Merantau di Amerika

So it has been such a long while since I have added anything to this blog. Life this year has been crazy. Dimulai dari kehektikan submit application buat program S2 di Amerika, skype interview, dan menerima Letter of Acceptance beberapa sekolah dan muncul pusing memilih yang mana (dalam jangka waktu 2017-2018 gue diterima di 6 sekolah: Duke University, University of Chicago, University of Pennsylvania atau UPenn, Carnegie Mellon University setelah sebelumnya pas 2017 gue keterima di University of Texas at Austin atau UT Austin dan Pennsylvania State University tapi tertunda keberangkatannya karena kebijakan LPDP yang nge-hold departure di tahun 2017 karena pas pengumuman di tahun 2016 belom ada LoA, yes my road to grad school was full of twists and turns along the way), akhirnya gue memutuskan untuk memilih Duke karena beberapa petimbangan. Lalu muncul pusing berikutnya yakni perpindahan universitas ke LPDP (di batch gue masih boleh, setau gue yang sekarang udah gak boleh) dan hamdallah disetujui (which again was nerve wracking karena temen-temen gue ada yang gak disetujui).
41442765745_515284a46a_o

Beberapa bulan lalu, gue dan beberapa temen berkesempatan untuk menjadi pembicara di @america, Pacific Place untuk sharing tips untuk mendaftar dan mempersiapkan diri untuk S2 di Amerika

Hal ini berlanjut ke persiapan berangkat ke Amerika, administrasi kantor, persiapan visa, imunisasi, dan menikmati momen-momen terakhir sama pacar dan keluarga, dan entah berapa farewell dari geng kuliah, geng kantor.
8689696311471 (1)

H-1 berangkat dan gue masih lalu lalang di kantor eh dapet farewell gift dari geng dirjen yang laffff banget.

Liburan ke sana sini sebelom memasuki fase hidup sebagai mahasiswa kere. Sampai akhirnya tibalah 4 Agustus pagi, di Soekarno Hatta. Berangkat ke Amerika, dianter geng kuliah, pacar, dan keluarga. Perpisahan yang cukup emosional dan terjadi mewek-mewek drama. Trust me, it was very overwhelming. Beberapa hari menjelang berangkat gue kayak hidup auto pilot gitu. It was crazy. Entah ada berapa orang yang nanya kapan berangkat tiap ketemu di lift, di kantor, di mana-mana. For everyone else, it seems seru, atau enak banget ke Amerika, it seems…. glamorous. Or maybe they were just being nice. Well the reality is: it was hard, you think you’re ready but you actually weren’t, it was an emotional roller coaster. But then it happened!
8689697308514 (1)

Geng kuliah yang rela Sabtu pagi jam 6 udah di Soetta dan nganterin gue. Terharu gak siiih.

8689698039340

Di balik senyum ini ada pelukan emosional yang berujung mewek.

And here I am, on a Monday afternoon in my apartment in Durham, North Carolina. Lagi fall break, alias libur musim gugur (iya di sini entah kenapa tiap musim dikasih libur). Udah sekitar 2 bulan gue merantau di sini, thousands of miles away from home, my family, my boyfriend, and my friends: all things that are familiar and comfortable.
Sekarang gue lagi menempuh pendidikan S2 di Duke University
So far bagaimana kehidupan merantau ini yang gue rasakan? Well here are some points:
  • Homesick itu ada. And it was brutal for me. And it still occurs occasionally. Kangen rumah, kangen keluarga, kangen pacar. Kangen kebersamaan. Being a stranger in a foreign country and in a small town where nobody knows you can be pretty lonely! Dan homesicknya bukan sekedar galau yang kulit-kulitnya doang. Ini homesick beneran yang bikin sedih sendiri, nangis. Pernah gue tahan-tahan, akhirnya pas hari Minggu gue di gereja, tau-tau keluar aja gitu air mata wkwkwk. Gak nyangka sih bakal segitunya, sungguh deh. Selain kangen orang-orang kesayangan, gue juga kangen kehidupan Jakarta yang nyaman dan serba gampang. Mau kemana-mana Go-Jek, ada Mbak di rumah yang sigap membantu, kemana-mana bisa dianter jemput supir, di mobil tinggal tidur dan bangun-bangun udah sampe. Yes, go judge me as a typical manja Jakarta kid. I came upon the realization of how easy and comfortable life is back home.
  • Tinggal sendiri (well technically, I live with a roommate, but you get my point. Roommate gue orang Amerika dan classmate gue di program gue) enak banget in terms of freedom. Sorry Mama Papa, this girl desperately needs and wants to be an adult on her own, and not confined in her parent’s house. Gue bisa bebas bangun jam berapa, mandi kapan, makan kapan, pulang jam berapa, mau itu jam 3 sore atau jam 3 pagi. Gue sudah lama mengeluhkan budaya kita yang gak gitu mendukung moving out of your parent’s home di saat lo hidup mandiri, di mana hal itu terjadi karena lo memang bekerja di luar kota atau ya menikah. Dan di Indonesia, entah kenapa hidup bebas itu punya konotasi negatif seakan-akan hidup lo gak terkontrol dan sesuka-suka lo.Bahkan sekarang gue merasa hidup gue lebih teratur. Gue lebih disiplin, bangun, beres-beres, harus bisa memanage waktu untuk gereja, akademik, kehidupan sosial, tanpa harus kucing-kucingan sama bonyok kalo gue pulang malem atau pulang pagi, karena here, I live my life on my own terms, and how I want it. Which, I LOVE. And it’s worth the tradeoff of not having a maid and a driver at my disposal.
  • Graduate school is busy. Sooo busy. Gue ada 2 mata kuliah yang kuantitatif, Energy Modeling dan Data Analysis (which is basically Statistik) and it involves a fair amount of coding, satu di software R satu cuma di VBA di Excel. Tapi sebagai newbie, it took a while for me to adjust. Plus, workload pelajarannya cukup berat. Setiap minggu 2 mata kuliah itu ada tugas, dan dikasih waktu seminggu. Jadi di deadline tugas itu disubmit, di hari yang sama udah ada tugas buat minggu depan. Seru! Lelah tapi seru. Sebelum fall break ini, selama 3 minggu gue tidur 4-6 jam sehari. Di kampus sampe larut malam, jam 1, atau jam 2 pagi untuk ngerjain tugas. Belajar. Kenapa gak di rumah? Gue punya study group dan so far itu terbukti efektif buat saling diskusi dan membantu.
8689389300611 (1)

Tempat favorit di kampus untuk produktif: Bryan Center. Tiap bangku pewe banget dan ada colokan yang built in.

  • Gue bersyukur di program, bahkan di department gue, tidak ada orang Indonesia selain gue. Jadi gak ada cerita, gue bergaul dan belajar cuma sama orang Indonesia, karena ya gimana gue satu-satunya orang Indonesia. Temen main gue dari berbagai negara, usia, status (ada yang masih single, in a committed relationship, ada yang anaknya udah 2), dan background.
  • My adulting skills are challenged. Harus memanage waktu biar sempet ngerjain pekerjaan rumah kayak beberes, nyuci, grocery shopping, masak.
  • Work hard play hard balance is NECESSARY to stay sane. Gue play hard dengan ikut kelas salsa dan ikutan event-event di kampus dan sekitarnya. Di sini, Facebook Events itu berguna banget buat tau lagi ada apa yang happening. Entah itu konser, pameran, dance party, kuliah tamu, stand up comedy, apa pun!! There’s something for everyone!
  • Hubungan dosen-mahasiswa beda banget di sini. Jauh lebih terbuka. Manggil aja, manggil nama ye kan. Terus kita nanya hal se-remeh temeh apapun gak segan. Udah gitu accomodating banget, kalo ada deadline yang dirasa berat (waktu itu di hari yang sama dengan UTS mata kuliah lain), eh diundur.
  • Being bilingual is harder than it seems. When you think in Indonesian and English but have to say it in English, no you can’t really pull off that South Jakarta campur-campur language.
  • Long distance relationship takes work. Yes, things that didn’t take much effort before, sekarang butuh effort. (We both knew this very well but yeah it hits you that the struggle is real). Hal sesimpel telfonan, harus dijadwal (gue bikin di Google Calendar dan selalu invite email doi kalau mau Skype). Yah gimana nggak, perbedaan waktu aja 12 jam. Pas gue mau tidur, dia lagi siap-siap mau kerja/beraktivitas. It’s a test of your relationship, honestly.
8689694786258 (1)

Salah satu kencan terakhir sama pacar beberapa hari menjelang berangkat.

  • For the first time ever, I actually really really like what I’m learning and I’m driven to be good at it. Wait no, great at it. Tidak untuk sekedar nilai bagus but for mastery because I know once I graduate I’m gonna use all (well not all maybe haha) of this in my professional life. Sungguh untuk ini gue merasakan manfaat kerja dulu sebelom S2 karena gue perhatikan untuk anak-anak fresh grad yang langsung S2, kebanyakan masih belum terarah dan fokus (tapi di sisi lain, ya S2 itu kesempatan untuk explore interests juga sih….)
  • Buat gue yang terbiasa tinggal di Jakarta dan sekarang tinggal di kota kecil, ya berasa perbedaannya. Udah jarang ke mall karena mallnya jauh (1 jam kalo naik bus, kalo naik Uber 15 dolar sekali jalan). Gue belom ke bioskop juga so far. Dan di sini gak ada metro jadi pilihannya naik bus yang adanya 20 menit sekali atau ya nguber. Car culturenya kentel banget, dan sulit buat gue yang gak bisa nyetir dan gak berniat beli mobil di sini. Di lain sisi, enak banget gue ke kampus jalan kaki.
  • Gue jadi semakin sering masak. And I think my cooking skills went up another level. Yha merantau memang memaksa lo untuk masak. Gue sampe ikut kursus bakso online yang hits itu, Dapur Umma dan (menurut gue dan temen-temen yang ikut menikmati bakso buatan gue) cukup berhasil. Mayan ya, lulus-lulus bisa nambah credentials sebagai wifey material ūüėČ
So I guess that’s about it for the first 2 months. Gak berasa banget, gue udah setengah jalan di semester ini. Sering kali ketika gue memandang indahnya Duke Chapel atau lagi melamun, suka terpikir, “Gila mimpi apa sih gue bisa sampai di sini.” It is truly an amazing (and not easy) opportunity. Gak jarang juga loh gue terpikir, “Mikir apa sih gue ninggalin hidup di Jakarta, jauh dari orang-orang kesayangan buat hidup susah payah di sini.” Di situ pentingnya mengingat kembali purpose dan end goal yang mau dicapai. Pas lagi orientasi mahasiswa internasional, dibilangin begitu juga. Start with the end. How do you want to see yourself 2 years from now when you graduate?? This is applicable to many things in life not just graduating. This is the growth I desperately needed and the push out of my comfort zone that I craved. And I am taking it day by day, incrementally. Seperti kata Yo-Yo Ma, salah satu musisi favorit gue sejak gue masih piyik di rekaman NPR Tiny Desk Concert-nya (yang bagus bangettt and I have been playing it on repeat),

‚ÄúAll of you do homework, have done homework, some days it‚Äôs easier than others. It‚Äôs actually not painful to learn something, if you do it incrementally.‚ÄĚ

Yang intinya adalah: belajar sesuatu, dikit-dikit, gak seberat itu kok.

