Menjawab Pertanyaan tentang Menjadi PNS

Beberapa hari terakhir, Whatsapp group gue penuh dengan berita, link, dan bahkan file PDF tentang penerimaan CPNS tahun 2017 di berbagai instansi.

Yes you read that correctly, and no it ain’t no hoax. We’re hiring, people!

Nah, berhubung gue PNS dan menjadi PNS itu adalah the road less traveled apalagi buat anak ITB (bisa dilihat di hasil tracer study alumni ITB kalau karir di sektor publik itu cukup minoritas dibandingkan sektor lainnya), gue banyak banget ditanya orang-orang tentang:

Kakak masuk PNS lewat jalur apa?
Tesnya langsung abis lulus atau gimana?
Kenapa mau jadi PNS?
Suka duka jadi PNS gimana Kak?
Gimana sih rasanya jadi PNS? Uneg-unegnya gimana?
Penghasilannya gimana? Katanya gajinya 18 juta? Ada bonus sama THR gak?
Career path dan development gimana?

Dan akhirnya, ah sudahlah gue tulis aja di blog. Sharing is caring, ya kan?

So, to give you some context, gue sekarang PNS di salah satu kementerian teknis di pusat, yakni Kementerian ESDM.

seragam ESDM: pas gue masuk di ESDM belum ada seragam, tapi kira-kira setahun kemudian, di bawah pimpinan Pak Sudirman Said, ada aturan pake seragam putih krem tiap Senin & Kamis (iye udah kayak puasa)

Gue ikut tes CPNS 2013 (kalau mau baca pengalaman gue tes CPNS bisa klik di sini), dan masuk bulan April 2014. Gue belum pernah kerja di swasta sebelumnya. Masuk ITB bulan Agustus 2009, lulus Juli 2013, proyekan di kampus sambil persiapan TOEFL/GRE (saat itu gue masih galau masa depan ditambah lagi gue belum pengen balik ke Jakarta, alias belom siap move on dari Bandung, jadi selain job seeking gue juga persiapan S2 di Bandung) & tes kerja (selain CPNS di saat yang sama gue tes di beberapa perusahaan swasta, dan akhirnya ketika gue lulus CPNS, yang lain gue drop.)

The big old why

If I had a dollar for every time someone asks me “Kenapa mau jadi PNS?” I bet I could at least buy a pair of Valentino shoes by now. Bahkan belum lama ini, Pak Archandra Tahar alias Pak Wakil Menteri, mengumpulkan pegawai-pegawai unit gue yang termasuk angkatan baru, dan gue kedapetan yang pertama ditanya pertanyaan ini dan gue (bodohnya) ngeblank gitu selama beberapa detik. I ended up answering, “Ceritanya panjang Pak.” (meh lame banget gak sih jawaban gue wkwk).

Soal pertanyaan keramat, the big old why, is something you should ponder on before going through the hassle of applying.  Alasan klasik sih karena dorongan orang tua, mertua, pasangan. Atau bisa juga karena ‘aman’ kan katanya PNS gak bisa dipecat. Atau ya pengen work life balance. Kerjaannya lebih santai karena gak dikejar-kejar target. Atau punya lifelong dream jadi PNS. Lebih gampang kalau mau lanjut sekolah. Dari sekian banyak alasan, the most important reason is yours. Nah kalo gue apa? Well my motivation to choose this path is a cocktail of many reasons antara lain:

  • Potensi
    Potensi yang gue miliki: background pendidikan teknis (jurusan gue teknik kimia dan kebutuhan sarjana TK di ESDM lumayan tinggi) dan minat pada policy making. Pas tingkat akhir kuliah gue masuk unit kegiatan Model United Nations dan di situ minat gue tumbuh. Gue suka dengan interdisciplinary nature dari kegiatan itu. Ikut MUN itu membutuhkan kemampuan problem solving, negosiasi, public speaking, kemampuan membaca kepentingan pihak lain, dan bisa analisis masalah dari berbagai aspek itu. Bagi gue, itu lebih menarik daripada merancang boiler atau kerja di pabrik. Setelah gue sandingkan, MUN itu mirip dengan policy making, jadi gue rasa posisi yang gue pilih di ESDM adalah titik temu dengan minat gue.
  • Kontribusi 
    Gue pengen berkontribusi, gimana caranya potensi yang gue miliki bisa bermanfaat bagi orang banyak, gak sekedar untuk membuat rekening segelintir orang gendut (wkwk naon banget ya pandangan gue waktu itu). I want to make a difference. Gue selalu inget lagu John Mayer – Waiting on the World to Change. Di lagu itu ada lirik yang menurut gue bagus banget: ‘It’s hard to beat the system when we’re standing at a distance.‘ Ya motivasi gue gak semuluk ‘beat the system’ tapi dari lirik itu at least bisa kasih gambaran kalau lo mau membuat impact, meski tidak sebesar beat the system, bakal sulit kalau lo berdiri dari jauh.
  • Dukungan
    My mother seemed happy with me choosing that job. Long story short, gue pas kuliah pengen banget jadi field engineer di salah satu oil and gas service company ternama, tapi nyokap gue gak bolehin sampe-sampe doi mendoakan supaya tes gue gagal. AND I FAILED. MISERABLY. (berat badan gue sampe turun 7 kilo setelahnya karena down hahaha)
    Jadi, ketika gue melihat doi excited karena gue ikut CPNS, gue semakin yakin kalau pilihan gue gak salah. Entah kenapa apa yang dibilang nyokap itu ujung-ujungnya selalu bener sesuai firasat doi, jadi itu gue anggap sebagai pertanda.

Jadi setelah identifikasi poin-poin di atas, akhirnya pilihan gue mengerucut menjadi jalur PNS di ESDM, karena ya pilihan itu adalah irisan dari poin-poin yang gue sebut di atas. The job, at least at that time, seemed to be a good fit with: what I like, what (I think) I’m good at, and what I want to achieve in the long run. Setelah kontemplasi matang-matang, gue bisa mantap melangkahkan kaki lewat jalur yang gue pilih.

The real deal inside

Gimana rasanya jadi PNS? Overall, gue sih happy-happy aja. Kadang stres. Kadang bosen. Ya layaknya semua pekerjaan ada asiknya, ada gak asiknya. Sebagai anak generasi Y yang masuk ke lingkungan birokrasi yang masih kental dengan adat ketimuran, bekerja jadi PNS ini cukup menantang, apalagi kalau dibandingkan dengan teman-teman yang kerja di startup kekinian yang lingkungannya didominasi anak muda dan kantornya hits atau yang kerja di lapangan atau yang kerja di perusahaan multinasional. Well to summarize, here are some points from my own experience:

  • Ilmu teknis yang terpakai hanya sebagian kecil (well hello, ini kan regulator)
  • Kerjanya gak sesantai yang dibayangkan: lembur sampai malam (jam kerja kita: jam 8-16), weekend kerja tentu ada. Kadang santai bisa pulcep (pulang cepet) dan gue jam 6 sore udah cardio di gym. Kadang juga sampe jam 8 di kantor.
  • Sistem reward masih samar dan belum terukur jelas, sifatnya highly subjective tergantung pimpinan
  • Kerjanya mostly paperwork (apalagi untuk staf): buat surat, undangan rapat, undangan acara (no honey, there’s no secretary that will make that letter for you)
  • There’s plenty of room for improvement: banyak ruang untuk berkreasi. Anak muda pun bisa bersuara dan beropini tapi tentu dengan cara yang baik dan pada tempatnya.
  • Palu gada: apa lu mau gue ada. Jadi PNS harus siap mengerjakan apa saja. Mau IPK lo setinggi apa, CV lo secanggih apa, ya jangan tersinggung kalau disuruh ngerjain sesuatu yang menurut lo sepele. Untuk hal ini gue selalu berpegang pada kata-kata berikut: setialah dalam perkara kecil, maka perkara besar akan dipercayakan padamu.
  • Suasana kekeluargaan bikin terasa nyaman. Makan siang rame-rame, kalau ada film keluar (biasanya horor) nonton rame-rame. Bahkan di pekerjaan ini gue dapet geng yang asik banget sampe kita udah liburan bareng. Selain karena kebersamaan, suasana kekeluargaan juga kelihatan dari toleransi untuk mengurus keluarga di rumah juga oke banget (misalnya untuk mahmud, untuk pulang tenggo jam 4 karena harus mengurus anak itu oke-oke aja).
  • Pimpinan memikirkan kesejahteraan anak buah. Ini hal baru bagi gue karena waktu itu gue kira tugas bos itu getting things done dan me-manage anak buah. Ternyata pimpinan juga perhatian pada anak buahnya, which to me is very humanizing.
  • Banyak kesempatan networking karena kebetulan unit gue punya banyak stakeholder: kementerian lain, parlemen, perusahaan, akademisi, asosiasi, pemerintah daerah, pemerintah negara lain, organisasi global, media
  • Cara komunikasi formal: mesti terbiasa ngomong Mohon izin. It’s a plus point if you can speak Javanese. Berhubung gue orang Batak (meski gak ada logat Bataknya juga sih), ya gue merasa awkward sendiri kalau ngomong Nggih (kayak gak cocok aja di lidah gue) jadi gue tetap pake bahasa Indonesia weh. Tapi liat konteks, kalau lagi diskusi informal, pakai bahasa santai (tapi sopan) gak jadi masalah.
  • Gaya juga disesuaikan. Bagaimanapun sebagai PNS lo adalah pemerintah, which is a pretty serious deal. Mungkin kalau pakai jeans, sepatu Vans, rambut diombre warna pink (gue bahkan mengurungkan niat untuk meng-ombre rambut dan bikin tato karena takut gak appropriate), will stakeholders take you seriously?
  • Sekolah lagi. Banyak yang mau jadi PNS karena relatif lebih mudah untuk sekolah lagi. Kalau di ESDM, untuk sekolah lagi biasanya statusnya Tugas Belajar. Nah mungkin beda di swasta yang kalau mau sekolah lagi harus unpaid leave atau bahkan resign. Di ESDM kalau mau mengajukan tugas belajar, harus ikut proses assessment (psikotes, FGD, dan wawancara) sebelum muali mencari sekolah dan beasiswa. Salah satu perks yang worth noting tentang tugas belajar adalah: kita masih dapat gaji dan tunjangan (tapi kalau di luar negeri gajinya 50%). Untuk beasiswa, bisa dengan beasiswa ESDM, bisa juga beasiswa dari luar. Info terakhir yang gue terima belum lama ini, saat ini beasiswa dari kantor gue diutamakan buat yang di dalam negeri. Jadi untuk yang minat mendaftar sekolah di luar negeri harus putar otak dan cari alternatif lain.
  • It’s easy to fall in the trap of the comfort zone, which for some people is not a bad thing. Kalau buat gue, jujur gue takut sih masuk zona nyaman. There’s no growth in you comfort zone kan ya?
  • Traveling. Kalau ketemu senior kuliah atau teman main, gue sering diceng-cengin, Ih enak banget sih Monik, jalan-jalan terus, ke luar negeri terus. Gue senyumin aja. Ya gak bisa gue deny traveling itu ada asiknya, suasana kerja gak monoton, banyak hal baru yang dilihat dan dialami tapi di balik itu juga ada tradeoff yang gak gue tunjukkan di Instagram gue seperti work life balance yang sering jadi korban dan stres. Buat yang sering business trip pasti paham, jalan-jalan untuk kerja dan untuk liburan itu beda banget. Tapi ya gak bisa gue pungkiri kalau gue bersyukur bekerja sebagai PNS ini memungkinkan gue untuk menjangkau banyak tempat dan mendapatkan pengalaman dan pembelajaran yang berharga.

Vienna circa 2015. Perjalanan dinas luar negeri pertama gue, ditugaskan ikut bos-bos: Pak Dirjen, Pak Menteri, Pak Gubernur OPEC, Dirut & Komisaris Pertamina yang lagi rapat OPEC di Wina, Austria

The elephant in the room: money talk

Ketika berbicara tentang menjadi PNS, we can not deny the elephant in the room: money. Penghasilan PNS di tengah mahalnya hidup di Jakarta. Apa iya, cukup? Ini bener-bener Frequently Asked Question yang gue dapet. Wajar sih, kalau kerja di swasta aja, lo pasti nanya kan starting salary berapa? Memang sih, PNS itu abdi negara, but please, you have bills to pay and mouths to feed. Jadi di sini gue mau kasih gambaran tapi harus gue tegaskan kalau ini bisa bervariasi banget. Inget PNS itu range pekerjaannya luas: dari pegawai kecamatan di daerah, pengamat gunung api, dokter, auditor, sampe dosen (PTN sih ya) itu PNS. Jadi gak bisa dipukul rata. Gue hanya bisa berbicara berdasarkan pengalaman ya, jadi bisa aja di instansi lain beda.

Untuk gue yang single, tinggal di rumah orang tua, dan bahkan untuk transportasi bisa nebeng bokap (baik pergi ke kantor maupun pulang) so far sih cukup-cukup aja. Kalau kata nyokap ketika menampis asumsi Namboru gue kalo gaji gue gede, “Kalo si Monik, Eda. Gak besarnya gajinya. Tapi selama dia bisa beli makeup, bayar taxi, ya cukuplah itu.” (Oke itu sih over simplification ya haha). Lain halnya misalnya untuk temen dari daerah yang harus ngekos (apalagi kalo deket kantor, di area Kuningan kosan itu mahal loh) belum lagi kawan-kawan yang berkeluarga, ngontrak/cicil rumah, cicil mobil, dan sebagainya.

Let’s go straight to the point. Berapa sih THP gue? Untuk mematok di satu angka tertentu sulit ya karena ada komponen yang sifatnya gak tentu.

  • Gaji pokok: Rp 2,5 juta (kalau udah nikah/punya anak lebih gede tapi beda tipis)
  • Tunjangan kinerja alias tukin (kalau tertib dan gak terlambat karena kalau terlambat dipotong): Rp 2,8 juta
  • Lain-lain misalnya: honor tim  dan honor perjalanan dinas

Nah perlu dicatat, buat CPNS, besaran gaji pokok dan tunjangan kinerja yang diterima di tahun pertama itu 80% (dan selebihnya gak dikompensasi hehe) dan pas jaman gue sih, dirapel 3 bulan (so basically gue 3 bulan awal gak gajian, temen gue menyebutkannya mantab: makan tabungan).

Oke jadi di luar gaji pokok dan tukin ada komponen lain seperti honor tim dan honor perjalanan dinas. Tim ini sifatnya bervariasi antar instansi. Dari obrolan dengan kawan, ada kementerian yang udah gak terima uang tim tapi dikompensasi dengan tukinnya yang lebih besar.

