanjut sekolah. Dari sekian banyak alasan, the most important reason is yours. Nah kalo gue apa? Well my motivation to choose this path is a cocktail of many reasons antara lain:

  • Potensi
    Potensi yang gue miliki: background pendidikan teknis (jurusan gue teknik kimia dan kebutuhan sarjana TK di ESDM lumayan tinggi) dan minat pada policy making. Pas tingkat akhir kuliah gue masuk unit kegiatan Model United Nations dan di situ minat gue tumbuh. Gue suka dengan interdisciplinary nature dari kegiatan itu. Ikut MUN itu membutuhkan kemampuan problem solving, negosiasi, public speaking, kemampuan membaca kepentingan pihak lain, dan bisa analisis masalah dari berbagai aspek itu. Bagi gue, itu lebih menarik daripada merancang boiler atau kerja di pabrik. Setelah gue sandingkan, MUN itu mirip dengan policy making, jadi gue rasa posisi yang gue pilih di ESDM adalah titik temu dengan minat gue.
  • Kontribusi 
    Gue pengen berkontribusi, gimana caranya potensi yang gue miliki bisa bermanfaat bagi orang banyak, gak sekedar untuk membuat rekening segelintir orang gendut (wkwk naon banget ya pandangan gue waktu itu). I want to make a difference. Gue selalu inget lagu John Mayer – Waiting on the World to Change. Di lagu itu ada lirik yang menurut gue bagus banget: ‘It’s hard to beat the system when we’re standing at a distance.‘ Ya motivasi gue gak semuluk ‘beat the system’ tapi dari lirik itu at least bisa kasih gambaran kalau lo mau membuat impact, meski tidak sebesar beat the system, bakal sulit kalau lo berdiri dari jauh.
  • Dukungan
    My mother seemed happy with me choosing that job. Long story short, gue pas kuliah pengen banget jadi field engineer di salah satu oil and gas service company ternama, tapi nyokap gue gak bolehin sampe-sampe doi mendoakan supaya tes gue gagal. AND I FAILED. MISERABLY. (berat badan gue sampe turun 7 kilo setelahnya karena down hahaha)
    Jadi, ketika gue melihat doi excited karena gue ikut CPNS, gue semakin yakin kalau pilihan gue gak salah. Entah kenapa apa yang dibilang nyokap itu ujung-ujungnya selalu bener sesuai firasat doi, jadi itu gue anggap sebagai pertanda.

Jadi setelah identifikasi poin-poin di atas, akhirnya pilihan gue mengerucut menjadi jalur PNS di ESDM, karena ya pilihan itu adalah irisan dari poin-poin yang gue sebut di atas. The job, at least at that time, seemed to be a good fit with: what I like, what (I think) I’m good at, and what I want to achieve in the long run. Setelah kontemplasi matang-matang, gue bisa mantap melangkahkan kaki lewat jalur yang gue pilih.

The real deal inside

Gimana rasanya jadi PNS? Overall, gue sih happy-happy aja. Kadang stres. Kadang bosen. Ya layaknya semua pekerjaan ada asiknya, ada gak asiknya. Sebagai anak generasi Y yang masuk ke lingkungan birokrasi yang masih kental dengan adat ketimuran, bekerja jadi PNS ini cukup menantang, apalagi kalau dibandingkan dengan teman-teman yang kerja di startup kekinian yang lingkungannya didominasi anak muda dan kantornya hits atau yang kerja di lapangan atau yang kerja di perusahaan multinasional. Well to summarize, here are some points from my own experience:

  • Ilmu teknis yang terpakai hanya sebagian kecil (well hello, ini kan regulator)
  • Kerjanya gak sesantai yang dibayangkan: lembur sampai malam (jam kerja kita: jam 8-16), weekend kerja tentu ada. Kadang santai bisa pulcep (pulang cepet) dan gue jam 6 sore udah cardio di gym. Kadang juga sampe jam 8 di kantor.
  • Sistem reward masih samar dan belum terukur jelas, sifatnya highly subjective tergantung pimpinan
  • Kerjanya mostly paperwork (apalagi untuk staf): buat surat, undangan rapat, undangan acara (no honey, there’s no secretary that will make that letter for you)
  • There’s plenty of room for improvement: banyak ruang untuk berkreasi. Anak muda pun bisa bersuara dan beropini tapi tentu dengan cara yang baik dan pada tempatnya.
  • Palu gada: apa lu mau gue ada. Jadi PNS harus siap mengerjakan apa saja. Mau IPK lo setinggi apa, CV lo secanggih apa, ya jangan tersinggung kalau disuruh ngerjain sesuatu yang menurut lo sepele. Untuk hal ini gue selalu berpegang pada kata-kata berikut: setialah dalam perkara kecil, maka perkara besar akan dipercayakan padamu.
  • Suasana kekeluargaan bikin terasa nyaman. Makan siang rame-rame, kalau ada film keluar (biasanya horor) nonton rame-rame. Bahkan di pekerjaan ini gue dapet geng yang asik banget sampe kita udah liburan bareng. Selain karena kebersamaan, suasana kekeluargaan juga kelihatan dari toleransi untuk mengurus keluarga di rumah juga oke banget (misalnya untuk mahmud, untuk pulang tenggo jam 4 karena harus mengurus anak itu oke-oke aja).
  • Pimpinan memikirkan kesejahteraan anak buah. Ini hal baru bagi gue karena waktu itu gue kira tugas bos itu getting things done dan me-manage anak buah. Ternyata pimpinan juga perhatian pada anak buahnya, which to me is very humanizing.
  • Banyak kesempatan networking karena kebetulan unit gue punya banyak stakeholder: kementerian lain, parlemen, perusahaan, akademisi, asosiasi, pemerintah daerah, pemerintah negara lain, organisasi global, media
  • Cara komunikasi formal: mesti terbiasa ngomong Mohon izin. It’s a plus point if you can speak Javanese. Berhubung gue orang Batak (meski gak ada logat Bataknya juga sih), ya gue merasa awkward sendiri kalau ngomong Nggih (kayak gak cocok aja di lidah gue) jadi gue tetap pake bahasa Indonesia weh. Tapi liat konteks, kalau lagi diskusi informal, pakai bahasa santai (tapi sopan) gak jadi masalah.
  • Gaya juga disesuaikan. Bagaimanapun sebagai PNS lo adalah pemerintah, which is a pretty serious deal. Mungkin kalau pakai jeans, sepatu Vans, rambut diombre warna pink (gue bahkan mengurungkan niat untuk meng-ombre rambut dan bikin tato karena takut gak appropriate), will stakeholders take you seriously?
  • Sekolah lagi. Banyak yang mau jadi PNS karena relatif lebih mudah untuk sekolah lagi. Kalau di ESDM, untuk sekolah lagi biasanya statusnya Tugas Belajar. Nah mungkin beda di swasta yang kalau mau sekolah lagi harus unpaid leave atau bahkan resign. Di ESDM kalau mau mengajukan tugas belajar, harus ikut proses assessment (psikotes, FGD, dan wawancara) sebelum muali mencari sekolah dan beasiswa. Salah satu perks yang worth noting tentang tugas belajar adalah: kita masih dapat gaji dan tunjangan (tapi kalau di luar negeri gajinya 50%). Untuk beasiswa, bisa dengan beasiswa ESDM, bisa juga beasiswa dari luar. Info terakhir yang gue terima belum lama ini, saat ini beasiswa dari kantor gue diutamakan buat yang di dalam negeri. Jadi untuk yang minat mendaftar sekolah di luar negeri harus putar otak dan cari alternatif lain.
  • It’s easy to fall in the trap of the comfort zone, which for some people is not a bad thing. Kalau buat gue, jujur gue takut sih masuk zona nyaman. There’s no growth in you comfort zone kan ya?
  • Traveling. Kalau ketemu senior kuliah atau teman main, gue sering diceng-cengin, Ih enak banget sih Monik, jalan-jalan terus, ke luar negeri terus. Gue senyumin aja. Ya gak bisa gue deny traveling itu ada asiknya, suasana kerja gak monoton, banyak hal baru yang dilihat dan dialami tapi di balik itu juga ada tradeoff yang gak gue tunjukkan di Instagram gue seperti work life balance yang sering jadi korban dan stres. Buat yang sering business trip pasti paham, jalan-jalan untuk kerja dan untuk liburan itu beda banget. Tapi ya gak bisa gue pungkiri kalau gue bersyukur bekerja sebagai PNS ini memungkinkan gue untuk menjangkau banyak tempat dan mendapatkan pengalaman dan pembelajaran yang berharga.