Turun 15 Kg dengan Diet Keto ( Low Carb High Fat )

Most of my life, I have always been the fat girl. The overweight girl with a chubby face. I was not quite happy with it, especially when it came to shopping and trying on clothes, but I couldn’t seem to control my love for food either.

Until in August 2017, I had enough. Why?  Tahun 2017 adalah tahun fase tergendut gue seumur hidup. Untuk pertama kalinya berat gue mencapai kepala 8, padahal gue gak tinggi-tinggi amat (162 cm). Jadinya keliatan bunder aja gitu.

January 2017 ketika fase tergendut dalam hidup (di sini gue sekitar 83 kilo)  vs December 2017 (di sini gue 68 kilo)

Start with why?

Why I started the diet. I didn’t want to waste my youth and years of prime metabolism, being fat. Selain itu biar bagus kalau pake kebaya (kebaya itu, flaunting curves banget gak sih?) dan bisa balik pakai dress lucu-lucu lagi. Udah gitu gue lelah disapa ‘Ibu’ (iya gue tau ini vain dan aneh, but whatever) mungkin karena badan gue gendut jadi kayak mamak-mamak udah beranak. Pada tahun 2017, berat badan gue sempat mencapai sekitar 83 kg pas awal tahun. Tapi karena gue selama 3 minggu hilang selera makan (literally, gak tau kenapa), berat gue turun jadi 80 kg, terus kira-kira bertahan di angka itu sampai bulan Agustus.

IPA Convex di JCC, Mei 2017 sebelum gue mulai diet keto

Terus kenapa pilih diet keto? Gue berhasil diyakinkan oleh kolega di kantor, ¬†ada 3 orang yang berhasil menurunkan berat badan dengan diet keto dan deltanya rata-rata dua digit. Gue inget banget waktu itu lagi di IPA Convex di JCC, dan kebetulan yang jaga stand ESDM itu dua kolega kantor yang udah lama gue gak lihat dan gue pangling karena mereka tampak sangat sangat kurusan. Usut punya usut, mereka diet keto, something I have never heard of before. Setelah diberi intro menggiurkan, “Enak loh, Monik, makannya padang, santan, lemak-lemak gitu.”¬†gue langsung buat mental note untuk research. Note that, IPA Convex itu di bulan Mei dan gue baru bener-bener mulai itu akhir Agustus setelah maju mundur antara yakin dan gak yakin. Karena saat itu, secara intuitif reaksi gue, “Hah? Makan lemak bisa kurus? Gimana caranya?” Tapi setelah melihat mereka dan banyak contoh lain yang berhasil, gue memantapkan diri untuk coba.

Setelah why, how?

Gimana sih diet keto? Banyak banget yang tanya, harus makan apa, meal plan gimana, katering apa gimana.

Baca. Cari informasi. Buka google, atau mesin pencari kesayangan Anda, ketik: diet keto. Jangan cuma baca satu sumber, baca beberapa, bandingkan, cari benang merahnya. Catat apa yang penting, perhatikan apa yang kira-kira sulit kamu terapkan. Kalau gak yakin ke dokter.¬†Gue sih……….gak ke dokter ya. Dengan catatan, I promised myself, that I will pay close attention to my body and listen to my body. Gak ngoyo, gak maksa kalau kira-kira ada red flag. Gue sendiri belum pernah sakit yang serius, belum pernah dirawat di rumah sakit, jadi gue pede aja mulai tanpa pengawasan dokter. Toh gue juga gak akan menggunakan obat-obatan pelangsing apapun (itu big no no bagi gue, I promised myself not to be THAT desparate).

April 2017 vs November 2017

Setelah research, akhirnya gue beli bahan yang menurut gue, gue akan sangat perlu: virgin coconut oil. Kenapa beli ini? Jadi, setelah ngobrol dengan teman kantor yang berhasil diet ketonya, gue membuka website ketofastosis.com dan di situ salah satu bahan wajib untuk diet keto adalah VCO. VCO memang secara umum, tanpa harus diet keto, memang sehat dan dianjurkan jadi menurut gue gak ada salahnya dicoba. Tapi, untuk imunator honey, gue gak beli karena 1) I wasn’t convinced about it, dan di website keto internasional yang gue baca gue tidak menemukan tentang madu ini; 2) Kata temen kantor gue, itu gak wajib kalau lo gak pernah sakit serius (temen kantor gue ada yang KF dan ada yang ketogenic so it was a good blend of input).

Pokoknya waktu itu patokan gue mulai diet keto adalah setelah gue punya VCO. Gue beli di Instagram (maaf nih, anaknya Instagram banget kalau cari-cari barang), dari Konut. Pilih Konut bukan karena rekomendasi atau baca review, itu juga hasil search #jualvco terus postingan si Konutlah yang muncul di atas-atas. Gue buka profilenya, and I thought, well this looks pretty legit. Terus gue pesen, dan setelah kiriman sampai besokannya gue mulai.

Transisi: the Keto Flu

Dari hasil baca-baca gue udah tau dan well informed kalau pas mulai bakal ada yang namanya Keto Flu. Lemes, pusing, lemot, mager, ya kayak orang flu gitu. Mine lasted for about 5 days. Untungnya, di kantor kerjaan lagi gak berat jadi gak berpengaruh buruk sama performa gue. Laper-laper gak kayak orang baru mulai diet biasanya? Nope. Karena gue udah mengantisipasi dengan VCO (yang sebenernya gak enak banget bau dan rasanya bikin eneg karena kelapa banget dan teksturnya slimy, ya namanya juga minyak, makanya gue selalu sedia air hangat buat cepet-cepet gue teguk abis menenggak VCO). Be not afraid, keto flu ini sementara, dan setelah 5 hari itu gue berasa biasa aja. Gak ada craving. No sugar no cry, no nasi no cry (padahal gue punya sweet tooth yang cukup parah).

Terus makan apa?

Makannya apa? Gue gak akan menjelaskan nuts and bolts diet keto di sini, karena sudah banyak sumber yang komprehensif yang bisa lo baca. Intinya diet keto itu low carb high fat. Bukan no carbs high fat ya. Low bukan berarti tidak ada sama sekali. At least, itu yang gue jalani. Intinya, tubuh kita akan memasuki ketosis, dimana lemak menjadi sumber tenaga yang dibakar, bukan glukosa, ketika level glukosa (yang bersumber dari karbohidrat) sangat rendah. Jadi ketika kadar karbohidrat yang kita makan itu rendah, tubuh kita bakal masuk ketosis. Buat masuk ketosis itu gak serta merta, misalnya lo pagi gak makan karbohidrat terus lo udah ketosis. Oh no no no, tidak semudah itu. Perlu transisi dan konsistensi. Maka dari itu, kita harus cermat sama porsi macros: lemak 75%, protein 20%, dan karbohidrat 5%. Kalau protein yang dimakan kebanyakan, malah akan backfire dan tubuh keluar dari fase ketosis.

Jadi apa yang gak dimakan? Nasi, kentang, roti, apapun berbasis tepung dan pati (starch) seperti kentang, buah-buahan manis pun tidak, gula, kecap, tahu, tempe, kue, cake, ice cream, wortel, jagung. I limited my carb intake to 20 grams. Gue tetap makan sayur, contrary to what some websites tell you (ada kan aliran keto yang against sayur tapi memang untuk sementara sih), tapi sayur yang gue makan pun yang low carb dan hijau-hijau seperti pakchoy, bayam, romaine, dan brokoli.

Untuk sumber lemak, gue dapet lemak dari minyak kelapa, VCO, butter, bacon, telur, daging, keju, alpukat, dan santan. Gue gak ikut katering karena mahal plus menurut gue, diet ini gak se-demanding itu sampe harus ikut katering. Asal kita niat mau nyiapin makanan sendiri dari rumah atau tau pilih makan apa kalau lagi makan di luar, diet ini sangat doable tanpa berlangganan katering. But if you have the resources and willingness to go on a catering plan, well go for it sih.

Terus gimana kalau makan di luar?