Kalau soal perjalanan dinas (sering disebut SPPD atau SPJ), agak sulit untuk dipatok berapanya. Perjalanan dinas itu buat apa? Kalau mengacu bahasa hukum, untuk pembinaan dan pengawasan. Itu kan luas banget ya scopenya. Praktiknya perjalanan dinas itu bisa untuk kunjungan lapangan/site visit, peresmian, rapat, konsinyering (gue baru tau ada kata konsinyering setelah jadi PNS. Konsinyering itu ya kayak rapat gitulah), acara workshop/seminar di mana instansi lo diundang (biasanya sebagai narasumber, yang jadi narasumber sih pejabat/bos lo dan biasanya ngajak bawahannya untuk mendampingi), inspeksi teknis (kalau di ESDM ada jabatan inspektur yang tugasnya ke lapangan untuk inspeksi teknis dan peralatan), training/diklat, koordinasi dengan pemerintah daerah, monitoring, dan masih banyak lagi. Ya namanya juga pemerintah pusat apalagi kementerian teknis, yang membuat kebijakan dan keputusan yang impactnya ke banyak stakeholder, seperti pemerintah daerah, pelaku industri dan masih banyak lagi. Apalagi buat gue yang punya zero experience bekerja di industri migas, seringkali belum punya sense kalau di lapangan gimana. Kasarnya, ya kita kan taunya di atas kertas atau di dalam slide gimana. Apalagi kalau udah pejabat, yang harus ambil keputusan. Gimana lo bisa menata dan mengatur kalau gak dapet holistic understanding tentang industri yang lo atur? Jadi bisa dibilang kalau pembelajaran bermanfaat dan ide baru seringkali muncul dari perjalanan dinas.

Nah perjalanan dinas itu frekuensinya beda-beda dan itu tergantung pimpinan, kondisi anggaran, dan periodenya. Gak bisa dipungkiri, pimpinan pasti mengoptimalkan penugasan perjalanan dinas (tentu sesuai job desc juga sih, kalau penugasannya gak nyambung dengan job desc kan gak oke juga). Kondisi anggaran itu juga jadi salah satu penentu. Ada kalanya anggaran buat perjalanan dinas itu dibatasi karena diprioritaskan buat hal lain, misalnya pembangunan infrastruktur. Untuk periode, yang gue maksud adalah kapan karena memang ada bulan-bulan di mana perjalanan dinas itu terbatas. Kalau dari pengalaman sih biasanya awal tahun dan bulan Ramadhan.

Letak uncertainty lain adalah kapan cair (wkwk).  Kalau di unit gue, honor perjalanan dinas itu sifatnya nombok (gak dibayar di awal, thank God for credit cards dan koperasi kantor tempat booking tiket pesawat yang boleh bayar belakangan). Bisa sebulan baru cair. Bisa dua minggu. Bisa dua bulan. Lama di sini bukan karena dilama-lamain ya tapi karena emang proses pencairan itu gak mudah. Honor cair, jangan lupa kalau bentuknya cash. Makanya gue kalo jalan sama temen gue setelah ada SPJ cair (dan gak sempat setor tunai/ke bank) dan dia lihat gue bayar dari amplop, gue pasti diketawain. Bawa amplop kemana-mana gitu jadi ilusi tersendiri kalau punya banyak duit, itulah mengapa setelah jadi PNS gue jadi bersahabat dengan ATM setor tunai.

Soal dapetnya berapa dari SPPD, semuanya udah diatur secara legal dalam Peraturan Menteri Keuangan yang setiap tahun diupdate. Di situ secara rinci udah dijabarkan soal batas harga hotel (kategorisasinya per provinsi/negara dan besarannya tergantung jabatan), batas tiket pesawat, uang harian, dan lainnya. Misalnya tahun ini, untuk perjalanan dinas ke Bandung (berarti masuk provinsi Jawa Barat kan) uang hariannya sekitar Rp 400 ribu-an lah per harinya (belum termasuk uang transport).

Apa ada THR? Ada. THR PNS kan selalu diberitakan dalam media massa menjelang Lebaran. Apa ada bonus? Nope, gak ada.

Jadi kalau ditotal-total, range THP untuk staf macem gue (sarjana, single, golongan III-A) bisa 5 – 10 juta, again perlu diingat, itu tergantung frekuensi perjalanan dinas dan dengan asumsi honor-honor cairnya rutin per bulan. Bisa lebih kalau setiap minggu pergi dinas atau bahkan dapat penugasan dinas luar negeri. Melihat itu gak heran kan makanya gak sedikit PNS yang punya pekerjaan sampingan mulai dari jualan Tupperware, Oriflame, skin care, Herbalife, mukena, baju, katering makan siang, kue, jadi guru les privat. Selain jualan ada juga yang punya sampingan jadi instruktur fitness (ini beneran loh, temen gue, PNS juga, jadi instruktur Zumba di gym hits di Jakarta), atau jadi pengendara ojek online (ini serius, temen gue ada yang jadi driver Uber/Grab Bike), dan tukang cuci piring di restoran papan atas di Jakarta (kata temen gue gajinya hampir 4 kali lipat gaji pokok PNS). Gue sendiri sih belum punya sampingan, sempat terpikir untuk jadi guru privat English conversation atau TOEFL/IELTS tapi prioritas gue belum ke arah sana untuk saat ini. So the bottom line is: jangan jadi PNS kalau mau kaya, tajir melintir. Salah alamat, gan. Mending jadi selebgram aja yang terima job endorse.

(Kalau gue baca-baca ada wacana kalau THP PNS akan menjadi single salary, jadi gak terpisah-pisah seperti yang gue jelaskan di atas. Menurut gue itu sih bisa membantu banget ya apalagi buat kita kaum urban yang perlu cicil-mencicil. Kalau diperhatikan, THP PNS itu yah not bad lah, cukup kok, yang seringkali jadi isu adalah kepastiannya tiap bulan dapat berapa.)

The other elephant in the room: career path

Bagi sebagian orang, career path menjadi pertimbangan penting dalam memilih karir, gak melulu soal pendapatan. Gimana sih career path di PNS? Untuk naik jabatan masih like dislike? Tergantung performa atau loyalitas dan politik internal? Soal career path ini sering gue tanyakan ke senior dan pihak-pihak yang bersangkutan langsung menangani ini dan kelihatannya fixnya gimana masih dalam proses. Tapi yang jelas, yang udah existing saat ini adalah yang career path-nya relatif jelas itu jabatan fungsional tertentu seperti perencana dan inspektur. Yang udah jelas tingkatannya di mana untuk naik ke tingkat selanjutnya lo harus mengumpulkan angka kredit (kalau inspektur dari inspeksi ke lapangan, kalau perencana dari dokumen laporan misalnya). The thing is, gak semua orang menduduki jabatan fungsional tertentu. Kayak gue misalnya, gue jabatan fungsional umum. Jadi gue gak mengumpulkan angka kredit. Sebenarnya peluang untuk beralih ke jabatan fungsional tertentu itu ada dan dibuka terus setiap tahun. Tapi itu balik lagi ke pilihan masing-masing mau atau gak. Jadi buat gue yang gak kena sistem mengumpulkan angka kredit itu, the only way up the ladder is: selain naik golongan rutin (jadi setiap 4 tahun, PNS itu golongannya naik, jadi gue mulai karir gue di golongan III-A nanti naik golongan ke III-B)  adalah kalau masuk jabatan struktural/eselon alias jadi bos (wkwk). Perlu diingat kalau ini lingkungan birokrasi, jadi untuk naik ke jabatan struktural banyak tahapnya mulai dari pendaftaran, assessment, wawancara, dan ada semacam panel/rapat yang membahas dan menentukan kandidat mana yang akhirnya diberikan amanah jabatan. Udah gitu, lo bisa menjabat jabatan di bidang yang lo gak pernah sentuh sebelumnya. Well, sebenarnya gak hanya pejabat yang bisa dirotasi, staf pun juga bisa dirotasi. Jadi belum tentu unit yang sekarang sudah jadi comfort zone, baik dari orang-orangnya maupun pekerjaan, adalah sesuatu yang permanen. Harus siap buat belajar lagi dan membangun hubungan baik lagi. Adaptability & being a quick learner is very important.