Vienna circa 2015. Perjalanan dinas luar negeri pertama gue, ditugaskan ikut bos-bos: Pak Dirjen, Pak Menteri, Pak Gubernur OPEC, Dirut & Komisaris Pertamina yang lagi rapat OPEC di Wina, Austria

The elephant in the room: money talk

Ketika berbicara tentang menjadi PNS, we can not deny the elephant in the room: money. Penghasilan PNS di tengah mahalnya hidup di Jakarta. Apa iya, cukup? Ini bener-bener Frequently Asked Question yang gue dapet. Wajar sih, kalau kerja di swasta aja, lo pasti nanya kan starting salary berapa? Memang sih, PNS itu abdi negara, but please, you have bills to pay and mouths to feed. Jadi di sini gue mau kasih gambaran tapi harus gue tegaskan kalau ini bisa bervariasi banget. Inget PNS itu range pekerjaannya luas: dari pegawai kecamatan di daerah, pengamat gunung api, dokter, auditor, sampe dosen (PTN sih ya) itu PNS. Jadi gak bisa dipukul rata. Gue hanya bisa berbicara berdasarkan pengalaman ya, jadi bisa aja di instansi lain beda.

Untuk gue yang single, tinggal di rumah orang tua, dan bahkan untuk transportasi bisa nebeng bokap (baik pergi ke kantor maupun pulang) so far sih cukup-cukup aja. Kalau kata nyokap ketika menampis asumsi Namboru gue kalo gaji gue gede, “Kalo si Monik, Eda. Gak besarnya gajinya. Tapi selama dia bisa beli makeup, bayar taxi, ya cukuplah itu.” (Oke itu sih over simplification ya haha). Lain halnya misalnya untuk temen dari daerah yang harus ngekos (apalagi kalo deket kantor, di area Kuningan kosan itu mahal loh) belum lagi kawan-kawan yang berkeluarga, ngontrak/cicil rumah, cicil mobil, dan sebagainya.

Let’s go straight to the point. Berapa sih THP gue? Untuk mematok di satu angka tertentu sulit ya karena ada komponen yang sifatnya gak tentu.

  • Gaji pokok: Rp 2,5 juta (kalau udah nikah/punya anak lebih gede tapi beda tipis)
  • Tunjangan kinerja alias tukin (kalau tertib dan gak terlambat karena kalau terlambat dipotong): Rp 2,8 juta
  • Lain-lain misalnya: honor tim  dan honor perjalanan dinas

Nah perlu dicatat, buat CPNS, besaran gaji pokok dan tunjangan kinerja yang diterima di tahun pertama itu 80% (dan selebihnya gak dikompensasi hehe) dan pas jaman gue sih, dirapel 3 bulan (so basically gue 3 bulan awal gak gajian, temen gue menyebutkannya mantab: makan tabungan).

Oke jadi di luar gaji pokok dan tukin ada komponen lain seperti honor tim dan honor perjalanan dinas. Tim ini sifatnya bervariasi antar instansi. Dari obrolan dengan kawan, ada kementerian yang udah gak terima uang tim tapi dikompensasi dengan tukinnya yang lebih besar.