Kalau makanan Indonesia/Asia, pilih aja lauk yang gak digoreng tepung, gak pakai kecap/gula/gula merah. Misalnya, ayam goreng, bebek goreng, telur ceplok, tongseng tanpa kecap, soto betawi (bukan yang pakai susu), sop buntut, sop iga. Gue sih gak suka jeroan/tetelan/otak/kikil/daging yang aneh-aneh gitu, tapi ada yang memilih makanan tipe itu sebagai sumber lemak. Kalau makan di restoran bertema Western, bisa pilih steak (tapi jangan dikasih saos barbecue/saos tomat), burger tanpa roti (kalau di Carl’s Jr bisa versi low carb, rotinya diganti daon selada, kalau di Burger King bisa tanpa roti, nanti burgernya dimasukin ke kotak kertas dan jadinya keliatan dikit banget haha), salad tanpa crouton (hati-hati dengan dressingnya, kalau minyak/keju-kejuan sih gapapa). Atau kalau mentok gak bisa makan apa-apa, ya gue sih minum teh tanpa gula atau jus alpukat murni (tanpa gula, tanpa susu). The thing about makan di luar ketika lo udah memilih lifestyle keto adalah: pengeluaran bertambah mahal. Lah kan gak makan nasi? Yup justru karena itu. Kadang kalau gue lagi laper, kalau lagi makan di luar gak cukup pesan 1 menu. Jadinya malah pesan 2 porsi atau 2 menu beda, atau 1 menu main course sama 1 appetizer dan itu buat gue sendiri! Another thing about eating out is: watch out for hidden carbs, karbohidrat yang tersembunyi entah di bumbu jadi atau saos-saosan.

pilihan makanan di luar

Biar mudah ini gue buat list pilihan gue kalau makan di luar:

  • Burger King: burger tanpa roti
  • Carl’s Jr: burger tanpa roti (versi low carb, roti diganti selada)
  • People’s Cafe: tongseng (minta gak pake kecap, gak pake gula). Kalau laper, tambah pesen telor ceplok aja.
  • Sushi Tei: sashimi, salmon salad
  • Restoran ramen: ramen gak pake mi, menu daging yang tanpa tepung/bumbu manis
  • Rumah makan Padang: apapun yang bersantan, goreng tanpa tepung. Hati-hati dengan telor dadar, karena infonya itu digoreng pake tepung.
  • Shaburi: shabu-shabu tapi daging sama sayur aja ya
  • Solaria: capcay kuah tanpa nasi (wortel sama baksonya gak gue makan)
  • Starbucks: americano dingin/cold brew tanpa gula, tambah shot liquid whipping cream, 2 saset equal (kalau mau ngirit, beli liquid whipping cream aja di Supermarket, gue biasanya beli merek Greenfield’s dan bawa sendiri taro di tumbler karena kalau di Starbucks itu termasuk additional topping yang dikenakan charge 10 ribu per shot)
  • Steak: steak yang banyak lemaknya, hati-hati pilih saosnya ya jangan yang manis
  • Warteg prasmanan: lauk-lauk santan/goreng, sayur bening, telor
  • Wing Stop: wings original (gak digoreng pake tepung)

makanan keto friendly

Selain pilihan resto, karena pasar orang-orang keto semakin berkembang, supply pun menjawab demand: katering keto-friendly! Berbekal searching di Instagram, gue udah nyoba 3 supplier makanan keto. Kalo lo gak mau commit dengan katering mingguan, kayak gue, bisa beli ketengan aja. Kalau gue lagi di kantor, mager masak dan laper, gue biasanya pesen ke:

  • Ketofy Cafe: ada ragam pilihan makanan buat lunch (Ketomaksi) kisaran harganya 30-40 ribu dan cukup ngenyangin. Kalau lagi pengen manis, dia jugak ada pilihan dessert kayak martabak, vanilla cake, chocolate cake. Gue suka martabak mininya dan vanilla cakenya.
  • 626 by Polim: ini variasi makanannya juga banyak, tapi tergolong cukup pricey. Gue baru pernah nyoba nasi gorengnya (bukan dari nasi tentunya, tapi dari konnyaku yang dicacah jadi bentuk nasi) yang rasanya beneran kayak nasi goreng abang-abang. Buat dessert gue udah nyoba marble cakenya. Like I said, makanan dari restoran ini enak, asli enak tapi pricey. Nasi goreng itu 50 ribuan, marble cake satu slice kecil 40 ribu. Belom sama ongkir yang bisa sampai 20 ribuan.
  • Roti cimot: kalo lagi kangen roti coklat ala bakery, atau pengen snack buat nemenin minum bulletproof coffee, gue pesen roti cimot. Sekali pesen dapet 8 roti kecil-kecil (jangan bayangin kayak roti coklat Holland Bakery yang gede ya), jadi bisa buat snack gue di kantor. Kalau ini harganya 100 ribu buat 8 roti (gue suka beli 4 isi keju, 4 isi coklat).
  • Komachimu: gue pesen salad minta extra sunny side egg. Ini cukup terjangkau, salad dengan porsi yang mengenyangkan plus telor itu 40 ribu.

makanan keto yang gue pesan antar

Kalau masak sendiri gimana?

Nah kalau lo mau ngirit, ya jelas masak sendiri. Gue beli bahan-bahan keto friendly kayak mi shirataki, tepung almond, tepung kelapa, garam himalaya, sama blueberry kering di Tokopedia, di tokonya Tunas Keto. Layanannya cepet banget, dan harga lumayan okelah. Andalan gue kalau buat masak itu kalau gak scrambled eggs dengan bacon, mi shirataki, atau keto microwave bread. Bisa dibilang, diet keto itu memaksa gue untuk rajin masak lagi dan malah jadi semangat bereksprerimen bikin makanan yang gue lagi pengen menjadi keto friendly. Bahan-bahan keto itu memang cukup pricey makanya gak heran, setelah menghitung-hitung pengeluaran pesan makanan keto dari Instagram kok ya mahal juga. Jadilah, gue masak-masak buat bekal makan siang ke kantor. Kalau pengen caffeine fix tanpa harus ke Starbucks, lo bisa buat sendiri kopi bulletproof coffee. Gue pake kopi Nescafe classic pake sweetener (Stevia/Diabetasol), liquid whipping cream (ini bukan whipped cream manis yang di cake ya)  atau butter 1 bungkus kecil. Ada yang suka pake VCO, tapi setelah gue coba gak banget rasanya.  Ini foto beberapa home cooked meals yang keto friendly.

keto cooking experiment: diet keto itu bikin gue rajin masak lagi

Olahraganya gimana?

September 2017 vs December 2017 di Celebrity Fitness

Sebelum gue diet keto, gue memang sudah hobi fitness, meski memang jarang karena 1) sibuk; 2) mager. Hobi fitness gue itu sejak gue kuliah pas lagi libur dari tingkat 2 naik ke tingkat 3. Ada ceritanya sih kenapa gue mendadak jadi hobi fitness, karena kala itu gue kecewa karena tidak lolos ke summer program salah satu perusahaan oil and gas service yang prestigious. Balas dendam gue adalah, pas libur yang saat itu di bayangan gue, gue bakal kerja di oil field, gue harus kurusan by the time masuk kuliah lagi. Saat itu gue daftar di gym di Bintaro (waktu itu Celebrity Fitness yang di Lotte belum buka) dan gue daftar jasa personal trainer. Lumayan saat itu gue turun 6 kilo dalam 2 bulan dan karena dibantu Mas PT, gue jadi dapetlah ritme ngegym. Udah ngerti cara pake alat dan tekniknya. Sekalipun lupa-lupa dikit bertahun-tahun kemudian, buka Pinterest/Youtube udah langsung inget lagi (gak nol-nol amat gitu).

pas lagi di Mexico Juni 2017 vs pas lagi di Bandung bulan November 2017

Anyway, fast forward to Monik versi udah kerja dan malah jadi gendutan karena makan enak melulu pas acara kantor atau dinas. Nah kalau diet keto itu memang masih kuat untuk olahraga? Yap, masih banget. Gue fitness minimal 2x seminggu, pas pulang kerja dan weekend. Fitnessnya ngapain? Awal-awal, gue cardio oriented banget. Tapi setelah kira-kira 3 bulan berjalan, gue baru paham kalau weight traininglah yang mempercepat fat loss, jadi barulah gue memantapkan rutin weight training gue dengan menjadwalkan, training untuk CST (chest, shoulders, triceps), BB (biceps, back), sama the mighty leg day. Sekarang sih gue udah gak pakai personal trainer karena my budget says no to it (haha). Tapi jangan sedih, di Pinterest itu banyak guide yang sangat membantu. Jadi gue udah punya satu folder di Pinterest untuk gue ngegym jadi sebelum dan sambil gym gue buka itu aja, sebagai cheat sheet gue.

Kalau untuk olahraga, menurut gue, supaya sustainable dan gak sesaat, find an exercise you like doing. Yang bikin lo semangat dan happy. Bagi gue, nge-gym bukan sekedar mencari keringat, tapi kadang itu sesi me time dimana pikiran gue bebas wandering pas gue lagi cardio. It’s a thing I do to clear my head.¬†Plus, kalau gue dapet playlist yang asoy banget. Jadi misalnya, abis lunch di kantor, gue udah muter playlist itu buat membangun mood dan semangat buat olahraga. ¬†Apalagi kalo abis nge-gym sauna. Beuuuh kalau lagi penat sama kemacetan, pikiran udah melayang ke gym. Ada yang suka lari, sepedahan, yoga, pilates, zumba, aerobik, you name it. Do what works for you.

What are the downsides?

I can’t deny that this diet does have downsides. Pertama rambut gue jadi rontok. Hal ini gue atasi dengan minum suplemen untuk rambut, minum kolagen, makan sayuran hijau, setiap malam pakai minyak Parachute di rambut, dan memerhatikan asupan gizi gue sehari-hari. Kedua, kangen banget makan buah! Buah naga, rambutan, pisang barangan, delima, jeruk, orange juice, jambu. Buah itu light dan segar, dan itu makanan yang paling gue rindukan selama menjalani lifestyle keto. Ketiga, udah gue sebutin di atas, pengeluaran bertambah. Bahan makanannya cukup mahal, kalau makan di luar pun kadang mesen lauk 1 buat diri sendiri gak cukup mengenyangkan.

What are the upsides?

The sense of accomplishment of losing weight is such a motivation boost. Plus, the compliments aren’t so bad either ūüėȬ†Aside to the weight loss benefits, diet ini cukup versatile. Artinya, gak susah buat diterapkan. Gue merasa lebih bertenaga, gak ngantuk-ngantuk lagi abis makan. Konsentrasi membaik. Berat badan stabil. Bloating hilang. Badan lebih segar. Sugar craving hilang!

Berapa lama berat badannya turun?

Kira-kira 2 bulan pertama berat gue turun 10 kilo. Terus 3 minggu selanjutnya turun lagi 2 kilo. Karena setelah itu gue suka cheating pada saat weekend plus saat itu gue lagi keluar negeri dan gak keto, berat gue plateau alias stagnan aja gitu. Gak naik gak turun. Abis itu gue lanjut keto lagi sampai seminggu sebelum Natal.  During the holiday season, pas lagi pekan Natalan gue gak keto karena, well hello, Christmas comes once a year and my house was full of goodies. Begitu malam tahun baru, gue keto lagi dan berat gue turun lagi 3 kilo setelah 2 minggu pertama bulan 2018 back to keto. Jadi secara akumulasi, gue turun 15 kilo, kalau gak menghitung masa cheat, itu kurang lebih 3,5 bulan.