Kalau pengembangan SDM gimana? Untuk case di ESDM, ada banyak akses ke program-program training baik domestik maupun internasional. Yang fully-funded di luar negeri juga ada rutin setiap tahun, sebagai salah satu bentuk kerjasama bilateral Indonesia dan negara lain. Pelatihan domestik lebih banyak lagi baik yang dari ESDM atau instansi lain. Berhubung untuk diklat gitu kan (selain yang gratisan dari pihak luar ya) gak gratis dan butuh anggaran, jadi perlu dicatat, ada/banyaknya program diklat yang bisa diikuti lagi-lagi balik ke prioritas anggaran alokasinya gimana dan itu ada di tangan pimpinan. Untuk pengembangan informal juga banyak ragamnya misalnya in house training dengan narasumber profesional atau organisasi internasional, atau morning class / sharing session dengan tokoh-tokoh energi.

Something worth noting: health care benefits

Kalau ngobrol-ngobrol sama teman kuliah soal kerjaan, gue suka iseng tanya benefit kesehatan yang mereka terima dari pekerjaan apa. Rata-rata, mereka dapat asuransi dari kantor dan itu bervariasi ada yang dapat kartu untuk berobat rawat jalan, ada yang sampe dapat asuransi kacamata setiap tahun, ada asuransi yang untuk melahirkan pun ditanggung, ada yang asuransinya bisa mencakup anak dan pasangan.  Untuk PNS bagaimana? Ya, sampai saat ini health care benefit untuk PNS itu BPJS. Gue sendiri, thank God, belum pernah sakit sampai dirawat jadi gak bisa komentar soal layanan BPJS. Lagipula untuk menambah rasa aman, akhirnya gue beli asuransi kesehatan (yang murni dan gak sekalian investasi/Unit Link) dari provider asuransi. Kalau lihat sisi positifnya, ini jadi semangat untuk menjaga kesehatan. Inget Mon, lo PNS, you can’t afford to be sick (wkwk). Jadi mungkin ini bisa jadi pertimbangan penting juga, terutama buat yang berkeluarga.

What’s next?

Apakah gue menyesal jadi PNS? Oh tidak. God put me here for a reason. Sometimes I wonder, apa jadinya kalau dulu gue gak ambil ESDM ya. Entahlah. It is what it is, and I am grateful. Setelah 3 tahun bekerja di kementerian, agenda gue berikutnya adalah menikah tapi gak tau dengan siapa dan kapan sekolah lagi tahun depan di Amerika Serikat. Setelah 3 tahun ini, salah satu tantangan besar adalah menjaga semangat. Keeping the flame alive. Gue harap dengan gue sekolah lagi bisa muncul ide-ide dan menambah kompetensi gue untuk berkontribusi di ESDM. Bisa bayangin gak sih kalau 20 tahun lagi instansi pemerintah isinya orang-orang berpendidikan tinggi, berpengalaman luas dan bersemangat yang awalnya anak muda piyik kayak kita? Wouldn’t that be awesome? Kalau salah satu rekan gue, Mas Yogi, di status Facebook-nya, “Luruskan niat dan teguhkan tekad karena ini lebih besar dari sekadar diri pribadi.” Gue berharap tulisan gue bermanfaat ya, mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan. Pokoknya apapun pilihannya semoga bermanfaat ya buat orang banyak! Semoga kita semua diberkati untuk memberkati ❤

Advertisements

Are you religious?

About a month ago, I went on an impulsive solo day trip to Nusa Penida, Bali.  I was in Bali for a 3 day training program that finished on Friday and my flight back home was scheduled on Saturday morning. I figured, why not make it Saturday night and spend the day somewhere. I was thinking of having some well deserved me time in a beach club in Seminyak or a nice infinity pool in Ubud. After doing some research (as in endless browsing on Instagram), I figured I’d go on a motorcycle day trip at Nusa Penida, a nearby island from Bali.

me & le travel buddy in Nusa Penida

I thought I’d be completely alone, well with my tour guide of course. To my surprise, there was another girl, also on the same solo and guided motorcycle day trip, a European tourist who has been in Bali solo travelling.  Long story short, after passing some introductory small talk our conversation drifted to school, Indonesian snacks, and then spirituality.

There was one question that particularly got me stumped.

She asked me, “Are you religious?

Nobody has ever asked me this question before. Besides, I prefer not bringing up such a delicate topic especially with someone I just knew for 20 minutes. Normally, especially in our lovely country, you’d hear the quite classic (and rude) “What’s your religion?” question but asking “Are you religious?” triggered a different kind of response. At least, it made me think a bit instead of blurting out mindlessly that I’m a Catholic.

I paused a bit. Since I’m currently in a phase which my spirituality is limited to going to church every (other) Sunday and praying before flights. I almost never participate in church activities whatsoever. We were never church kids. I could go through weeks without going to church.

I answered quite sloppily, “Well I’m a Catholic and I go to mass, but I haven’t gone to church in weeks. I pray sometimes. I guess I can’t really say I’m religious.”

My understanding of being religious is being devout. Being pious. In the context of being a Catholic, I’d say that being a religious Catholic is, at least, praying every morning and night, going to mass every Sunday, and praying the rosary. Claiming to be religious, in my opinion, would be lying.

You often hear the saying, if you ever feel lucky it’s because of your mother’s prayers. In her spare time, my mother reads the bible literally everywhere, in the car, in a Starbucks, you name it. She does so with a highlighter in one hand to underline verses that leave a deep impression on her. One day, while gazing at her focused reading, the bitter truth hit me. My mother won’t be around forever. As selfish as this may sound, but who’s gonna pray for us then?

I’ve read somewhere that when it’s hard to pray, is when you have to pray the hardest. So here I am struggling to pray again. Praying again feels like reconnecting with an old and distant friend. It’s like an awkward dance: trying to remember the moves and matching them with the rhythm. Consistency is key and it’s not easy.

So here’s something to think about. Are you religious?

I took this picture on my trip to Mexico a couple of months ago. This is in the beautiful Basilica de Santa Maria de Guadalupe in Mexico City. Despite of not being so religious, coming to a Catholic church always feels like coming home.

Stop Me From Liking You

I hate it when I like someone, the highs are high, but the lows are low. A simple good morning text can make me giddy throughout the day, yet when you only read mine or reply coldly, it can make me cranky.

“Holy shit I think I’m starting to like him. What do I do? What if he doesn’t feel the same?” I tell my friend over coffee. My friend then tells me that maybe I’m just scared to get hurt again after my dark past of an unhealthy relationship.

Then after some careful analysis, it hit me. Perhaps it’s not the problem of liking someone or not. It’s a matter of when. I hate it when I begin to like someone when it’s too early in the stage. It feels like jumping off a cliff without knowing for sure if there’s a safety net in the bottom or not. Of all the guys why do I like you? What is it about uncertainty that is so alluring? Why was this feeling non-existent with the other guys who were shamelessly and blatantly clear up front about their intentions? What is it about vagueness that is so tantalizing? Is it the mind games of guessing and that sheer pleasure when your guesses prove to be correct?

That’s why I have deliberately installed a control valve to this flow of irrational feelings.  I try diverting the flow of energy and attention elsewhere: to more useful things to get my mind off of you. I try so hard not to get happy when you say good morning in an emoji. Oppressing that feeling is effort, I tell you. Complete effort. Because being happy will lead to getting my hopes up. And getting my hopes up, creates a probability of getting really hurt when the outcome along the road doesn’t live up to what I have hoped for. It’s pretty much my self defense mechanism.

The thing is, this deliberate act of nullifying feelings has a side effect I have not anticipated: I now find it hard to actually like someone. So basically by trying to stop myself from liking A, I find it hard to even enjoy the presence of B, C, D, and E despite their efforts of approaching me, even after a date or two, or constant texting.