Kalau soal perjalanan dinas (sering disebut SPPD atau SPJ), agak sulit untuk dipatok berapanya. Perjalanan dinas itu buat apa? Kalau mengacu bahasa hukum, untuk pembinaan dan pengawasan. Itu kan luas banget ya scopenya. Praktiknya perjalanan dinas itu bisa untuk kunjungan lapangan/site visit, peresmian, rapat, konsinyering (gue baru tau ada kata konsinyering setelah jadi PNS. Konsinyering itu ya kayak rapat gitulah), acara workshop/seminar di mana instansi lo diundang (biasanya sebagai narasumber, yang jadi narasumber sih pejabat/bos lo dan biasanya ngajak bawahannya untuk mendampingi), inspeksi teknis (kalau di ESDM ada jabatan inspektur yang tugasnya ke lapangan untuk inspeksi teknis dan peralatan), training/diklat, koordinasi dengan pemerintah daerah, monitoring, dan masih banyak lagi. Ya namanya juga pemerintah pusat apalagi kementerian teknis, yang membuat kebijakan dan keputusan yang impactnya ke banyak stakeholder, seperti pemerintah daerah, pelaku industri dan masih banyak lagi. Apalagi buat gue yang punya zero experience bekerja di industri migas, seringkali belum punya sense kalau di lapangan gimana. Kasarnya, ya kita kan taunya di atas kertas atau di dalam slide gimana. Apalagi kalau udah pejabat, yang harus ambil keputusan. Gimana lo bisa menata dan mengatur kalau gak dapet holistic understanding tentang industri yang lo atur? Jadi bisa dibilang kalau pembelajaran bermanfaat dan ide baru seringkali muncul dari perjalanan dinas.

Nah perjalanan dinas itu frekuensinya beda-beda dan itu tergantung pimpinan, kondisi anggaran, dan periodenya. Gak bisa dipungkiri, pimpinan pasti mengoptimalkan penugasan perjalanan dinas (tentu sesuai job desc juga sih, kalau penugasannya gak nyambung dengan job desc kan gak oke juga). Kondisi anggaran itu juga jadi salah satu penentu. Ada kalanya anggaran buat perjalanan dinas itu dibatasi karena diprioritaskan buat hal lain, misalnya pembangunan infrastruktur. Untuk periode, yang gue maksud adalah kapan karena memang ada bulan-bulan di mana perjalanan dinas itu terbatas. Kalau dari pengalaman sih biasanya awal tahun dan bulan Ramadhan.

Letak uncertainty lain adalah kapan cair (wkwk).  Kalau di unit gue, honor perjalanan dinas itu sifatnya nombok (gak dibayar di awal, thank God for credit cards dan koperasi kantor tempat booking tiket pesawat yang boleh bayar belakangan). Bisa sebulan baru cair. Bisa dua minggu. Bisa dua bulan. Lama di sini bukan karena dilama-lamain ya tapi karena emang proses pencairan itu gak mudah. Honor cair, jangan lupa kalau bentuknya cash. Makanya gue kalo jalan sama temen gue setelah ada SPJ cair (dan gak sempat setor tunai/ke bank) dan dia lihat gue bayar dari amplop, gue pasti diketawain. Bawa amplop kemana-mana gitu jadi ilusi tersendiri kalau punya banyak duit, itulah mengapa setelah jadi PNS gue jadi bersahabat dengan ATM setor tunai.

Soal dapetnya berapa dari SPPD, semuanya udah diatur secara legal dalam Peraturan Menteri Keuangan yang setiap tahun diupdate. Di situ secara rinci udah dijabarkan soal batas harga hotel (kategorisasinya per provinsi/negara dan besarannya tergantung jabatan), batas tiket pesawat, uang harian, dan lainnya. Misalnya tahun ini, untuk perjalanan dinas ke Bandung (berarti masuk provinsi Jawa Barat kan) uang hariannya sekitar Rp 400 ribu-an lah per harinya (belum termasuk uang transport).