January 2017 (83 kg) vs January 2018 (65 kg)

Terus bakal selamanya begini?

Untuk ini gue masih bereksperimen, jujur aja. Gue masih mempelajari efeknya dan lagi bereksperimen pola yang pas buat gue. Setelah ini, fitness goal gue adalah supaya bentuk badan gue lebih bagus, jadi akan fokus ke fat loss, weight training, supaya badan kencang dan toned. Banyak yang bilang, badan gue udah bagus segini, gak perlu kekurusan. Memang, yang gue kejar bukan kurus tapi sexy ūüėČ Setiap orang punya standar dan goal masing-masing ya, tapi di atas semua itu yang penting kan sehat. Gue lagi menimang untuk shifting ke low carb high protein, tapi masih perlu research lagi. I simply listen to my body and I do what works for me. Keto works for me, tidak menyiksa, I can still enjoy food and enjoy life overall. It’s not a dreadful process, makanya jadinya lebih mudah untuk dipertahankan dengan konsisten.

Menjawab Pertanyaan tentang Menjadi PNS

Beberapa hari terakhir, Whatsapp group gue penuh dengan berita, link, dan bahkan file PDF tentang penerimaan CPNS tahun 2017 di berbagai instansi.

Yes you read that correctly, and no it ain’t no hoax. We’re hiring, people!

Nah, berhubung gue PNS dan menjadi PNS itu adalah the road less traveled apalagi buat anak ITB (bisa dilihat di hasil tracer study alumni ITB kalau karir di sektor publik itu cukup minoritas dibandingkan sektor lainnya), gue banyak banget ditanya orang-orang tentang:

Kakak masuk PNS lewat jalur apa?
Tesnya langsung abis lulus atau gimana?
Kenapa mau jadi PNS?
Suka duka jadi PNS gimana Kak?
Gimana sih rasanya jadi PNS? Uneg-unegnya gimana?
Penghasilannya gimana? Katanya gajinya 18 juta? Ada bonus sama THR gak?
Career path dan development gimana?

Dan akhirnya, ah sudahlah gue tulis aja di blog. Sharing is caring, ya kan?

So, to give you some context, gue sekarang PNS di salah satu kementerian teknis di pusat, yakni Kementerian ESDM.

seragam ESDM: pas gue masuk di ESDM belum ada seragam, tapi kira-kira setahun kemudian, di bawah pimpinan Pak Sudirman Said, ada aturan pake seragam putih krem tiap Senin & Kamis (iye udah kayak puasa)

Gue ikut tes CPNS 2013 (kalau mau baca pengalaman gue tes CPNS bisa klik di sini), dan masuk bulan April 2014. Gue belum pernah kerja di swasta sebelumnya. Masuk ITB bulan Agustus 2009, lulus Juli 2013, proyekan di kampus sambil persiapan TOEFL/GRE (saat itu gue masih galau masa depan ditambah lagi gue belum pengen balik ke Jakarta, alias belom siap move on dari Bandung, jadi selain job seeking gue juga persiapan S2 di Bandung) & tes kerja (selain CPNS di saat yang sama gue tes di beberapa perusahaan swasta, dan akhirnya ketika gue lulus CPNS, yang lain gue drop.)

The big old why

If I had a dollar for every time someone asks me “Kenapa mau jadi PNS?” I bet I could at least buy a pair of Valentino shoes by now. Bahkan belum lama ini, Pak Archandra Tahar alias Pak Wakil Menteri, mengumpulkan pegawai-pegawai unit gue yang termasuk angkatan baru, dan gue kedapetan yang pertama ditanya pertanyaan ini dan gue (bodohnya) ngeblank gitu selama beberapa detik. I ended up answering, “Ceritanya panjang Pak.” (meh lame banget gak sih jawaban gue wkwk).

Soal pertanyaan keramat, the big old¬†why,¬†is something you should ponder on before going through the hassle of applying. ¬†Alasan klasik sih karena dorongan orang tua, mertua, pasangan. Atau bisa juga karena ‘aman’ kan katanya PNS gak bisa dipecat. Atau ya pengen work life balance. Kerjaannya lebih santai karena gak dikejar-kejar target. Atau punya lifelong dream jadi PNS. Lebih gampang kalau mau lanjut sekolah. Dari sekian banyak alasan, the most important reason is yours. Nah kalo gue apa? Well my motivation to choose this path is a cocktail of many reasons antara lain:

  • Potensi
    Potensi yang gue miliki: background pendidikan teknis (jurusan gue teknik kimia dan kebutuhan sarjana TK di ESDM lumayan tinggi) dan minat pada policy making. Pas tingkat akhir kuliah gue masuk unit kegiatan Model United Nations dan di situ minat gue tumbuh. Gue suka dengan interdisciplinary nature dari kegiatan itu. Ikut MUN itu membutuhkan kemampuan problem solving, negosiasi, public speaking, kemampuan membaca kepentingan pihak lain, dan bisa analisis masalah dari berbagai aspek itu. Bagi gue, itu lebih menarik daripada merancang boiler atau kerja di pabrik. Setelah gue sandingkan, MUN itu mirip dengan policy making, jadi gue rasa posisi yang gue pilih di ESDM adalah titik temu dengan minat gue.
  • Kontribusi¬†
    Gue pengen berkontribusi, gimana caranya potensi yang gue miliki bisa bermanfaat bagi orang banyak, gak sekedar untuk membuat rekening segelintir orang gendut (wkwk naon banget ya pandangan gue waktu itu). I want to make a difference. Gue selalu inget lagu John Mayer – Waiting on the World to Change. Di lagu itu ada lirik yang menurut gue bagus banget: ‘It’s hard to beat the system when we’re standing at a distance.‘ Ya motivasi gue gak semuluk ‘beat the system’ tapi dari lirik itu at least bisa kasih gambaran kalau lo mau membuat impact, meski tidak sebesar beat the system, bakal sulit kalau lo berdiri dari jauh.
  • Dukungan
    My mother seemed happy with me choosing that job. Long story short, gue pas kuliah pengen banget jadi field engineer di salah satu oil and gas service company ternama, tapi nyokap gue gak bolehin sampe-sampe doi mendoakan supaya tes gue gagal. AND I FAILED. MISERABLY. (berat badan gue sampe turun 7 kilo setelahnya karena down hahaha)
    Jadi, ketika gue melihat doi excited karena gue ikut CPNS, gue semakin yakin kalau pilihan gue gak salah. Entah kenapa apa yang dibilang nyokap itu ujung-ujungnya selalu bener sesuai firasat doi, jadi itu gue anggap sebagai pertanda.

Jadi setelah identifikasi poin-poin di atas, akhirnya pilihan gue mengerucut menjadi jalur PNS di ESDM, karena ya pilihan itu adalah irisan dari poin-poin yang gue sebut di atas. The job, at least at that time, seemed to be a good fit with: what I like, what (I think) I’m good at, and what I want to achieve in the long run. Setelah kontemplasi matang-matang, gue bisa mantap melangkahkan kaki lewat jalur yang gue pilih.

The real deal inside

Gimana rasanya jadi PNS? Overall, gue sih happy-happy aja. Kadang stres. Kadang bosen. Ya layaknya semua pekerjaan ada asiknya, ada gak asiknya. Sebagai anak generasi Y yang masuk ke lingkungan birokrasi yang masih kental dengan adat ketimuran, bekerja jadi PNS ini cukup menantang, apalagi kalau dibandingkan dengan teman-teman yang kerja di startup kekinian yang lingkungannya didominasi anak muda dan kantornya hits atau yang kerja di lapangan atau yang kerja di perusahaan multinasional. Well to summarize, here are some points from my own experience:

  • Ilmu teknis yang terpakai hanya sebagian kecil (well hello, ini kan regulator)
  • Kerjanya gak sesantai yang dibayangkan: lembur sampai malam (jam kerja kita: jam 8-16), weekend kerja tentu ada. Kadang santai bisa pulcep (pulang cepet) dan gue jam 6 sore udah cardio di gym. Kadang juga sampe jam 8 di kantor.
  • Sistem reward masih samar dan belum terukur jelas, sifatnya highly subjective tergantung pimpinan
  • Kerjanya mostly paperwork (apalagi untuk staf): buat surat, undangan rapat, undangan acara (no honey, there’s no secretary that will make that letter for you)
  • There’s plenty of room for improvement: banyak ruang untuk berkreasi. Anak muda pun bisa bersuara dan beropini tapi tentu dengan cara yang baik dan pada tempatnya.
  • Palu gada: apa lu mau gue ada. Jadi PNS harus siap mengerjakan apa saja. Mau IPK lo setinggi apa, CV lo secanggih apa, ya jangan tersinggung kalau disuruh ngerjain sesuatu yang menurut lo sepele. Untuk hal ini gue selalu berpegang pada kata-kata berikut: setialah dalam perkara kecil, maka perkara besar akan dipercayakan padamu.
  • Suasana kekeluargaan bikin terasa nyaman. Makan siang rame-rame, kalau ada film keluar (biasanya horor) nonton rame-rame. Bahkan di pekerjaan ini gue dapet geng yang asik banget sampe kita udah liburan bareng. Selain karena kebersamaan, suasana kekeluargaan juga kelihatan dari toleransi untuk mengurus keluarga di rumah juga oke banget (misalnya untuk mahmud, untuk pulang tenggo jam 4 karena harus mengurus anak itu oke-oke aja).
  • Pimpinan memikirkan kesejahteraan anak buah. Ini hal baru bagi gue karena waktu itu gue kira tugas bos itu getting things done dan me-manage anak buah. Ternyata pimpinan juga perhatian pada anak buahnya, which to me is very humanizing.
  • Banyak kesempatan networking karena kebetulan unit gue punya banyak stakeholder: kementerian lain, parlemen, perusahaan, akademisi, asosiasi, pemerintah daerah, pemerintah negara lain, organisasi global, media
  • Cara komunikasi formal: mesti terbiasa ngomong¬†Mohon izin.¬†It’s a plus point if you can speak Javanese. Berhubung gue orang Batak (meski gak ada logat Bataknya juga sih), ya gue merasa awkward sendiri kalau ngomong Nggih (kayak gak cocok aja di lidah gue) jadi gue tetap pake bahasa Indonesia weh. Tapi liat konteks, kalau lagi diskusi informal, pakai bahasa santai (tapi sopan) gak jadi masalah.
  • Gaya juga disesuaikan. Bagaimanapun sebagai PNS lo adalah pemerintah, which is a pretty serious deal. Mungkin kalau pakai jeans, sepatu Vans, rambut diombre warna pink (gue bahkan mengurungkan niat untuk meng-ombre rambut dan bikin tato karena takut gak appropriate), will stakeholders take you seriously?
  • Sekolah lagi. Banyak yang mau jadi PNS karena relatif lebih mudah untuk sekolah lagi. Kalau di ESDM, untuk sekolah lagi biasanya statusnya Tugas Belajar. Nah mungkin beda di swasta yang kalau mau sekolah lagi harus unpaid leave atau bahkan resign. Di ESDM kalau mau mengajukan tugas belajar, harus ikut proses assessment (psikotes, FGD, dan wawancara) sebelum muali mencari sekolah dan beasiswa. Salah satu perks yang worth noting tentang tugas belajar adalah: kita masih dapat gaji dan tunjangan (tapi kalau di luar negeri gajinya 50%). Untuk beasiswa, bisa dengan beasiswa ESDM, bisa juga beasiswa dari luar. Info terakhir yang gue terima belum lama ini, saat ini beasiswa dari kantor gue diutamakan buat yang di dalam negeri. Jadi untuk yang minat mendaftar sekolah di luar negeri harus putar otak dan cari alternatif lain.
  • It’s easy to fall in the trap of the comfort zone, which for some people is not a bad thing. Kalau buat gue, jujur gue takut sih masuk zona nyaman. There’s no growth in you comfort zone kan ya?
  • Traveling. Kalau ketemu senior kuliah atau teman main, gue sering diceng-cengin, Ih enak banget sih Monik, jalan-jalan terus, ke luar negeri terus. Gue senyumin aja. Ya gak bisa gue deny traveling itu ada asiknya, suasana kerja gak monoton, banyak hal baru yang dilihat dan dialami tapi di balik itu juga ada tradeoff yang gak gue tunjukkan di Instagram gue seperti work life balance yang sering jadi korban dan stres. Buat yang sering business trip pasti paham, jalan-jalan untuk kerja dan untuk liburan itu beda banget. Tapi ya gak bisa gue pungkiri kalau gue bersyukur bekerja sebagai PNS ini memungkinkan gue untuk menjangkau banyak tempat dan mendapatkan pengalaman dan pembelajaran yang berharga.