Does this make sense? Probably not. Because this is a product of a girl on PMS and going through a crisis and letting of steam. Oh man do I wish I could hop on a time machine to that moment in the photo above: just me, the beach, and my thoughts.

The Bruise

monicantik - bruise

You’re like the bruise on my thigh: I don’t know how the hell you appeared in my life and boom somehow you’re there. I notice you when I’m off guard, when I’m not busy with the mundane things in life, when I’m alone and vulnerable. I feel your existence, lingering but only temporarily.

After a while I realize I no longer feel pain anymore when I apply pressure to the part where you used to reside. You left silently and swiftly, without showing any signs. Well there were signs. You faded away. You used to be significant but slowly you blurred into your surroundings. I was either too busy or too ignorant to notice. And then before I knew it, you’re gone. I no longer feel you.  You’re no longer there.

You’re like the bruise on my thigh: you randomly enter my life and you quietly leave without me noticing you fade away on your way out.

But wait, perhaps I’m wrong.

You’re not like the bruise on my thigh. I am.

Cara Gue Dapet Beasiswa LPDP

Beasiswa LPDP - monicantik

So as many of you may know, salah satu milestone penting yang gue targetkan di usia 20-something ini (selain menikah, meski single boleh dong berharap haha) adalah mendapatkan gelar Master dari program studi di Amerika Serikat. Setelah sekian lama menunda, akhirnya gue bergabung jadi pejuang LPDP, beasiswa paling populer di generasi milennial. Kenapa beasiswa ini cukup hits, terutama di tengah temen-temen angkatan gue, adalah karena dikenal sebagai beasiswa yang bukaannya bergulir terus dan semua di-cover, bahkan termasuk tunjangan anak-istri/suami kalau ikut nemenin ke luar negeri.  So it’s safe to say that it is pretty much a scholarship hunter’s dream.

I have always had the American dream to pursue graduate education in the US. Kenapa US? Selain karena gue pengen balik tinggal di US (dulu gue tinggal di US selama 7 tahun di masa kanak-kanak), gue amati cetakan US itu beda sama cetakan negara lain (gue kira gue doang yang merasa, ternyata temen-temen US grad school hunter lain juga berpikir begitu). Dari sekian banyak beasiswa yang ada, mulai dari beasiswa dari kantor (working in the government enables access to a government funded education right from the ministry I work in) sampai the famous Fullbright scholarship, gue memilih LPDP, bukan karena latah, tapi selain karena alasan yang gue sebutkan di atas, gue lihat LPDP akan jadi network yang oke banget, if not now, maybe in the next 15-20 years ketika para awardee ini memegang peranan penting di berbagai stakeholders.

Syukur kepada Tuhan, pada kesempatan pertama kalinya gue ikut seleksi beasiswa LPDP (tanpa memegang LoA) gue lolos dan jadi awardee. Jadi gimana cara gue nyiapinnya? Nothing special to be honest, malah, in retrospect, gue termasuk gedebak-gedebuk, as in, cukup mepet-mepet nyiapinnya (that’s why I didn’t name this post as ‘Tips Mendapatkan Beasiswa LPDP’ karena gue merasa gak layak untuk membagikan tips hahaha). Sebenernya sederhana aja: cari informasi, ikuti petunjuknya, lengkapi tepat waktu. Kalau ada bingung-bingung, bisa nanya temen atau nanya gue juga boleh atau bisa juga langsung mengontak pihak LPDP, entah via telepon atau email, tenang aja pihak LPDP cukup sigap dalam merespons. Simpel kan?

Di sini gue gak akan menulis ulang syarat-syarat dan tahapannya karena semua itu bisa langsung lo peroleh di situs resmi LPDP. Di situ udah ada file-file PDF yang bisa didownload yang lengkap tentang syarat-syaratnya, dan berkas yang harus disiapin. Intinya sih harus proaktif. Sayangnya belum ada mailing list resmi yang bisa diikuti seperti yang ada di beberapa kampus yang rutin mengupdate info, jadi silahkan rajin-rajin cek situs resminya, apalagi untuk tahun 2017, sampai saat ini belum ada informasi pendaftaran dibuka, unlike tahun-tahun sebelumnya.

Step 1: Berburu Informasi, Atur Waktu, Buat Akun

Jadi hal pertama yang gue lakukan itu: berburu informasi terus gue catet dalam agenda gue, buat check list apa aja yang harus disiapin, dan deadline-deadline gue pasang di calendar di HP gue. Berburu informasi gue lakukan dengan mempelajari dokumen Panduan Pendaftaran Beasiswa, nanya-nanya temen-temen gue, baca-baca blog orang, sampe nonton video YouTube tentang LPDP. Nah setelah dapet gambaran apa aja yang bakal gue hadapi, gue atur waktu yang harus dilakukan buat persiapan. Gue tipe orang yang harus ngeliat timeline secara umum dulu biar ada bayangan range waktu gue siap-siap, terutama menyangkut persiapan berkas yang waktunya bisa lama kayak surat keterangan sehat, surat bebas narkoba, surat bebas TBC, sama SKCK. Rencana timeline juga penting buat yang udah kerja buat atur cuti/izin, kan harus diatur-atur tuh biar cuti/izin seminimal mungkin, kalo ada yang bisa dibarengin waktu buat dokumennya ya dibarengin. Nah setelah itu, secara sekarang apa-apa udah serba online, untuk LPDP pun dilakukan via online dengan buat akun buat upload-upload dokumen dan profil. Itu juga portal informasi, so I instantly bookmarked the URL on my laptop browser. Saat daftar LPDP di akun resmi, kita harus ngisi dengan jelas kita ngincer kampus apa, jurusan apa, di bidang apa, target intakenya kapan, dan udah pegang LoA atau belom.

Step 2: Siapin Berkas-Berkasnya, Kerjain Esainya, Submit Tepat Waktu

Kebetulan gue PNS, dan udah familiar sih sama dokumen-dokumen yang disyaratin kayak surat keterangan sehat, surat bebas narkoba sama SKCK. Kalau dokumen itu dikerjain secara paralel, amannya kasih waktu 2 minggu sih. Untuk LPDP, gue medical check up di RS Fatmawati karena udah pewe di situ, waktu CPNS dan pengangkatan PNS gue MCU di situ. Nah surat-surat persyaratan LPDP itu (surat sehat, narkoba, sama TBC) gak bisa diambil di hari yang sama, selisihnya kurang lebih 5-7 hari, dan tes TBC bisa dilakukan kalau hasil MCU udah keluar. Temen gue bilang ada RS yang bisa ngeluarin semuanya di hari yang sama, coba dicari-cari aja kalau emang pengennya yang cepet. Untuk SKCK sih cepet ya, gue nyampe Polres Jaksel itu siang-siang jam 11-an, jam 1-an udah beres. Oh iya, untuk SKCK sekarang udah gak perlu surat pengantar lurah, jadi langsung aja. Selain dokumen-dokumen itu LPDP juga minta skor IELTS/TOEFL. Kebetulan pas daftar LPDP gue udah ada skor IELTS yang masih fresh jadi gue pake itu aja. Untuk surat rekomendasi sama surat izin atasan, kebetulan gue udah komunikasiin niat gue untuk S2 ke atasan-atasan gue di kantor dari jauh-jauh hari dan hamdallaaah banget mereka sangat suportif, jadi untuk dokumen-dokumen itu persiapannya lancar. Untuk surat rekomendasi LPDP bentuknya formnya gitu, jadi tinggal diisi dan ditandatangan, terus di-scan dan upload ke akun.

