Merantau di Amerika

So it has been such a long while since I have added anything to this blog. Life this year has been crazy. Dimulai dari kehektikan submit application buat program S2 di Amerika, skype interview, dan menerima Letter of Acceptance beberapa sekolah dan muncul pusing memilih yang mana (dalam jangka waktu 2017-2018 gue diterima di 6 sekolah: Duke University, University of Chicago, University of Pennsylvania atau UPenn, Carnegie Mellon University setelah sebelumnya pas 2017 gue keterima di University of Texas at Austin atau UT Austin dan Pennsylvania State University tapi tertunda keberangkatannya karena kebijakan LPDP yang nge-hold departure di tahun 2017 karena pas pengumuman di tahun 2016 belom ada LoA, yes my road to grad school was full of twists and turns along the way), akhirnya gue memutuskan untuk memilih Duke karena beberapa petimbangan. Lalu muncul pusing berikutnya yakni perpindahan universitas ke LPDP (di batch gue masih boleh, setau gue yang sekarang udah gak boleh) dan hamdallah disetujui (which again was nerve wracking karena temen-temen gue ada yang gak disetujui).
41442765745_515284a46a_o

Beberapa bulan lalu, gue dan beberapa temen berkesempatan untuk menjadi pembicara di @america, Pacific Place untuk sharing tips untuk mendaftar dan mempersiapkan diri untuk S2 di Amerika

Hal ini berlanjut ke persiapan berangkat ke Amerika, administrasi kantor, persiapan visa, imunisasi, dan menikmati momen-momen terakhir sama pacar dan keluarga, dan entah berapa farewell dari geng kuliah, geng kantor.
8689696311471 (1)

H-1 berangkat dan gue masih lalu lalang di kantor eh dapet farewell gift dari geng dirjen yang laffff banget.

Liburan ke sana sini sebelom memasuki fase hidup sebagai mahasiswa kere. Sampai akhirnya tibalah 4 Agustus pagi, di Soekarno Hatta. Berangkat ke Amerika, dianter geng kuliah, pacar, dan keluarga. Perpisahan yang cukup emosional dan terjadi mewek-mewek drama. Trust me, it was very overwhelming. Beberapa hari menjelang berangkat gue kayak hidup auto pilot gitu. It was crazy. Entah ada berapa orang yang nanya kapan berangkat tiap ketemu di lift, di kantor, di mana-mana. For everyone else, it seems seru, atau enak banget ke Amerika, it seems…. glamorous. Or maybe they were just being nice. Well the reality is: it was hard, you think you’re ready but you actually weren’t, it was an emotional roller coaster. But then it happened!
8689697308514 (1)

Geng kuliah yang rela Sabtu pagi jam 6 udah di Soetta dan nganterin gue. Terharu gak siiih.

8689698039340

Di balik senyum ini ada pelukan emosional yang berujung mewek.

And here I am, on a Monday afternoon in my apartment in Durham, North Carolina. Lagi fall break, alias libur musim gugur (iya di sini entah kenapa tiap musim dikasih libur). Udah sekitar 2 bulan gue merantau di sini, thousands of miles away from home, my family, my boyfriend, and my friends: all things that are familiar and comfortable.
Sekarang gue lagi menempuh pendidikan S2 di Duke University
So far bagaimana kehidupan merantau ini yang gue rasakan? Well here are some points:
  • Homesick itu ada. And it was brutal for me. And it still occurs occasionally. Kangen rumah, kangen keluarga, kangen pacar. Kangen kebersamaan. Being a stranger in a foreign country and in a small town where nobody knows you can be pretty lonely! Dan homesicknya bukan sekedar galau yang kulit-kulitnya doang. Ini homesick beneran yang bikin sedih sendiri, nangis. Pernah gue tahan-tahan, akhirnya pas hari Minggu gue di gereja, tau-tau keluar aja gitu air mata wkwkwk. Gak nyangka sih bakal segitunya, sungguh deh. Selain kangen orang-orang kesayangan, gue juga kangen kehidupan Jakarta yang nyaman dan serba gampang. Mau kemana-mana Go-Jek, ada Mbak di rumah yang sigap membantu, kemana-mana bisa dianter jemput supir, di mobil tinggal tidur dan bangun-bangun udah sampe. Yes, go judge me as a typical manja Jakarta kid. I came upon the realization of how easy and comfortable life is back home.
  • Tinggal sendiri (well technically, I live with a roommate, but you get my point. Roommate gue orang Amerika dan classmate gue di program gue) enak banget in terms of freedom. Sorry Mama Papa, this girl desperately needs and wants to be an adult on her own, and not confined in her parent’s house. Gue bisa bebas bangun jam berapa, mandi kapan, makan kapan, pulang jam berapa, mau itu jam 3 sore atau jam 3 pagi. Gue sudah lama mengeluhkan budaya kita yang gak gitu mendukung moving out of your parent’s home di saat lo hidup mandiri, di mana hal itu terjadi karena lo memang bekerja di luar kota atau ya menikah. Dan di Indonesia, entah kenapa hidup bebas itu punya konotasi negatif seakan-akan hidup lo gak terkontrol dan sesuka-suka lo.Bahkan sekarang gue merasa hidup gue lebih teratur. Gue lebih disiplin, bangun, beres-beres, harus bisa memanage waktu untuk gereja, akademik, kehidupan sosial, tanpa harus kucing-kucingan sama bonyok kalo gue pulang malem atau pulang pagi, karena here, I live my life on my own terms, and how I want it. Which, I LOVE. And it’s worth the tradeoff of not having a maid and a driver at my disposal.
  • Graduate school is busy. Sooo busy. Gue ada 2 mata kuliah yang kuantitatif, Energy Modeling dan Data Analysis (which is basically Statistik) and it involves a fair amount of coding, satu di software R satu cuma di VBA di Excel. Tapi sebagai newbie, it took a while for me to adjust. Plus, workload pelajarannya cukup berat. Setiap minggu 2 mata kuliah itu ada tugas, dan dikasih waktu seminggu. Jadi di deadline tugas itu disubmit, di hari yang sama udah ada tugas buat minggu depan. Seru! Lelah tapi seru. Sebelum fall break ini, selama 3 minggu gue tidur 4-6 jam sehari. Di kampus sampe larut malam, jam 1, atau jam 2 pagi untuk ngerjain tugas. Belajar. Kenapa gak di rumah? Gue punya study group dan so far itu terbukti efektif buat saling diskusi dan membantu.
8689389300611 (1)