Vienna circa 2015. Perjalanan dinas luar negeri pertama gue, ditugaskan ikut bos-bos: Pak Dirjen, Pak Menteri, Pak Gubernur OPEC, Dirut & Komisaris Pertamina yang lagi rapat OPEC di Wina, Austria

The elephant in the room: money talk

Ketika berbicara tentang menjadi PNS, we can not deny the elephant in the room: money. Penghasilan PNS di tengah mahalnya hidup di Jakarta. Apa iya, cukup? Ini bener-bener Frequently Asked Question yang gue dapet. Wajar sih, kalau kerja di swasta aja, lo pasti nanya kan starting salary berapa? Memang sih, PNS itu abdi negara, but please, you have bills to pay and mouths to feed. Jadi di sini gue mau kasih gambaran tapi harus gue tegaskan kalau ini bisa bervariasi banget. Inget PNS itu range pekerjaannya luas: dari pegawai kecamatan di daerah, pengamat gunung api, dokter, auditor, sampe dosen (PTN sih ya) itu PNS. Jadi gak bisa dipukul rata. Gue hanya bisa berbicara berdasarkan pengalaman ya, jadi bisa aja di instansi lain beda.

Untuk gue yang single, tinggal di rumah orang tua, dan bahkan untuk transportasi bisa nebeng bokap (baik pergi ke kantor maupun pulang) so far sih cukup-cukup aja. Kalau kata nyokap ketika menampis asumsi Namboru gue kalo gaji gue gede, “Kalo si Monik, Eda. Gak besarnya gajinya. Tapi selama dia bisa beli makeup, bayar taxi, ya cukuplah itu.” (Oke itu sih over simplification ya haha). Lain halnya misalnya untuk temen dari daerah yang harus ngekos (apalagi kalo deket kantor, di area Kuningan kosan itu mahal loh) belum lagi kawan-kawan yang berkeluarga, ngontrak/cicil rumah, cicil mobil, dan sebagainya.

Let’s go straight to the point. Berapa sih THP gue? Untuk mematok di satu angka tertentu sulit ya karena ada komponen yang sifatnya gak tentu.

  • Gaji pokok: Rp 2,5 juta (kalau udah nikah/punya anak lebih gede tapi beda tipis)
  • Tunjangan kinerja¬†alias tukin (kalau tertib dan gak terlambat karena kalau terlambat dipotong): Rp 2,8 juta
  • Lain-lain misalnya: honor tim ¬†dan honor perjalanan dinas

Nah perlu dicatat, buat CPNS, besaran gaji pokok dan tunjangan kinerja yang diterima di tahun pertama itu 80% (dan selebihnya gak dikompensasi hehe) dan pas jaman gue sih, dirapel 3 bulan (so basically gue 3 bulan awal gak gajian, temen gue menyebutkannya mantab: makan tabungan).

Oke jadi di luar gaji pokok dan tukin ada komponen lain seperti honor tim dan honor perjalanan dinas. Tim ini sifatnya bervariasi antar instansi. Dari obrolan dengan kawan, ada kementerian yang udah gak terima uang tim tapi dikompensasi dengan tukinnya yang lebih besar.

Kalau soal perjalanan dinas (sering disebut SPPD atau SPJ), agak sulit untuk dipatok berapanya. Perjalanan dinas itu buat apa? Kalau mengacu bahasa hukum, untuk pembinaan dan pengawasan. Itu kan luas banget ya scopenya. Praktiknya perjalanan dinas itu bisa untuk kunjungan lapangan/site visit, peresmian, rapat, konsinyering (gue baru tau ada kata konsinyering setelah jadi PNS. Konsinyering itu ya kayak rapat gitulah), acara workshop/seminar di mana instansi lo diundang (biasanya sebagai narasumber, yang jadi narasumber sih pejabat/bos lo dan biasanya ngajak bawahannya untuk mendampingi), inspeksi teknis (kalau di ESDM ada jabatan inspektur yang tugasnya ke lapangan untuk inspeksi teknis dan peralatan), training/diklat, koordinasi dengan pemerintah daerah, monitoring, dan masih banyak lagi. Ya namanya juga pemerintah pusat apalagi kementerian teknis, yang membuat kebijakan dan keputusan yang impactnya ke banyak stakeholder, seperti pemerintah daerah, pelaku industri dan masih banyak lagi. Apalagi buat gue yang punya zero experience bekerja di industri migas, seringkali belum punya sense kalau di lapangan gimana. Kasarnya, ya kita kan taunya di atas kertas atau di dalam slide gimana. Apalagi kalau udah pejabat, yang harus ambil keputusan. Gimana lo bisa menata dan mengatur kalau gak dapet holistic understanding tentang industri yang lo atur? Jadi bisa dibilang kalau pembelajaran bermanfaat dan ide baru seringkali muncul dari perjalanan dinas.

Nah perjalanan dinas itu frekuensinya beda-beda dan itu tergantung pimpinan, kondisi anggaran, dan periodenya. Gak bisa dipungkiri, pimpinan pasti mengoptimalkan penugasan perjalanan dinas (tentu sesuai job desc juga sih, kalau penugasannya gak nyambung dengan job desc kan gak oke juga). Kondisi anggaran itu juga jadi salah satu penentu. Ada kalanya anggaran buat perjalanan dinas itu dibatasi karena diprioritaskan buat hal lain, misalnya pembangunan infrastruktur. Untuk periode, yang gue maksud adalah kapan karena memang ada bulan-bulan di mana perjalanan dinas itu terbatas. Kalau dari pengalaman sih biasanya awal tahun dan bulan Ramadhan.

Letak uncertainty lain adalah kapan cair (wkwk).  Kalau di unit gue, honor perjalanan dinas itu sifatnya nombok (gak dibayar di awal, thank God for credit cards dan koperasi kantor tempat booking tiket pesawat yang boleh bayar belakangan). Bisa sebulan baru cair. Bisa dua minggu. Bisa dua bulan. Lama di sini bukan karena dilama-lamain ya tapi karena emang proses pencairan itu gak mudah. Honor cair, jangan lupa kalau bentuknya cash. Makanya gue kalo jalan sama temen gue setelah ada SPJ cair (dan gak sempat setor tunai/ke bank) dan dia lihat gue bayar dari amplop, gue pasti diketawain. Bawa amplop kemana-mana gitu jadi ilusi tersendiri kalau punya banyak duit, itulah mengapa setelah jadi PNS gue jadi bersahabat dengan ATM setor tunai.

Soal dapetnya berapa dari SPPD, semuanya udah diatur secara legal dalam Peraturan Menteri Keuangan yang setiap tahun diupdate. Di situ secara rinci udah dijabarkan soal batas harga hotel (kategorisasinya per provinsi/negara dan besarannya tergantung jabatan), batas tiket pesawat, uang harian, dan lainnya. Misalnya tahun ini, untuk perjalanan dinas ke Bandung (berarti masuk provinsi Jawa Barat kan) uang hariannya sekitar Rp 400 ribu-an lah per harinya (belum termasuk uang transport).

Apa ada THR? Ada. THR PNS kan selalu diberitakan dalam media massa menjelang Lebaran. Apa ada bonus? Nope, gak ada.

Jadi kalau ditotal-total, range THP untuk staf macem gue (sarjana, single, golongan III-A) bisa 5 – 10 juta, again perlu diingat, itu tergantung frekuensi perjalanan dinas dan dengan asumsi honor-honor cairnya rutin per bulan. Bisa lebih kalau setiap minggu pergi dinas atau bahkan dapat penugasan dinas luar negeri. Melihat itu gak heran kan makanya gak sedikit PNS yang punya pekerjaan sampingan mulai dari jualan Tupperware, Oriflame, skin care, Herbalife, mukena, baju, katering makan siang, kue, jadi guru les privat. Selain jualan ada juga yang punya sampingan jadi instruktur fitness (ini beneran loh, temen gue, PNS juga, jadi instruktur Zumba di gym hits di Jakarta), atau jadi pengendara ojek online (ini serius, temen gue ada yang jadi driver Uber/Grab Bike), dan tukang cuci piring di restoran papan atas di Jakarta (kata temen gue gajinya hampir 4 kali lipat gaji pokok PNS). Gue sendiri sih belum punya sampingan, sempat terpikir untuk jadi guru privat English conversation atau TOEFL/IELTS tapi prioritas gue belum ke arah sana untuk saat ini. So the bottom line is: jangan jadi PNS kalau mau kaya, tajir melintir. Salah alamat, gan. Mending jadi selebgram aja yang terima job endorse.