Nah pendaftaran LPDP itu minta 3 esai. TIGA ESAI. Gue awalnya ngiranya itu pilih salah satu gitu ternyata 3 dong wkwkwk. Apa aja? Kontribusiku Bagi Indonesia, Sukses Terbesar Dalam Hidupku, dan Rencana Studi. Yang Rencana Studi mungkin bisa dibilang paling gampang ya karena itu bisa dari informasi yang di situs resmi kampus. Yang kedua pertama itu yang agak-agak butuh ilham. Ditambah lagi, gue merasa bikin esai dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris itu beda banget wkwkwk. Gue dapet tips bagus banget dari temen gue yang udah dapet LPDP sebelom gue: dia bilang gini waktu itu. ‘Mon intinya lo harus tau betul apa yang bisa membuat lo sampai di sini sekarang, ke depan lo mau apa dan apa yang harus lo lakuin buat sampe ke situ.‘  Basically kalimat ini emang basis gue memulai proses persiapan S2 sih. Di sini gue gak akan share esai gue tapi gue share flow ceritanya aja. Di esai Kontribusi gue cerita gue punya visi apa buat Indonesia, kontribusi gue lewat pekerjaan gue di kementerian, apa yang pengen gue lakukan buat membantu mencapai visi itu, perlunya peningkatan kompetensi buat gue bisa melakukan itu, dan peranan studi di luar negeri buat peningkatan kompetensi. Ya intinya kan kita punya mimpi sekolah di luar negeri, kita harus meyakinkan ke sponsor kenapa kita worth it. Untuk yang sukses terbesar dalam hidupku gue cerita tentang pengalaman gue di tingkat akhir kuliah di mana di segala kesibukan yang gue ambil, gue lulus tepat waktu, bisa manage peranan leadership dengan baik, dan menang lomba. Di situ gue cerita tantangan apa yang gue temuin dan gimana gue mengatasi tantangan itu.

Untuk 3 esai itu gue bikin 3 draft, dan gue minta direview 2 temen gue yang awardee dan lagi kuliah di US dan Belanda. Feedback itu berguna banget, karena ya mungkin mata mereka segar jadi bisa dengan cepet notice kalau tulisan kita gak jelas atau kurang kuat.  Setelah yakin, chuuuusss upload semua dokumen yang diminta! Gue inget tahun sebelumnya pas temen-temen di geng gue daftar LPDP mereka ngeluh websitenya lemot banget pas hari terakhir pendaftaran, jadi buat antisipasi itu gue udah submit sebelum hari terakhir.

Step 3: Tunggu Pengumuman Seleksi Administrasi

Yap. Nunggu. Menunggu kepastian. I guess at this stage, you’re gonna find yourself checking your online account every time you open your laptop. Nah pengumuman seleksi administrasi cukup cepet. Pas gue ikut seleksi, jarak dari deadline submit berkas ke jadwal seleksi substansi itu kurang lebih 2 minggu. Jadwal kita dapet seleksi substansi dapetnya kapan itu keluarnya gak langsung pas diumumin lolos jadi sabar dan stand by terus aja.

Step 4: Siapin Seleksi Substansi, Give It All You Got

Seleksi substansi itu terdiri dari: wawancara (2 dosen, 1 psikolog), leaderless group discussion (LGD), sama tulis esai on the spot. Karena gue pilih tes di Jakarta, ternyata seleksi substansi bertempat di STAN Bintaro, deket sama rumah gue. Kalau lo udah sering ikut tes kerja, sebenernya gak jauh beda sih apalagi untuk LGD sama interview. Untuk interview balik lagi ke: lo tau betul apa yang bisa membuat lo sampai di sini sekarang,  ke depan lo mau apa dan apa yang harus lo lakuin buat sampe kesitu. Kalau kata temen gue, be unbreakable. Gak bisa dipatahin. Jadi gue suka simulasi interview dalam kepala gue, buat ngetes jawaban gue masih bisa di-rebutt apa gak. Gue pelajarin lagi esai gue dan pelajarin tentang program studi yang gue incer: kurikulumnya, biayanya, rangkingnya (rangking sekolah itu penting buat LPDP). Gue juga baca-baca dari blog orang, di google udah banyak post yang cerita lengkap tentang pertanyaan yang keluar pas interview. Gue inget banget pas lagi duduk nunggu dipanggil gue liat kiri kanan, banyak yang udah ngetik pertanyaan-pertanyaan dan jawaban terus diprint terus dipelajari sambil nunggu dipanggil. Niat abis. Gue merasa udah cukup pede sama jawaban yang udah gue siapin di otak gue dan malah merasa lebih leluasa buat gue kembangin sendiri sambil jalan.

Begitu dipanggil masuk, gadget dicek dan dipastiin dalam keadaan mati. Ruangannya bukan bilik-bilik kecil gitu tapi aula gede, isinya meja-meja disusun. Jadi kita bisa liat interviewer dan interviewee lain. Begitu gue masuk, salah satu interviewer dosen langsung mempersilahkan gue untuk cerita. As expected, scope yang diminta untuk gue ceritakan itu: rencana ke depan, kenapa pilih program itu, cerita pekerjaan yang kemudian berkembang jadi pertanyaan lain seperti kenapa pilih LPDP, statusnya PNS/CPNS, pendapat tentang dunia migas saat ini. I think 2 questions that I remember the most are: ‘You’re smart and you have excellent English. You can secure funding from other sources. Why LPDP?’ and ‘Your school seems expensive. If LPDP asks you to change the campus/country, would you want that?’.  Pertanyaan pertama gue jawab dengan alasan yang udah gue ceritain di atas. Kalau untuk yang kedua agak mengejutkan karena gak gue antisipasi, jadi secara spontan gue jawab dengan persisten kalau gue punya American dream and I will do whatever it takes to pursue it. Untuk pertanyaan psikolog gue ditanya pengalaman menyelesaikan konflik di tempat kerja. Overall interview-nya gak tegang. Kalau denger cerita dari orang lain ada yang diminta nyanyi, ada yang ditanya pertanyaan personal (udah punya pacar, kapan mau menikah). Oya, jangan lupa kalau kampus yang diincer itu di luar negeri, interviewnya dalam bahasa Inggris.

Untuk LGD….ya standarlah kayak FGD tes nyari kerja, ini juga dalam bahasa Inggris, gue denger buat yang ngincer program dalam negeri itu dalam bahasa Indonesia. Kan leaderless, dari situ clue-nya udah jelas kalau diskusinya tanpa peranan leader. Begitu semua udah duduk, dikasih topik di selembar kertas. Waktu gue tes topiknya Brain Drain, dikasih waktu mikir dan oret-oret, terus mulai deh LGD-nya. Strategi gue di LGD biasanya gue gak dominan tapi tengah-tengah gitu. Gue dengerin dulu 2-3 orang ngomong, nah begitu ada celah, gue lempar ide segar, perkuat dengan contoh/fakta dan gue hubungkan dengan poin-poin yang udah disampein di forum. Kira-kira gitu sih.  Begitu udah bergulir, gue lanjut lagi dengerin terus kalau misalnya ada yang bisa gue lengkapi atau gue connect idenya ya gue ngomong lagi. Be clear and confident.

Tes menulis esai on the spot itu awalnya dikasih pilihan 2 topik dan disuruh nulis tentang salah satu. Topiknya kayak narasi pendek gitu. Waktu itu tentang anggaran pendidikan sama tarif jalan tol. Trust me, bisa dinalar kok. Somehow, untuk tes yang ini mengingatkan gue pada tes writing GRE, yang esai kedua di mana kita dikasih narasi dan disuruh kritisi. Kebetulan pas gue seleksi substansi, gue dapet jadwal satu hari jadi gue dateng pagi, sore-sore jam 4-an gitu udah kelar. Ada juga yang 2 hari, jadi beda-beda. Oiya kalau dapet tesnya di STAN ada baiknya bawa bekal karena agak rempong kalau mau beli makan (gak disediain makan siang, cuma kue-kue).