Tempat favorit di kampus untuk produktif: Bryan Center. Tiap bangku pewe banget dan ada colokan yang built in.

  • Gue bersyukur di program, bahkan di department gue, tidak ada orang Indonesia selain gue. Jadi gak ada cerita, gue bergaul dan belajar cuma sama orang Indonesia, karena ya gimana gue satu-satunya orang Indonesia. Temen main gue dari berbagai negara, usia, status (ada yang masih single, in a committed relationship, ada yang anaknya udah 2), dan background.
  • My adulting skills are challenged. Harus memanage waktu biar sempet ngerjain pekerjaan rumah kayak beberes, nyuci, grocery shopping, masak.
  • Work hard play hard balance is NECESSARY to stay sane. Gue play hard dengan ikut kelas salsa dan ikutan event-event di kampus dan sekitarnya. Di sini, Facebook Events itu berguna banget buat tau lagi ada apa yang happening. Entah itu konser, pameran, dance party, kuliah tamu, stand up comedy, apa pun!! There’s something for everyone!
  • Hubungan dosen-mahasiswa beda banget di sini. Jauh lebih terbuka. Manggil aja, manggil nama ye kan. Terus kita nanya hal se-remeh temeh apapun gak segan. Udah gitu accomodating banget, kalo ada deadline yang dirasa berat (waktu itu di hari yang sama dengan UTS mata kuliah lain), eh diundur.
  • Being bilingual is harder than it seems. When you think in Indonesian and English but have to say it in English, no you can’t really pull off that South Jakarta campur-campur language.
  • Long distance relationship takes work. Yes, things that didn’t take much effort before, sekarang butuh effort. (We both knew this very well but yeah it hits you that the struggle is real). Hal sesimpel telfonan, harus dijadwal (gue bikin di Google Calendar dan selalu invite email doi kalau mau Skype). Yah gimana nggak, perbedaan waktu aja 12 jam. Pas gue mau tidur, dia lagi siap-siap mau kerja/beraktivitas. It’s a test of your relationship, honestly.
8689694786258 (1)

Salah satu kencan terakhir sama pacar beberapa hari menjelang berangkat.

  • For the first time ever, I actually really really like what I’m learning and I’m driven to be good at it. Wait no, great at it. Tidak untuk sekedar nilai bagus but for mastery because I know once I graduate I’m gonna use all (well not all maybe haha) of this in my professional life. Sungguh untuk ini gue merasakan manfaat kerja dulu sebelom S2 karena gue perhatikan untuk anak-anak fresh grad yang langsung S2, kebanyakan masih belum terarah dan fokus (tapi di sisi lain, ya S2 itu kesempatan untuk explore interests juga sih….)
  • Buat gue yang terbiasa tinggal di Jakarta dan sekarang tinggal di kota kecil, ya berasa perbedaannya. Udah jarang ke mall karena mallnya jauh (1 jam kalo naik bus, kalo naik Uber 15 dolar sekali jalan). Gue belom ke bioskop juga so far. Dan di sini gak ada metro jadi pilihannya naik bus yang adanya 20 menit sekali atau ya nguber. Car culturenya kentel banget, dan sulit buat gue yang gak bisa nyetir dan gak berniat beli mobil di sini. Di lain sisi, enak banget gue ke kampus jalan kaki.
  • Gue jadi semakin sering masak. And I think my cooking skills went up another level. Yha merantau memang memaksa lo untuk masak. Gue sampe ikut kursus bakso online yang hits itu, Dapur Umma dan (menurut gue dan temen-temen yang ikut menikmati bakso buatan gue) cukup berhasil. Mayan ya, lulus-lulus bisa nambah credentials sebagai wifey material 😉
So I guess that’s about it for the first 2 months. Gak berasa banget, gue udah setengah jalan di semester ini. Sering kali ketika gue memandang indahnya Duke Chapel atau lagi melamun, suka terpikir, “Gila mimpi apa sih gue bisa sampai di sini.” It is truly an amazing (and not easy) opportunity. Gak jarang juga loh gue terpikir, “Mikir apa sih gue ninggalin hidup di Jakarta, jauh dari orang-orang kesayangan buat hidup susah payah di sini.” Di situ pentingnya mengingat kembali purpose dan end goal yang mau dicapai. Pas lagi orientasi mahasiswa internasional, dibilangin begitu juga. Start with the end. How do you want to see yourself 2 years from now when you graduate?? This is applicable to many things in life not just graduating. This is the growth I desperately needed and the push out of my comfort zone that I craved. And I am taking it day by day, incrementally. Seperti kata Yo-Yo Ma, salah satu musisi favorit gue sejak gue masih piyik di rekaman NPR Tiny Desk Concert-nya (yang bagus bangettt and I have been playing it on repeat),

“All of you do homework, have done homework, some days it’s easier than others. It’s actually not painful to learn something, if you do it incrementally.”

Yang intinya adalah: belajar sesuatu, dikit-dikit, gak seberat itu kok.

One thought on “Merantau di Amerika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s