(Kalau gue baca-baca ada wacana kalau THP PNS akan menjadi single salary, jadi gak terpisah-pisah seperti yang gue jelaskan di atas. Menurut gue itu sih bisa membantu banget ya apalagi buat kita kaum urban yang perlu cicil-mencicil. Kalau diperhatikan, THP PNS itu yah not bad lah, cukup kok, yang seringkali jadi isu adalah kepastiannya tiap bulan dapat berapa.)

The other elephant in the room: career path

Bagi sebagian orang, career path menjadi pertimbangan penting dalam memilih karir, gak melulu soal pendapatan. Gimana sih career path di PNS? Untuk naik jabatan masih like dislike? Tergantung performa atau loyalitas dan politik internal? Soal career path ini sering gue tanyakan ke senior dan pihak-pihak yang bersangkutan langsung menangani ini dan kelihatannya fixnya gimana masih dalam proses. Tapi yang jelas, yang udah existing saat ini adalah yang career path-nya relatif jelas itu jabatan fungsional tertentu seperti perencana dan inspektur. Yang udah jelas tingkatannya di mana untuk naik ke tingkat selanjutnya lo harus mengumpulkan angka kredit (kalau inspektur dari inspeksi ke lapangan, kalau perencana dari dokumen laporan misalnya). The thing is, gak semua orang menduduki jabatan fungsional tertentu. Kayak gue misalnya, gue jabatan fungsional umum. Jadi gue gak mengumpulkan angka kredit. Sebenarnya peluang untuk beralih ke jabatan fungsional tertentu itu ada dan dibuka terus setiap tahun. Tapi itu balik lagi ke pilihan masing-masing mau atau gak. Jadi buat gue yang gak kena sistem mengumpulkan angka kredit itu, the only way up the ladder is: selain naik golongan rutin (jadi setiap 4 tahun, PNS itu golongannya naik, jadi gue mulai karir gue di golongan III-A nanti naik golongan ke III-B)  adalah kalau masuk jabatan struktural/eselon alias jadi bos (wkwk). Perlu diingat kalau ini lingkungan birokrasi, jadi untuk naik ke jabatan struktural banyak tahapnya mulai dari pendaftaran, assessment, wawancara, dan ada semacam panel/rapat yang membahas dan menentukan kandidat mana yang akhirnya diberikan amanah jabatan. Udah gitu, lo bisa menjabat jabatan di bidang yang lo gak pernah sentuh sebelumnya. Well, sebenarnya gak hanya pejabat yang bisa dirotasi, staf pun juga bisa dirotasi. Jadi belum tentu unit yang sekarang sudah jadi comfort zone, baik dari orang-orangnya maupun pekerjaan, adalah sesuatu yang permanen. Harus siap buat belajar lagi dan membangun hubungan baik lagi. Adaptability & being a quick learner is very important.

Kalau pengembangan SDM gimana? Untuk case di ESDM, ada banyak akses ke program-program training baik domestik maupun internasional. Yang fully-funded di luar negeri juga ada rutin setiap tahun, sebagai salah satu bentuk kerjasama bilateral Indonesia dan negara lain. Pelatihan domestik lebih banyak lagi baik yang dari ESDM atau instansi lain. Berhubung untuk diklat gitu kan (selain yang gratisan dari pihak luar ya) gak gratis dan butuh anggaran, jadi perlu dicatat, ada/banyaknya program diklat yang bisa diikuti lagi-lagi balik ke prioritas anggaran alokasinya gimana dan itu ada di tangan pimpinan. Untuk pengembangan informal juga banyak ragamnya misalnya in house training dengan narasumber profesional atau organisasi internasional, atau morning class / sharing session dengan tokoh-tokoh energi.

Something worth noting: health care benefits

Kalau ngobrol-ngobrol sama teman kuliah soal kerjaan, gue suka iseng tanya benefit kesehatan yang mereka terima dari pekerjaan apa. Rata-rata, mereka dapat asuransi dari kantor dan itu bervariasi ada yang dapat kartu untuk berobat rawat jalan, ada yang sampe dapat asuransi kacamata setiap tahun, ada asuransi yang untuk melahirkan pun ditanggung, ada yang asuransinya bisa mencakup anak dan pasangan. ¬†Untuk PNS bagaimana? Ya, sampai saat ini health care benefit untuk PNS itu BPJS. Gue sendiri, thank God, belum pernah sakit sampai dirawat jadi gak bisa komentar soal layanan BPJS. Lagipula untuk menambah rasa aman, akhirnya gue beli asuransi kesehatan (yang murni dan gak sekalian investasi/Unit Link) dari provider asuransi. Kalau lihat sisi positifnya, ini jadi semangat untuk menjaga kesehatan.¬†Inget Mon, lo PNS, you can’t afford to be sick (wkwk). Jadi mungkin ini bisa jadi pertimbangan penting juga, terutama buat yang berkeluarga.

What’s next?

Apakah gue menyesal jadi PNS? Oh tidak. God put me here for a reason.¬†Sometimes I wonder, apa jadinya kalau dulu gue gak ambil ESDM ya. Entahlah. It is what it is, and I am grateful.¬†Setelah 3 tahun bekerja di kementerian, agenda gue berikutnya adalah menikah tapi gak tau dengan siapa dan kapan sekolah lagi tahun depan di Amerika Serikat. Setelah 3 tahun ini, salah satu tantangan besar adalah menjaga semangat. Keeping the flame alive. Gue harap dengan gue sekolah lagi bisa muncul ide-ide dan menambah kompetensi gue untuk berkontribusi di ESDM. Bisa bayangin gak sih kalau 20 tahun lagi instansi pemerintah isinya orang-orang berpendidikan tinggi, berpengalaman luas dan bersemangat yang awalnya anak muda piyik kayak kita? Wouldn’t that be awesome? Kalau salah satu rekan gue, Mas Yogi, di status Facebook-nya, “Luruskan niat dan teguhkan tekad karena ini lebih besar dari sekadar diri pribadi.”¬†Gue berharap tulisan gue bermanfaat ya, mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan. Pokoknya apapun pilihannya semoga bermanfaat ya buat orang banyak! Semoga kita semua diberkati untuk memberkati¬†‚̧

Are you religious?

About a month ago, I went on an impulsive solo day trip to Nusa Penida, Bali. ¬†I was in Bali for a 3 day training program that finished on Friday and my flight back home was scheduled on Saturday morning. I figured, why not make it Saturday night and spend the day somewhere. I was thinking of having some well deserved me time in a beach club in Seminyak or a nice infinity pool in Ubud. After doing some research (as in endless browsing on Instagram), I figured I’d go on a motorcycle day trip at Nusa Penida, a nearby island from Bali.

me & le travel buddy in Nusa Penida

I thought I’d be completely alone, well with my tour guide of course. To my surprise, there was another girl, also on the same solo and guided motorcycle day trip, a European tourist who has been in Bali solo travelling. ¬†Long story short, after passing some introductory small talk our conversation drifted to school, Indonesian snacks, and then spirituality.

There was one question that particularly got me stumped.

She asked me, “Are you religious?

Nobody has ever asked me this question before. Besides, I prefer not bringing up such a delicate topic especially with someone I just knew for 20 minutes. Normally, especially in our lovely country, you’d hear the quite classic (and rude) “What’s your religion?” question but asking “Are you religious?” triggered a different kind of response. At least, it made me think a bit instead of blurting out mindlessly that I’m a Catholic.

I paused a bit. Since I’m currently in a phase which my spirituality is limited to going to church every (other) Sunday and praying before flights. I almost never participate in church activities whatsoever. We were never church kids. I could go through weeks without going to church.

I answered quite sloppily, “Well I’m a Catholic and I go to mass, but I haven’t gone to church in weeks. I pray sometimes. I guess I can’t really say I’m religious.”

My understanding of being religious is being devout. Being pious. In the context of being a Catholic, I’d say that being a religious Catholic is, at least, praying every morning and night, going to mass every Sunday, and praying the rosary. Claiming to be religious, in my opinion, would be lying.

You often hear the saying, if you ever feel lucky it’s because of your mother’s prayers. In her spare time, my mother reads the bible literally everywhere, in the car, in a Starbucks, you name it. She does so with a highlighter in one hand to underline verses that leave a deep impression on her. One day, while gazing at her focused reading, the bitter truth hit me. My mother won’t be around forever. As selfish as this may sound, but who’s gonna pray for us then?

I’ve read somewhere that when it’s hard to pray, is when you have to pray the hardest. So here I am struggling to pray again. Praying again feels like reconnecting with an old and distant friend. It’s like an awkward dance: trying to remember the moves and matching them with the rhythm. Consistency is key and it’s not easy.

So here’s something to think about. Are you religious?

I took this picture on my trip to Mexico a couple of months ago. This is in the beautiful Basilica de Santa Maria de Guadalupe in Mexico City. Despite of not being so religious, coming to a Catholic church always feels like coming home.

Stop Me From Liking You

I hate it when I like someone, the highs are high, but the lows are low. A simple good morning text can make me giddy throughout the day, yet when you only read mine or reply coldly, it can make me cranky.

“Holy shit I think I’m starting to like him. What do I do? What if he doesn’t feel the same?” I tell my friend over coffee. My friend then tells me that maybe I’m just scared to get hurt again after my dark past of an unhealthy relationship.

Then after some careful analysis, it hit me. Perhaps¬†it’s not the problem of liking someone or not. It’s a matter of when. I hate it when I begin to like someone when it’s too early in the stage. It feels like jumping off a cliff without knowing for sure if there’s a safety net in the bottom or not.¬†Of all the guys why do I like you? What is it about uncertainty that is so alluring? Why was this feeling non-existent with the other guys who were shamelessly¬†and blatantly clear up front about their intentions? What is it about vagueness that is so tantalizing?¬†Is it the mind games of guessing and that sheer pleasure when your guesses prove to be correct?