Step 5: Pasrah, Berdoa, Tunggu Pengumuman

Nah kalau udah lewatin 1-4, selebihnya udah Divine Intervention aja gak sih? Waktu gue seleksi, jarak waktu dari seleksi substansi sampe pengumuman itu 3 minggu. Melegakan juga sih karena gue bisa ngalihin fokus gue ke hal lain. Ya katanya sih kalau memang rejeki lo, it’s yours, if it’s not ya udah, belom aja kali.

Oke jadi kurang lebih begitu step-step yang gue lakukan untuk mempersiapkan LPDP. Saat ini gue lagi menunggu pengumuman PK dan proses berburu LoA, jadi ya kelar satu, lanjut kerjain yang lain wkwk.
Semoga tulisan gue bisa membantu ya, and if you still have questions, feel free to drop a comment below!

Loving is Like Flying

monicantik - galau

Loving is like flying.

No matter how many times you do it, it never gets easier.

You’ve done it several times but every time turbulence hits and the ride gets scary, worst case scenarios race through your mind. You imagine the horrible moment of falling to your death. You imagine the faces of your loved ones, safe and sound in the warmth of home, sweet home. Your grip on the tray table tightens as you glance at your watch every 5 minutes. You find a song on your playlist that you consider soothing, preferably a love song. You turn up the volume and focus your attention to the melody. You get so focused that you can distinguish the sound of the bass, guitar, drum, and piano. You silently pray, asking God to forgive your sins and make the plane stop shaking. You imagine God with his giant hands holding the plane through the pitch black night sky, like a little kid playing with a toy airplane. You recite the Hail Mary over and over again. There’s something about the Virgin Mary that never ceases to comfort you. And then you swear you’ll never do it again. You’ll never get on a plane again. It’s too much to handle for your fainthearted soul.

But after a while when the chance of flying again comes, you say yes. Somehow you’ve managed to forget your fear and the risks of crashing. You’ve survived before, might as well do it again. You willingly board that plane again, believing the journey that lies ahead will be worth the risk you’re taking.
– GA669 TRK-CGK; 29,000 feet above sea level

Twisted Logic

monicantik - st regis rome hotel

Sometimes you tell someone to never call you again and then the phone rings and you hope it’s them, it’s the most twisted logic of all time.

Hello there. How are you? Are you reading this? Do you still think about me after all this time? After the mess we’ve made? After the pain you’ve caused and the countless messages from my friends (and family) to stay away from you? After I ran away?

It’s been 9 months since we met and talked for the last time. I blocked every possible avenue for you to reach me. I even changed my number. Finally after years of going back and forth, I did it. I made my grand exit.

Thank you though. This time you let me walk away in peace. Thank you for that.

It’s weird. I’ve been thinking of you these past few days. I saw a guy on TV that has a striking resemblance to you. The way the corners of his eyes wrinkle when he smiles, well it’s exactly like yours.

Are you okay? I hope you are.

I sincerely hope you found a replacement. I pray everyday God sends you one. I haven’t found mine yet, perhaps God doesn’t think I’m ready yet. Well, I feel ready, but I don’t know… maybe I have to open up more? The time I spent with you changed me. I am more quiet now, more reserved. There was a time that I felt I was becoming numb.

Whatever, it’s probably just me overthinking, as usual.

45 Minute Getaway

monicantik - Sundays Beach Club

I don’t need to teleport to Bali, Paris, or Moscow for a quick getaway. Hearing my phone ring and seeing your name on my phone screen, calling to say hi and how my day was is the equivalent of a getaway. To me, a 45 minute, 15 minute, or even a 1 hour call from you is equivalent to a getaway.

The warm hello coming from the other end of the call emanates the excitement of boarding a plane to the getaway destination.

Making you laugh radiates the same happiness as feeling warm Uluwatu sand between my toes and the cool water splashing against my skin.

Hearing your stories reminds me of the crisp air of Budapest in winter time: fresh and soothing.

The comfortable pauses of silence in between are delicious. Silence does not bother us. Hearing you breathe (not in a creepy sense) reminds me of taking a night stroll in Vienna.

I look forward to your call the same way I look forward to my annual vacation.

Can we savor this while it lasts?

Can this be preserved and be saved in a capsule, to open from time to time?

Recent Change: Hair

Rambut before after

Before: rada panjang; After: abis dirapihin

Katanya, potong rambut itu buang sial.

Jadi, ceritanya gue abis motong dan ngecat rambut!

Kalau soal potong, emang udah waktunya sih. Setiap tiga bulan, udah wajib hukumnya rapihin rambut ke salon langganan gue di Irwan Team, Bintaro Xchange, sama stylist langganan gue, si Om Thio. Entah kenapa rambut gue udah cocok banget dipegang doi, jadi udah beberapa tahun belakangan untuk urusan potram, gue gak memercayakan ke tangan orang lain selain doi. Dua minggu terakhir gue perhatikan kok rambut gue udah mulai gak jelas bentuknya, terus pas cek tanggalan oiyak udah waktunya trimming!

Image result for hair gif

Rambut gue tipis, teksturnya halus dan mengkilap, tapi tipis. Rontok sih gak terlalu, sejak gue pake sampo DS 10 (bisa beli di Guardian, botolnya kuning dan harganya sekitar 300 ribuan) dan pake semprotan hair tonic Klorane (waktu itu beli di Changi lagi promo, 3 botol sekitar 110 SGD).  Karena tipis itu lah, perlu trik-trik hair style buat bikin keliatan bervolume. Gue juga merasa rambut itu signifikan banget untuk nge-frame wajah. Berhubung gue orang Batak dengan rahang kotak dan pipi chubby karena gue gendut, kalo rambut deket muka udah gak jelas ngeframenya (dan biasanya emang setelah 3 bulan gak potong), gue langsung merasa risih dan pengen cepet-cepet rapihin. Hair stylenya simpel aja, poni panjang (sebenernya gue gak yakin masih bisa dibilang ini poni apa nggak) dan dilayer.

Image result for beautiful hair gif

Nah selain potong rambut, gue juga ngecat rambut, tapi kali ini gak di salon. Ini sih udah lewat waktunya. Gue terakhir mewarnai rambut itu sebelum dinas ke Italy bulan Desember lalu, di Irwan Team juga. Dan beberapa kali dalam 3 bulan terakhir di rendam pake daun henna atau daun pacar. Jadinya hasilnya coklat-coklat gitu deh. Waktu itu niatnya supaya kece aja difoto, rambut gue hits ala ala, warna cakep gitu. Dan gue sukaaa banget warna rambut gue waktu itu. Tapi berhubung udah berlalu 8 bulan, yhaaa, warnanya udah turun, sampe gue disangka ngombre karena yang deket akar coklat tua (rambut asli gue memang bukan hitam Sunsilk gitu tapi coklat tua), yang bawahnya coklat muda nyaris pirang. Akhirnya sama nyokap disuruh cat sendiri aja di rumah gak perlu ke salon, lebih murah ceunah. Jadi nyokap gue juga suka bereksperimen warna rambut, dia abis nyobain cat rambut dari L’oreal. Nah abis nyobain katanya enak, dan gak bikin rambut kasar. Jadilah gue nyoba juga, L’oreal Excellence yang warna Moka Brown. Kebetulan di Guardian lagi promo gitu jadi sekitar 97 ribuan. Who doesn’t love promotions right? Warna di kotak sih coklat sedang gitu, gak terlalu gelap dan gak terlalu terang juga. Pas sesuai salero gue. Setelah dikerjain di rumah dengan mengikuti instruksinya, voila hasilnya rada item hahahaha. Tapi bagus sih, kata nyokap jadi keliatan lebih muda dan sexy gitu ketimbang rambut coklat yang udah mulai mirang. Terrruuuuusss yang gue suka banget adalah rambut jadi halus mengkilap gitu! Luv banget deh. Sebenernya gue masih pengen ngewarnain yang lebih coklat lagi tapi mungkin dalam 2-3 bulan ke depan, probably sebelum Natal.

rambut

Before: rada coklat pirang; after: Coklat tua nyaris item

First eMatrix Experience

Monicantik - eMatrix

Kiri: ceritanya foto before; Tengah: abis diolesin anestesi; Kanan: di jalan pulang setelah di-eMatrix

 

So after a long time procrastinating, I have finally summed up the guts (and cash lol) to have an eMatrix treatment! Kenapa eMatrix? Down timenya pendek (gak perlu sampe cuti segala, ribet buat kita-kita yang punya komitmen pekerjaan yang sulit ditinggal).