Apa ada THR? Ada. THR PNS kan selalu diberitakan dalam media massa menjelang Lebaran. Apa ada bonus? Nope, gak ada.

Jadi kalau ditotal-total, range THP untuk staf macem gue (sarjana, single, golongan III-A) bisa 5 – 10 juta, again perlu diingat, itu tergantung frekuensi perjalanan dinas dan dengan asumsi honor-honor cairnya rutin per bulan. Bisa lebih kalau setiap minggu pergi dinas atau bahkan dapat penugasan dinas luar negeri. Melihat itu gak heran kan makanya gak sedikit PNS yang punya pekerjaan sampingan mulai dari jualan Tupperware, Oriflame, skin care, Herbalife, mukena, baju, katering makan siang, kue, jadi guru les privat. Selain jualan ada juga yang punya sampingan jadi instruktur fitness (ini beneran loh, temen gue, PNS juga, jadi instruktur Zumba di gym hits di Jakarta), atau jadi pengendara ojek online (ini serius, temen gue ada yang jadi driver Uber/Grab Bike), dan tukang cuci piring di restoran papan atas di Jakarta (kata temen gue gajinya hampir 4 kali lipat gaji pokok PNS). Gue sendiri sih belum punya sampingan, sempat terpikir untuk jadi guru privat English conversation atau TOEFL/IELTS tapi prioritas gue belum ke arah sana untuk saat ini. So the bottom line is: jangan jadi PNS kalau mau kaya, tajir melintir. Salah alamat, gan. Mending jadi selebgram aja yang terima job endorse.

(Kalau gue baca-baca ada wacana kalau THP PNS akan menjadi single salary, jadi gak terpisah-pisah seperti yang gue jelaskan di atas. Menurut gue itu sih bisa membantu banget ya apalagi buat kita kaum urban yang perlu cicil-mencicil. Kalau diperhatikan, THP PNS itu yah not bad lah, cukup kok, yang seringkali jadi isu adalah kepastiannya tiap bulan dapat berapa.)

The other elephant in the room: career path

Bagi sebagian orang, career path menjadi pertimbangan penting dalam memilih karir, gak melulu soal pendapatan. Gimana sih career path di PNS? Untuk naik jabatan masih like dislike? Tergantung performa atau loyalitas dan politik internal? Soal career path ini sering gue tanyakan ke senior dan pihak-pihak yang bersangkutan langsung menangani ini dan kelihatannya fixnya gimana masih dalam proses. Tapi yang jelas, yang udah existing saat ini adalah yang career path-nya relatif jelas itu jabatan fungsional tertentu seperti perencana dan inspektur. Yang udah jelas tingkatannya di mana untuk naik ke tingkat selanjutnya lo harus mengumpulkan angka kredit (kalau inspektur dari inspeksi ke lapangan, kalau perencana dari dokumen laporan misalnya). The thing is, gak semua orang menduduki jabatan fungsional tertentu. Kayak gue misalnya, gue jabatan fungsional umum. Jadi gue gak mengumpulkan angka kredit. Sebenarnya peluang untuk beralih ke jabatan fungsional tertentu itu ada dan dibuka terus setiap tahun. Tapi itu balik lagi ke pilihan masing-masing mau atau gak. Jadi buat gue yang gak kena sistem mengumpulkan angka kredit itu, the only way up the ladder is: selain naik golongan rutin (jadi setiap 4 tahun, PNS itu golongannya naik, jadi gue mulai karir gue di golongan III-A nanti naik golongan ke III-B)  adalah kalau masuk jabatan struktural/eselon alias jadi bos (wkwk). Perlu diingat kalau ini lingkungan birokrasi, jadi untuk naik ke jabatan struktural banyak tahapnya mulai dari pendaftaran, assessment, wawancara, dan ada semacam panel/rapat yang membahas dan menentukan kandidat mana yang akhirnya diberikan amanah jabatan. Udah gitu, lo bisa menjabat jabatan di bidang yang lo gak pernah sentuh sebelumnya. Well, sebenarnya gak hanya pejabat yang bisa dirotasi, staf pun juga bisa dirotasi. Jadi belum tentu unit yang sekarang sudah jadi comfort zone, baik dari orang-orangnya maupun pekerjaan, adalah sesuatu yang permanen. Harus siap buat belajar lagi dan membangun hubungan baik lagi. Adaptability & being a quick learner is very important.