That’s why I have deliberately installed a control valve to this flow of irrational feelings. ¬†I try diverting the flow of energy and attention elsewhere: to more useful things to get my mind off of you. I try so hard not to get happy when you say good morning in an emoji. Oppressing that feeling is effort, I tell you. Complete effort. Because being happy will lead to getting my hopes up. And getting my hopes up, creates a probability of getting really hurt when the outcome along the road doesn’t live up to what I have hoped for. It’s pretty much my self defense mechanism.

The thing is, this deliberate act of nullifying feelings has a side effect I have not anticipated: I now find it hard to actually like someone. So basically by trying to stop myself from liking A, I find it hard to even enjoy the presence of B, C, D, and E despite their efforts of approaching me, even after a date or two, or constant texting.

Does this make sense? Probably not. Because this is a product of a girl on PMS and going through a crisis and letting of steam. Oh man do I wish I could hop on a time machine to that moment in the photo above: just me, the beach, and my thoughts.

The Bruise

monicantik - bruise

You’re like the bruise on my thigh: I don’t know how the hell you appeared in my life and boom somehow you’re there. I notice you when I’m off guard, when I’m not busy with the mundane things in life, when I’m alone and vulnerable. I feel¬†your existence, lingering but only temporarily.

After a while I realize I no longer feel pain anymore when I apply pressure to the part where you used to reside. You left silently and swiftly, without showing any signs. Well there were signs. You faded away. You used to be significant but slowly you blurred into your surroundings. I was either too busy or too ignorant to notice. And then before I knew it, you’re gone. I no longer feel you. ¬†You’re no longer there.

You’re like the bruise on my thigh: you randomly enter my life and you quietly leave without me noticing you fade away on your way out.

But wait, perhaps I’m wrong.

You’re not like the bruise on my thigh.¬†I am.

Cara Gue Dapet Beasiswa LPDP

Beasiswa LPDP - monicantik

So as many of you may know, salah satu milestone penting yang gue targetkan di usia 20-something ini (selain menikah, meski single boleh dong berharap haha) adalah mendapatkan gelar Master dari program studi di Amerika Serikat. Setelah sekian lama menunda, akhirnya gue bergabung jadi pejuang LPDP, beasiswa paling populer di generasi milennial. Kenapa beasiswa ini cukup hits, terutama di tengah temen-temen angkatan gue, adalah karena dikenal sebagai beasiswa yang bukaannya bergulir terus dan semua di-cover, bahkan termasuk tunjangan anak-istri/suami kalau ikut nemenin ke luar negeri. ¬†So it’s safe to say that it is pretty¬†much a scholarship hunter’s dream.

I have always had the American dream to pursue graduate education in the US. Kenapa US? Selain karena gue pengen balik tinggal di US (dulu gue tinggal di US selama 7 tahun di masa kanak-kanak), gue amati cetakan US itu beda sama cetakan negara lain (gue kira gue doang yang merasa, ternyata temen-temen US grad school hunter lain juga berpikir begitu). Dari sekian banyak beasiswa yang ada, mulai dari beasiswa dari kantor (working in the government enables access to a government funded education right from the ministry I work in) sampai the famous Fullbright scholarship, gue memilih LPDP, bukan karena latah, tapi selain karena alasan yang gue sebutkan di atas, gue lihat LPDP akan jadi network yang oke banget, if not now, maybe in the next 15-20 years ketika para awardee ini memegang peranan penting di berbagai stakeholders.

Syukur kepada Tuhan, pada kesempatan pertama kalinya gue ikut seleksi beasiswa LPDP (tanpa memegang LoA) gue lolos dan jadi awardee.¬†Jadi gimana cara gue nyiapinnya? Nothing special to be honest, malah, in retrospect, gue termasuk gedebak-gedebuk, as in, cukup mepet-mepet nyiapinnya (that’s why I didn’t name this post as ‘Tips Mendapatkan Beasiswa LPDP’ karena gue merasa gak layak untuk membagikan tips hahaha). Sebenernya sederhana aja: cari informasi, ikuti petunjuknya, lengkapi tepat waktu. Kalau ada bingung-bingung, bisa nanya temen atau nanya gue juga boleh atau bisa juga langsung mengontak pihak LPDP, entah via telepon atau email, tenang aja pihak LPDP cukup sigap dalam merespons. Simpel kan?

Di sini gue gak akan menulis ulang syarat-syarat dan tahapannya karena semua itu bisa langsung lo peroleh di situs resmi LPDP. Di situ udah ada file-file PDF yang bisa didownload yang lengkap tentang syarat-syaratnya, dan berkas yang harus disiapin. Intinya sih harus proaktif. Sayangnya belum ada mailing list resmi yang bisa diikuti seperti yang ada di beberapa kampus yang rutin mengupdate info, jadi silahkan rajin-rajin cek situs resminya, apalagi untuk tahun 2017, sampai saat ini belum ada informasi pendaftaran dibuka, unlike tahun-tahun sebelumnya.

Step 1: Berburu Informasi, Atur Waktu, Buat Akun

Jadi hal pertama yang gue lakukan itu: berburu informasi terus gue catet dalam agenda gue, buat check list apa aja yang harus disiapin, dan deadline-deadline gue pasang di calendar di HP gue. Berburu informasi gue lakukan dengan mempelajari dokumen Panduan Pendaftaran Beasiswa, nanya-nanya temen-temen gue, baca-baca blog orang, sampe nonton video YouTube tentang LPDP. Nah setelah dapet gambaran apa aja yang bakal gue hadapi, gue atur waktu yang harus dilakukan buat persiapan. Gue tipe orang yang harus ngeliat timeline secara umum dulu biar ada bayangan range waktu gue siap-siap, terutama menyangkut persiapan berkas yang waktunya bisa lama kayak surat keterangan sehat, surat bebas narkoba, surat bebas TBC, sama SKCK. Rencana timeline juga penting buat yang udah kerja buat atur cuti/izin, kan harus diatur-atur tuh biar cuti/izin seminimal mungkin, kalo ada yang bisa dibarengin waktu buat dokumennya ya dibarengin. Nah setelah itu, secara sekarang apa-apa udah serba online, untuk LPDP pun dilakukan via online dengan buat akun buat upload-upload dokumen dan profil. Itu juga portal informasi, so I instantly bookmarked the URL on my laptop browser. Saat daftar LPDP di akun resmi, kita harus ngisi dengan jelas kita ngincer kampus apa, jurusan apa, di bidang apa, target intakenya kapan, dan udah pegang LoA atau belom.

Step 2: Siapin Berkas-Berkasnya, Kerjain Esainya, Submit Tepat Waktu

Kebetulan gue PNS, dan udah familiar sih sama dokumen-dokumen yang disyaratin kayak surat keterangan sehat, surat bebas narkoba sama SKCK. Kalau dokumen itu dikerjain secara paralel, amannya kasih waktu 2 minggu sih. Untuk LPDP, gue medical check up di RS Fatmawati karena udah pewe di situ, waktu CPNS dan pengangkatan PNS gue MCU di situ. Nah surat-surat persyaratan LPDP itu (surat sehat, narkoba, sama TBC) gak bisa diambil di hari yang sama, selisihnya kurang lebih 5-7 hari, dan tes TBC bisa dilakukan kalau hasil MCU udah keluar. Temen gue bilang ada RS yang bisa ngeluarin semuanya di hari yang sama, coba dicari-cari aja kalau emang pengennya yang cepet. Untuk SKCK sih cepet ya, gue nyampe Polres Jaksel itu siang-siang jam 11-an, jam 1-an udah beres. Oh iya, untuk SKCK sekarang udah gak perlu surat pengantar lurah, jadi langsung aja. Selain dokumen-dokumen itu LPDP juga minta skor IELTS/TOEFL. Kebetulan pas daftar LPDP gue udah ada skor IELTS yang masih fresh jadi gue pake itu aja. Untuk surat rekomendasi sama surat izin atasan, kebetulan gue udah komunikasiin niat gue untuk S2 ke atasan-atasan gue di kantor dari jauh-jauh hari dan hamdallaaah banget mereka sangat suportif, jadi untuk dokumen-dokumen itu persiapannya lancar. Untuk surat rekomendasi LPDP bentuknya formnya gitu, jadi tinggal diisi dan ditandatangan, terus di-scan dan upload ke akun.

Nah pendaftaran LPDP itu minta 3 esai. TIGA ESAI. Gue awalnya ngiranya itu pilih salah satu gitu ternyata 3 dong wkwkwk. Apa aja? Kontribusiku Bagi Indonesia, Sukses Terbesar Dalam Hidupku, dan Rencana Studi. Yang Rencana Studi mungkin bisa dibilang paling gampang ya karena itu bisa dari informasi yang di situs resmi kampus. Yang kedua pertama itu yang agak-agak butuh ilham. Ditambah lagi, gue merasa¬†bikin esai dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris itu beda banget wkwkwk. Gue dapet tips bagus banget dari temen gue yang udah dapet LPDP sebelom gue: dia bilang gini waktu itu. ‘Mon intinya¬†lo harus tau betul apa yang bisa membuat lo sampai di sini sekarang, ke depan lo mau apa dan apa yang harus lo lakuin buat sampe ke situ.‘ ¬†Basically kalimat ini emang basis gue¬†memulai proses persiapan S2 sih.¬†Di sini gue gak akan share esai gue tapi gue share flow ceritanya aja. Di esai Kontribusi gue cerita gue punya visi apa buat Indonesia, kontribusi gue lewat pekerjaan gue di kementerian, apa yang pengen gue lakukan buat membantu mencapai visi itu, perlunya peningkatan kompetensi buat gue bisa melakukan itu, dan peranan¬†studi di luar negeri buat peningkatan kompetensi. Ya intinya kan kita punya mimpi sekolah di luar negeri, kita harus meyakinkan ke sponsor kenapa kita worth it. Untuk yang sukses terbesar dalam hidupku gue cerita tentang pengalaman gue di tingkat akhir kuliah di mana di segala kesibukan yang gue ambil, gue lulus tepat waktu, bisa manage peranan leadership dengan baik, dan menang lomba. Di situ gue cerita tantangan apa yang gue temuin dan gimana gue mengatasi tantangan itu.