As many of you may know, I struggled with a really bad phase of acne in my high school years, which cleared up in my first year of university setelah pindah ke dr. Rani. Ketika gue berjerawat di masa-masa SMA itu, gue berobat ke Titi Moertolo dan mengikuti sarannya untuk difacial, di mana ternyata, mengutip masukan yang gue terima, malah bikin scars di muka gue, dan scarsnya bukan yang discolored, merah atau item gitu, tapi yang cekung-cekung, jelek, bikin gak pede, dan butuh upaya (dan biaya lebih) buat menyamarkan (syukur-syukur bisa hilang, tapi dengan teknologi yang ada sekarang gue gak yakin bisa hilang 100%, tapi kalau bisa samar 60% kan kenapa nggak, ya kan?).

Gue akhirnya secara impulsif dan tanpa rencana, memberanikan diri ke klinik Dokterkulitku di Kemanggisan. Sebenernya sekitar setahun lalu gue pernah dateng, ya tes ombak lah, udah konsultasi tapi belum treatment. Kebetulan sempat ada waktu kosong, gak cuma buat treatment, tapi buat ngerem diri di rumah nunggu merah-merah pudar. Yaudah tanpa pikir panjang, gue sikat aja. Memang di saat gue dateng bukan pas lagi ada maraton, tapi kebetulan lagi sepi juga. Sehari sebelum treatment gue udah nelfon baiknya dateng jam berapa, dan dianjurkan buat sampe jam 11, untuk dioles krim kebal (anestesi) dan didiamkan selama 1 jam, dan pas dokternya dateng jam 12, gue udah bisa dikerjain. Oke, gue ikutin saran Mbak-Mbaknya.

Pas dateng, dipersilakan naik ke lantai 2, tiduran, muka gue dibersihkan dan diolesin  krim anestesi (di foto atas yang tengah). Bisa diliat dia gak ngoles semuka-muka, karena yang dioles hanya problem area yaitu yang ada scar dan akan diematrix. Sensasinya agak perih-perih dingin gitu. Setelah itu gue ditinggal deh sekitar satu jam (dan ketiduran hahaha). Kebetulan pas gue dateng agak sepi, gue pasien urutan kedua. Jadi setelah sejam lebih dikit berlalu, giliran pasien pertama, dan abis itu baru gue. Deg-degan sih mayan, soalnya pengalaman pertama laser di dr. Rani dua tahun lalu, itu sakit banget. Gue ngecengkram tangan nyokap sampe super kenceng gitu kasian doi  ikut kesakitan. Mbak-mbak yang ngolesin krim menenangkan gue dengan bilang, sakitnya masih kalah sama sakit difacial. Seperti biasa, gue yang skeptis ini gak bisa menelan klaim itu bulat-bulat. So I expected the worse aja.

Akhirnya tibalah giliran gue. Ruang pengerjaan eMatrix itu ada di lantai pertama, dan treatment ini dihandle langsung oleh dr. Simon. Muka gue disiapin, krim anestesinya dibersihkan dan voila, siap untuk dibakar! Setelah satu jam diolesin, emang berasa kaku dan numb sih kulit muka gue. Alat ematrix itu kecil, dan tanpa basa basi, dr. Simon langsung mengaplikasikannya ke kulit muka gue. Berhubung tindakan nggak didahului sama konsultasi jadi gue sembari nanya-nanya. Dr. Simon agak kaget melihat scars gue yang dalam, dan menganjurkan supaya gue treatment 6-8 kali, dengan gap sebulan sekali. In terms of pain, surprisingly, sakitnya gak separah laser di dr. Rani. Masih sangat sangat tolerable. Kecuali di beberapa area yang dalem di mana Pak Dokter agak berulang lewatinnya. Bener sih, sakitan facial hahaha. Gue kalo facial nangisnya bisa heboh, pas kelar eMatrix sih ya mata kiri berair dikit tapi udah aja gitu. Terus setelah kurang lebih 15 menit kelar deh. Kebetulan, area muka gue yang bermasalah gak gitu luas, di pipi kiri, pipi kanan, sama jidat tengah dikit di antara alis. Jadi cepet deh kelarnya.

Selesai pengerjaan, gue dikasi serum Growth Factor, dalam kapsul-kapsul mirip vitamin rambut gitu. 3 hari pertama harus pake itu dan gak boleh pake krim malem. Oiya salah satu hal yang gue suka dari treatment di Dokterkulitku selain down time yang relatif pendek dan sakit yang tolerable (nyaris tidak ada rasa sakit), adalah pasien gak harus migrasi ke produk-produk/krim Dokterkulitku. So basically you can stick to your own skin care regime, mau dari dokter lain kek atau merek apa, selain untuk 3 hari pertama setelah treatment. Sabun pun pake sabun muka kita sendiri aja.

And the most important thing….hasilnya. Well, we’ll see. It varies from one patient to another, dan gue belum sampai posisi untuk bicara hasil. Mungkin setelah 4 minggu baru keliatan (kalau baca-baca di website Dokterkulitku). Tapi hasil obrolan dengan dr. Simon dan Mbak-Mbak yang ngolesin anestesi sih, dari pengerjaan pertama, improvement sudah tampak, tapi ya levelnya beda-beda aja tiap orang, ada yang 30, 40 bahkan 60 persen. Gue sih gak mau ngarep muluk-muluk, ya kata dokternya aja harus 6-8 kali yaaa mau ngarep apa sih setelah pengerjaan 1 kali? Well, setidaknya gue udah gak penasaran lagi sama treatment eMatrix.  I will update with the results (terutama pembuktian down time sih yang paling penting, apalagi buat kita-kita yang on the go dan agak malu kalo beraktivitas dengan muka merah). Dan yang pasti setelah treatment pertama kali ini gue udah pede untuk melangkahkan kaki lagi ke Kemanggisan untuk treatment lanjutan!

Buat yang concern soal biaya, di Dokterkulitku cukup fleksibel. Treatment bisa menyesuaikan dengan budget. Jadi kalo budget lo 1 juta, misalnya, ya nanti tindakannya porsinya ya 1 juta. Berhubung gue merasa nanggung udah jauh-jauh dan susah nyisihin waktu, ya gue pol-in aja gak pake budget. Info dari Mbak-Mbak di kliniknya sih, rangenya bisa ratusan ribu sampai 4 juta. Gue tadi abis 2,6 juta (untuk ematrix doang, di luar serum dan administrasi).

In a nutshell here’s a summary of the treatment:

Time spent: 90 minutes
Cost: 2.7 mio IDR (around 200 USD)
Level of pain: 4 out of 10
Post treatment products: Growth Factor (3 capsules)
Down Time (not yet proven): 3 days