Kalau pengembangan SDM gimana? Untuk case di ESDM, ada banyak akses ke program-program training baik domestik maupun internasional. Yang fully-funded di luar negeri juga ada rutin setiap tahun, sebagai salah satu bentuk kerjasama bilateral Indonesia dan negara lain. Pelatihan domestik lebih banyak lagi baik yang dari ESDM atau instansi lain. Berhubung untuk diklat gitu kan (selain yang gratisan dari pihak luar ya) gak gratis dan butuh anggaran, jadi perlu dicatat, ada/banyaknya program diklat yang bisa diikuti lagi-lagi balik ke prioritas anggaran alokasinya gimana dan itu ada di tangan pimpinan. Untuk pengembangan informal juga banyak ragamnya misalnya in house training dengan narasumber profesional atau organisasi internasional, atau morning class / sharing session dengan tokoh-tokoh energi.

Something worth noting: health care benefits

Kalau ngobrol-ngobrol sama teman kuliah soal kerjaan, gue suka iseng tanya benefit kesehatan yang mereka terima dari pekerjaan apa. Rata-rata, mereka dapat asuransi dari kantor dan itu bervariasi ada yang dapat kartu untuk berobat rawat jalan, ada yang sampe dapat asuransi kacamata setiap tahun, ada asuransi yang untuk melahirkan pun ditanggung, ada yang asuransinya bisa mencakup anak dan pasangan.  Untuk PNS bagaimana? Ya, sampai saat ini health care benefit untuk PNS itu BPJS. Gue sendiri, thank God, belum pernah sakit sampai dirawat jadi gak bisa komentar soal layanan BPJS. Lagipula untuk menambah rasa aman, akhirnya gue beli asuransi kesehatan (yang murni dan gak sekalian investasi/Unit Link) dari provider asuransi. Kalau lihat sisi positifnya, ini jadi semangat untuk menjaga kesehatan. Inget Mon, lo PNS, you can’t afford to be sick (wkwk). Jadi mungkin ini bisa jadi pertimbangan penting juga, terutama buat yang berkeluarga.

What’s next?

Apakah gue menyesal jadi PNS? Oh tidak. God put me here for a reason. Sometimes I wonder, apa jadinya kalau dulu gue gak ambil ESDM ya. Entahlah. It is what it is, and I am grateful. Setelah 3 tahun bekerja di kementerian, agenda gue berikutnya adalah menikah tapi gak tau dengan siapa dan kapan sekolah lagi tahun depan di Amerika Serikat. Setelah 3 tahun ini, salah satu tantangan besar adalah menjaga semangat. Keeping the flame alive. Gue harap dengan gue sekolah lagi bisa muncul ide-ide dan menambah kompetensi gue untuk berkontribusi di ESDM. Bisa bayangin gak sih kalau 20 tahun lagi instansi pemerintah isinya orang-orang berpendidikan tinggi, berpengalaman luas dan bersemangat yang awalnya anak muda piyik kayak kita? Wouldn’t that be awesome? Kalau salah satu rekan gue, Mas Yogi, di status Facebook-nya, “Luruskan niat dan teguhkan tekad karena ini lebih besar dari sekadar diri pribadi.” Gue berharap tulisan gue bermanfaat ya, mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan. Pokoknya apapun pilihannya semoga bermanfaat ya buat orang banyak! Semoga kita semua diberkati untuk memberkati ❤

Advertisements

6 thoughts on “Menjawab Pertanyaan tentang Menjadi PNS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s