Untuk 3 esai itu gue bikin 3 draft, dan gue minta direview 2 temen gue yang awardee dan lagi kuliah di US dan Belanda. Feedback itu berguna banget, karena ya mungkin mata mereka segar jadi bisa dengan cepet notice kalau tulisan kita gak jelas atau kurang kuat.  Setelah yakin, chuuuusss upload semua dokumen yang diminta! Gue inget tahun sebelumnya pas temen-temen di geng gue daftar LPDP mereka ngeluh websitenya lemot banget pas hari terakhir pendaftaran, jadi buat antisipasi itu gue udah submit sebelum hari terakhir.

Step 3: Tunggu Pengumuman Seleksi Administrasi

Yap. Nunggu. Menunggu kepastian. I guess at this stage, you’re gonna find yourself checking your online account every time you open your laptop. Nah pengumuman seleksi administrasi cukup cepet. Pas gue ikut seleksi, jarak dari deadline submit berkas ke jadwal seleksi substansi itu kurang lebih 2 minggu. Jadwal kita dapet seleksi substansi dapetnya kapan itu keluarnya gak langsung pas diumumin lolos jadi sabar dan stand by terus aja.

Step 4: Siapin Seleksi Substansi, Give It All You Got

Seleksi substansi itu terdiri dari: wawancara (2 dosen, 1 psikolog), leaderless group discussion (LGD), sama tulis esai on the spot. Karena gue pilih tes di Jakarta, ternyata seleksi substansi bertempat di STAN Bintaro, deket sama rumah gue. Kalau lo udah sering ikut tes kerja, sebenernya gak jauh beda sih apalagi untuk LGD sama interview. Untuk interview balik lagi ke: lo tau betul apa yang bisa membuat lo sampai di sini sekarang,  ke depan lo mau apa dan apa yang harus lo lakuin buat sampe kesitu. Kalau kata temen gue, be unbreakable. Gak bisa dipatahin. Jadi gue suka simulasi interview dalam kepala gue, buat ngetes jawaban gue masih bisa di-rebutt apa gak. Gue pelajarin lagi esai gue dan pelajarin tentang program studi yang gue incer: kurikulumnya, biayanya, rangkingnya (rangking sekolah itu penting buat LPDP). Gue juga baca-baca dari blog orang, di google udah banyak post yang cerita lengkap tentang pertanyaan yang keluar pas interview. Gue inget banget pas lagi duduk nunggu dipanggil gue liat kiri kanan, banyak yang udah ngetik pertanyaan-pertanyaan dan jawaban terus diprint terus dipelajari sambil nunggu dipanggil. Niat abis. Gue merasa udah cukup pede sama jawaban yang udah gue siapin di otak gue dan malah merasa lebih leluasa buat gue kembangin sendiri sambil jalan.

Begitu dipanggil masuk, gadget dicek dan dipastiin dalam keadaan mati. Ruangannya bukan bilik-bilik kecil gitu tapi aula gede, isinya meja-meja disusun. Jadi kita bisa liat interviewer dan interviewee lain. Begitu gue masuk, salah satu interviewer dosen langsung mempersilahkan gue untuk cerita. As expected, scope yang diminta untuk gue ceritakan itu: rencana ke depan, kenapa pilih program itu, cerita pekerjaan yang kemudian berkembang jadi pertanyaan lain seperti kenapa pilih LPDP, statusnya PNS/CPNS, pendapat tentang dunia migas saat ini. I think 2 questions that I remember the most are: ‘You’re smart and you have excellent English. You can secure funding from other sources. Why LPDP?’ and ‘Your school seems expensive. If LPDP asks you to change the campus/country, would you want that?’. ¬†Pertanyaan pertama gue jawab dengan alasan yang udah gue ceritain di atas. Kalau untuk yang kedua agak mengejutkan karena gak gue antisipasi, jadi secara spontan gue jawab dengan persisten kalau gue punya American dream and I will do whatever it takes to pursue it. Untuk pertanyaan psikolog gue ditanya pengalaman menyelesaikan konflik di tempat kerja. Overall interview-nya gak tegang. Kalau denger cerita dari orang lain ada yang diminta nyanyi, ada yang ditanya pertanyaan personal (udah punya pacar, kapan mau menikah). Oya, jangan lupa kalau kampus yang diincer itu di luar negeri, interviewnya dalam bahasa Inggris.

Untuk LGD….ya standarlah kayak FGD tes nyari kerja, ini juga dalam bahasa Inggris, gue denger buat yang ngincer program dalam negeri itu dalam bahasa Indonesia. Kan leaderless, dari situ clue-nya udah jelas kalau diskusinya tanpa peranan leader. Begitu semua udah duduk, dikasih topik di selembar kertas. Waktu gue tes topiknya Brain Drain, dikasih waktu mikir dan oret-oret, terus mulai deh LGD-nya. Strategi gue di LGD biasanya gue gak dominan tapi tengah-tengah gitu. Gue dengerin dulu 2-3¬†orang ngomong, nah begitu ada celah, gue lempar ide¬†segar, perkuat dengan contoh/fakta dan gue hubungkan dengan poin-poin yang udah disampein di forum. Kira-kira gitu sih. ¬†Begitu udah bergulir, gue lanjut lagi dengerin terus kalau misalnya ada yang bisa gue lengkapi atau gue connect idenya ya gue ngomong lagi. Be clear and confident.

Tes menulis esai on the spot itu awalnya dikasih pilihan 2 topik dan disuruh nulis tentang salah satu. Topiknya kayak narasi pendek gitu. Waktu itu tentang anggaran pendidikan sama tarif jalan tol. Trust me, bisa dinalar kok. Somehow, untuk tes yang ini mengingatkan gue pada tes writing GRE, yang esai kedua di mana kita dikasih narasi dan disuruh kritisi. Kebetulan pas gue seleksi substansi, gue dapet jadwal satu hari jadi gue dateng pagi, sore-sore jam 4-an gitu udah kelar. Ada juga yang 2 hari, jadi beda-beda. Oiya kalau dapet tesnya di STAN ada baiknya bawa bekal karena agak rempong kalau mau beli makan (gak disediain makan siang, cuma kue-kue).

Step 5: Pasrah, Berdoa, Tunggu Pengumuman

Nah kalau udah lewatin 1-4, selebihnya udah Divine Intervention aja gak sih? Waktu gue seleksi, jarak waktu¬†dari seleksi substansi sampe pengumuman itu 3 minggu. Melegakan juga sih karena gue bisa ngalihin fokus gue ke hal lain.¬†Ya katanya sih kalau memang rejeki lo, it’s yours, if it’s not ya udah, belom aja kali.

Oke jadi kurang lebih begitu step-step yang gue lakukan untuk mempersiapkan LPDP. Saat ini gue lagi menunggu pengumuman PK dan proses berburu LoA, jadi ya kelar satu, lanjut kerjain yang lain wkwk.
Semoga tulisan gue bisa membantu ya, and if you still have questions, feel free to drop a comment below!

Loving is Like Flying

monicantik - galau

Loving is like flying.

No matter how many times you do it, it never gets easier.

You’ve done it several times but every time turbulence hits and the ride gets scary, worst case scenarios race through your mind. You imagine the horrible moment of falling to your death. You imagine the faces of your loved ones, safe and sound in the warmth of home, sweet home. Your grip on the tray table tightens as you glance at your watch every 5 minutes. You find a song on your playlist that you consider soothing, preferably a love song. You turn up the volume and focus your attention to the melody. You get so focused that you can distinguish the sound of the bass, guitar, drum, and piano. You silently pray, asking God to forgive your sins and make the plane stop shaking. You imagine God with his giant hands holding the plane through the pitch black night sky, like a little kid playing with a toy airplane. You recite the Hail Mary over and over again. There’s something about the Virgin Mary that never ceases to comfort you. And then you¬†swear you’ll never do it again. You’ll never get on a plane again. It’s too much to handle for your fainthearted soul.

But after a while when the chance of flying again comes, you say yes. Somehow you’ve managed to forget your fear and the risks of crashing. You’ve survived before, might as well do it again. You willingly board that plane again, believing the journey that lies ahead will be worth the risk you’re taking.
– GA669 TRK-CGK; 29,000 feet above sea level

Twisted Logic

monicantik - st regis rome hotel

Sometimes you tell someone to never call you again and then the phone rings and you hope it’s them, it’s the most twisted logic of all time.

Hello there. How are you? Are you reading this? Do you still think about me after all this time? After the mess we’ve made? After the pain you’ve caused and the countless messages from my friends (and family) to stay away from you? After I ran away?

It’s been 9 months since we met and talked for the last time. I blocked every possible avenue for you to reach me. I even changed my number. Finally after years of going back and forth, I did it. I made my grand exit.

Thank you though. This time you let me walk away in peace. Thank you for that.

It’s weird. I’ve been thinking of you these past few days. I saw a guy on TV that has a striking resemblance to you. The way the corners of his eyes wrinkle when he smiles, well it’s exactly like yours.

Are you okay? I hope you are.

I sincerely hope you found a replacement. I pray everyday God sends you one. I haven’t found mine yet, perhaps God doesn’t think I’m ready yet. Well, I feel ready, but I don’t know… maybe I have to open up more? The time I spent with you changed me. I am more quiet now, more reserved. There was a time that I felt I was becoming¬†numb.

Whatever, it’s probably just me overthinking, as usual.

45 Minute Getaway

monicantik - Sundays Beach Club

I don’t need to teleport to Bali, Paris, or Moscow for a quick getaway. Hearing my phone ring and seeing your name on my phone screen, calling to say hi and how my day was is the equivalent of a getaway. To me, a¬†45 minute, 15 minute, or even a 1 hour call from you is equivalent to a getaway.

The warm hello coming from the other end of the call emanates the excitement of boarding a plane to the getaway destination.

Making you laugh radiates the same happiness as feeling warm Uluwatu sand between my toes and the cool water splashing against my skin.

Hearing your stories reminds me of the crisp air of Budapest in winter time: fresh and soothing.

The comfortable pauses of silence in between are delicious. Silence does not bother us. Hearing you breathe (not in a creepy sense) reminds me of taking a night stroll in Vienna.

I look forward to your call the same way I look forward to my annual vacation.

Can we savor this while it lasts?

Can this be preserved and be saved in a capsule, to open from time to time?